Buang Sampah, Sembarangan !

Saya tertawa geli membaca berita yang satu ini. Ada orang yang membuang peti mati kosong ke sungai Bello Kabupaten Soppeng Sulawesi Selatan (Beritanya di Kompas.com).

Menurut keterangan, karena ‘penghuninya’ sudah dikuburkan lama, maka peti itu harus disingkirkan. Kok ya kebetulan sungai jadi pilihan.

Cuma mungkin pelakunya lupa, publik belum terbiasa melihat peti mati hanyut. Dan jika hanyutnya dalam keadaan tertutup, tentu mengidentifikasi kosong atau tidak secara visual cukup sulit.

Continue reading “Buang Sampah, Sembarangan !”

Hindari Konflik Kepentingan

Rasanya tidak ada yang lebih berat daripada konflik kepentingan. Saya lebih memilih untuk menghindari kondisi-kondisi tersebut. Biarpun dikatain bodoh karena tidak dapat memanfaatkan peluang.

Misalnya seorang ketua panitia lomba anak-anak yang mana anaknya sendiri juga terdaftar sebagai pesertanya. Sebagai ketua punya peluang untuk mengarahkan agar segala perangkat lomba meringankan salah satu peserta.

Pada kondisi tertentu bukan hanya memanfaatkan, tapi dapat menciptakan peluang. Contohnya ketua panitia lomba tadi bisa saja memberikan sinyal-sinyal yang dapat diartikan bahwa dapat membantu salah satu peserta lomba.

Continue reading “Hindari Konflik Kepentingan”

Makhluk Pencabut Nyawa

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang yang bertugas memulai tembakan serangan ke mobil yang isinya beberapa orang. Bukan tembakan biasa, tapi rudal.

Itulah serangan yang mematikan Qasem Soleimani oleh Amerika melalui pesawat remote control, drone. Panaslah hubungan Iran – Amerika. Yang sebetulnya tidak punya hubungan diplomatis.

Saya juga tidak berhasil membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang yang menembakkan rudal dan ternyata mengenai pesawat terbang sipil. Tidak ada yang selamat, 176 orang meninggal dunia. Kanada panas, yang lain juga ikutan. Amerika mungkin senyum-senyum.

Yang pertama sengaja, karena memang pihak pelaku memburu buruannya. Yang kedua salah sasaran karena pesawat terbang sipil itu dianggap pesawat Amerika. Teman dari yang telah mencabut nyawa pimpinan pasukan tertinggi Iran beberapa hari sebelumya.

Dunia menghangat. Ada yang khawatir akan terjadi perang dunia ke 3. Yang lebih lebay lagi ada yang mengkaitkan dengan isu kiamat tahun 2020 segera akan dimulai. Mmpppfff….

Tapi biarlah jika memang kekacauan dunia akan terjadi. Saya dan Anda semua sudah bisa tenang sekarang. Sudah ada Keraton Agung Sejagat. Biar pertikaian Amerika – Iran diurusnya.

Saya mau mengurus diri dulu. Karena tanpa sadar saya juga seperti kedua negara itu. Pencabut nyawa! Kepada nyamuk. Lewat, geprek! Baik pakai tangan atau pakai sapu lidi.

Agak modern dikit, pakai raket setrum. Kalau lagi males pakai semprotan racun nyamuk. Obat nyamuk cuma untuk nyamuk yang sakit agar sehat. Haha…

Semprotan yang sama juga sering saya gunakan kepada kecoa. Tanpa belas kasihan. Tanpa interograsi lebih dahulu. Tanpa penyelidikan kesalahannya apa sehingga pantas mati. Kejamlah pokoknya.

Nyamuk dan kecoa adalah 2 hal yang menakutkan bagi Saya. Yang satu bikin tidur tidak nyenyak, sisanya bikin geli selain bau. Ketakutan membuat saya tidak lagi logis. Ketakutan membuat saya menjadi penyerang. Bahkan pencabut nyawa. Duh!

Tapi untuk Iran dan Amerika, saya tidak tahu siapa yang kecoa siapa yang takut kepadanya. Sehingga beraksi seperti itu.

Kenal Garuda

Ada tiga garuda yang saya kenal sampai sekarang. Semuanya menarik untuk diceritakan. Ihwal perkenalan saya dengan Garuda.

Yang pertama adalah Garuda Pancasila lambang negara kita. Pelajaran pertama yang harus saya hafalkan dalam rangka belajar Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Khususnya sebagai murid SD inpres.

Pada waktu itu Indonesia memang harus punya lambang negara karena Saya lihat negara lain punya. Lambang negaranyapun harus binatang yang besar, gagah, dan tidak terkalahkan.

Burung Garuda adalah pilihan yang tepat. Seekor burung yang berkalung tameng dan bertali rantai baja. Sayap, paruh dan cakar yang besar. Kombinasi pertahanan yang kuat dan penyerang yang hebat.

Keyakinan saya ini semakin kuat ketika suatu saat Ayah membawa oleh-oleh patung ukiran kayu dari Bali. Patung itu diletakkan di pojok ruang tamu. Tingginya sekitar 50 cm saja. Itulah perkenalan saya dengan Garuda yang kedua kali.

Kata Ayah itu adalah ukiran patung Garuda Wisnu Kencana. Berbentuk seekor burung yang sedang dikendarai seorang lelaki gagah. Sayapnya mengembang, cakarnya mencengkeram ular. Saya merasa ular itu jahat.

Lelaki yang mampu menunggangi burung yang besar pastilah orang sakti. Bukan orang sembarangan. Menurut kisah, dia adalah Dewa Wisnu. Garuda memang menjadi kendaraannya.

Tapi saya tidak tahu lagi dimana sekarang patung ukir itu berada. Patung yang pernah saya patahkan salah satu ujung sayapnya.

Garuda yang ketiga saya kenal adalah yang mengangkasa di langit Indonesia. Burung besi. Beberapa kali saya punya kesempatan menaikinya. Airline kebanggaan Indonesia.

Pesawat Garuda Indonesia adalah kendaraan yang tergagah di negeri ini. Begitu pandangan saya. Nama besar Indonesia tersemat disana. Dibawa terbang menghampiri banyak negara di dunia.

Kendaraan tergagah adalah kendaraan bagi orang-orang yang besar dan sukses. Seperti Dewa Wisnu yang mengendarai Garuda. Mungkin ini juga yang mendasari perusahaan Garuda Indonesia mengkhususkan diri melayani segmen menengah atas.

Bahwa pelanggannya adalah orang-orang hebat yang harus di service dengan memuaskan. Diberikan pengalaman yang berbeda jika dibandingkan terbang dengan airline lain. Dijaminkan keamanan kendaraan dan bawang bawaannya. Serta ketepatan waktunya.

Tapi sayang, Garuda sedang diterpa badai. Yang sebetulnya saya yakin tanda-tanda badainya sudah bisa dikenali jauh sebelumnya. Perusahaan sudah bisa melakukan antisipasi. Seharusnya.

Tapi tak tahulah. Saya hanya kenal Garuda. Tidak paham. Setidak paham saya dengan Kacang Garuda. Yang dalam bungkusnya kebanyakan kacang kulit berbuah kecil. Padahal Garuda adalah nama yang besar.

Setidaknya buat saya.

Sumber gambar : https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/goresan-tinta-dullah-sebagai-penyempurna-lambang-garuda/

Guru-Guruku

Sudah sewajarnya jika Hari Guru menjadi penghargaan tertinggi buat orang-orang di negeri ini yang mengabdikan diri mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya. 

Bahkan mungkin kurang, mengingat tugas dan efek yang mengikutinya kemudian. Bagi diri murid, bagi orang tuanya, bagi keluarganya, bagi kampungnya, bagi desanya, bagi kotanya dan bagi bangsanya.

Ini jika guru yang dimaksud adalah seseorang, lembaga, ataupun profesi. Maka tepat kiranya yang muncul adalah bapak ibu guru yang telah mengajar ketika sekolah dulu. Eh, dosen masuk dalam sebutan ini nggak ya?

Jika guru yang dimaksudkan adalah fungsi mengajarkan sesuatu sehingga kita bisa mendapatkan pengetahuan baru (belajar) maka yang muncul lebih banyak. Bukan hanya siapa tapi juga apa.

Karena belajar tidak berbatas. Selama hidup. Kapan saja, dimana saja, dari siapa atau apa saja. Apalagi teknologi memudahkannya.

Saya bisa tahu bagaimana kehidupan kota-kota modern di Cina lewat channel National Geographic. Anak saya bisa belajar menganalisa teknik memanah dari rekaman-rekaman video di Youtube channel World Archery. Sementara ibunya meracik infused water dari panduan yang dipasang instagram kawannya.

Bahkan saya bisa belajar banyak dari kematian! Saya menemuinya pagi tadi. Seorang kawan berpulang. Menyisakan ketabahan luar biasa dari orang-orang dekatnya.

Di hari guru ini saya menetapkan hati untuk merasakan syukur tidak hanya dari seseorang namun juga semuanya. Semua yang menjadi penyebab bertambahnya pengetahuan.  Dan tentu saja Dzat Yang Maha Tahu.

Juga dari si Micil. Kucing manja yang jarang mandi. Yang membuat saya tahu berapa kocek yang harus disediakan untuknya setiap bulan.

Radar Hidup

Hidup ini komplek. Gabungan dari variabel intelektual, emosional, dan spiritual menyusun perilaku.

Idealnya adalah ketiganya harus dikedepankan bersama-sama. Tapi bukan untuk saling jago, melainkan untuk digunakan secara harmonis.

Membiasakan ketiganya berjalan bersama susahnya bukan main. Di negara kita intelektual dibangun di sekolah-sekolah.

Sekarang ini sudah banyak sekolah yang menambahkan dengan emosional dan spiritual.

Agar anak menjadi seimbang. Agar remaja menjadi stabil. Agar pemuda menjadi pembawa kebaikan bagi semua orang dan lingkungannya.

Apa jadinya jika intelektual, emosional, dan spiritual berjalan masing-masing ? Terlalu pintar atau terlalu mudah terharu atau terlalu mudah fanatik.

Saya takut itu terjadi pada diri, istri, keluarga, dan anak. Yang terakhir ini penting bagi saya.

Saya ingin anak saya bisa memainkannya harmonis. Sanggup memahami kapan waktu untuk menggunakan intelektual atau emosional, atau spiritual.

Atau malah ketiganya digunakan bersama namun dengan kombinasi mana yang harus lebih besar, sedang, dan kecil saja.

Kepala saya langsung membayangkan tampilan grafik radar dengan tiga variabel tersebut.

Dengan memahaminya saya berharap tidak ada lagi orang tua (apalagi berumur hampir 90 tahun) yang mendapat perlakuan tidak sopan dari generasi mudanya —Jangan pernah meniru!.

Seperti yang terjadi di televisi beberapa waktu lalu. Oleh publik figur. Yang katanya wakil rakyat. Yang katanya dari partai besar pemenang pemilu kemarin.

Untungnya saya bukan wakil rakyat itu.

Sumber gambar: Freepik.com

Merasa Hidupmu Sulit, Coba Lihat Dia

Namanya Angga (11), anak pemulung yang sempat disangka meninggal karena kelaparan karena tidak merespon ketika dipanggil-panggil. Tidak lama videonya menyebar. Viral. Sayapun jadi latah menuliskannya. Dari media massa didapat informasi bahwa dia telah meninggalkan rumahnya sejak dua hari sebelum lebaran (Kompas).

Saya yakin betapa pedihnya hati orang tua ketika mendapati anaknya tidak kembali kerumah. Apalagi sampai hampir tiga bulan. Saya tidak tahu bagaimana kedua orang tua Angga bertahan menghadapi kondisi tersebut.

Apalagi saat lebaran. Momen dimana umumnya keluarga memilih untuk berkumpul. Merayakan kegembiraan. Merayakan kemenangan setelah berhasil menyelesaikan puasa sebulan. Coba saja simulasikan kondisi itu pada diri kita masing-masing.

Makin hancur hati orang tuanya ketika tiba-tiba setelah sekian bulan muncul kabar anaknya ditemukan meninggal dunia. Walau kemudian diketahui itu tidak benar. Tapi tetap saja hati orang tua sempat hancur.

Saya tidak akan kuat menghadapinya. Anak pergi mabit di sekolah saja sudah kangennya minta ampun. Sungguh berharap tidak ingin terjadi pada Kami sekeluarga. Semoga Allah mengabulkan.

Namun kabar ini membuka mata kita bersama. Ada seorang anak sebelas tahun bukanlah usia pekerja. Mereka seharusnya bermain. Seharusnya duduk di kelas 4 sekolah dasar. Namun kondisi berkata lain. Angga harus memulung untuk mencari tambahan biaya hidup. Itulah jalan ceritanya. Dan cerita keluarganya.

Ada orang tua yang kehilangan anggota keluarganya. Anaknya. Tanpa kabar jelas. Di era komunikasi dan informasi yang mudah didapat ini. Itulah jalan ceritanya. Dan cerita keluarganya.

Lalu jika masih mengeluh bahwa hidup ini sulit, pasti ada yang salah dengan cara bersyukur saya. Cara memandang hidup. Cara memandang persoalan.

Saya berharap tidak ada lagi keluarga yang kehilangan anaknya. Ataupun anggota keluarganya. Tidak ada lagi keluarga yang berpisah-pisah. Pun tidak kesulitan hidup. Semoga Allah meridloi.