Memulai Kembali

Memulai kembali selalu tidak mudah. Setelah libur sebulan saat Ramadhan saya berhenti berkegiatan luar ruang. Menggeser prioritas ke ibadah. Semoga saja benar seperti itu. Karena batas saya hanya berusaha, Hasil biarlah tetap menjadi hak Sang Kuasa.

Minggu ini saya coba untuk mengumpulkan semangat menikmati luar ruangan. Hiking bersama tetangga dan anak-anaknya. Kebetulan kali ini yang ikut cowok semua. Para ibu berguguran sesaat sebelum berangkat. Dengan bermacam alasannya.

Ya sudah biarlah. Toh tantangan terberat dalam hiking berkelompok bukan itu. Memahami kondisi psikologi masing-masing personel yang ikut itu yang susah. Setidaknya harus mengenal dulu hingga beberapa kali kesempatan. Mengumpulkan penilaian-penilaian sementara hingga mendapatkan nilai yang konsisten.

Menurut saya ini tahapan ini penting agar dapat menilai kondisi masing-masing. Memahami apa yang terjadi dan berusaha berpikir jernih. Untuk kemudian membantu meningkatkan semangat jika ada anggota tim yang sedang mencapai kelelahan.

Menyeimbangkan kondisi dengan tetap berusaha mencapai tujuan perjalanan menjadi hal yang tidak mudah. Anak-anak dengan mood swing yang cepat sekali berubah perlu ditangani dengan akal sehat. Walau kita sendiri sedang capek. Dua hal yang sering berseberangan.

Maka sebuah perjalanan merupakan sarana belajar. Mengenal diri dan mengenal anggota tim yang lain. Saya mulai belajar lagi. Menapaki jalanan aspal di remote area pinggiran Kota Bandung yang sedang waspada karena kapasitas layanan medis sedang beranjak penuh.

Tanjakan dan turunan yang tidak mulus. Tanah berlumpur di beberapa bagian. Untungnya dengan udara yang jernih. Jauh dari kendaraan. Dan jauh juga dari tempat sarapan.

Yang satu ini sedang sangat didambakan oleh 2 anak yang ikut. Rupanya mereka menyangka perjalanan kali ini akan berakhir di sebuah cafe di tengah kebon. Padahal kami hanya lewat didepannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *