TOA Masjid

Dahulu sebelum jaman sosial media, kabar berjalan merambat pelan. Dari tulisan ke meja redaksi lalu ke media cetak disambung ke tempat distribusi yang berantai. Baru kemudian setelah beberapa jam sampai ke warung kopi di sudut kampung saya.

Kemudian dari mata salah satu pengunjung warung itu berpindah lewat mulutnya ke telinga yang lain dan yang lainnya lagi. Betapa lambatnya dan butuh waktu untuk melakukan pengecekan apa yang masuk di telinga kanan dan kiri.

Selain warung kopi, TOA masjid kampung kami jadi media ampuh untuk penyebaran informasi selain adzan dan lantunan murotal dari kaset yang sudah pasti waktunya. Yang insidental biasanya kabar duka setelah diyakinkan oleh takmir dan tetangga sekitar lokasi kejadian. Tapi itu jarang.

Maka ketika tiba-tiba TOA masjid mulai bersuara bukan diwaktu adzan, selalu hati kami bergetar. Segala macam kegiatan terhenti sejenak untuk memberikan waktu ke telinga agar fokus. Giliran siapa yang dipanggil Sang Khalik? Begitu otomatis respon kebanyakan kami padahal suaranya baru salam pembuka.

Begitu jarangnya berbunyi diwaktu yang tidak biasa. Sekalinya berbunyi, banyak orang dibuat terhenyak. Efektif untuk penyampaian pesan. Langsung menancap ke hati. Buat saya, efek ini masih terasa hingga sekarang, walau jaman sudah moderen.

Beberapa minggu lalu hampir setiap hari TOA masjid di sekitar perumahan saya bergantian menyuarakan lelayu. Istilah dalam bahasa Jawa untuk berita duka. Berbarengan waktunya dengan masa pembatasan kegiatan masyarakat untuk pencegahan penyebaran pandemi.

Kemarin dari arah sebelah Selatan. Besoknya dari Utara. Lusanya dari Timur. Disusul dari Barat di hari berikutnya. Berpindah-pindah hampir 2 minggu lamanya.

Untungnya sudah 2 minggu ini mulai reda. Berita-berita itu tidak lagi sering terdengar disekitar saya. Semoga ditempat lain juga sama. Apa ini pertanda pandemi akan segera berakhir ?

Semoga …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *