TV Umum Ibu Kos

Di sekitar akhir tahun 90 sampai awal 2000an fasilitas kos paling mewah adalah telepon umum. Telepon yang bisa dipakai oleh penghuni kos untuk menerima saja.

Fasilitas yang agak lazim adalah TV umum. Boleh dihidupkan dan ditonton oleh siapa saja. Anak maupun ibu kos dan keluarganya.

Jika anak kos nonton bersamaan dengan keluarga ibu kos, kebebasan memilih channel akan sedikit hilang. Sebagai anak kos yang sopan –tampil sopan sudah sewajarnya menyerahkan remot ke tuan rumah.

Jika pilihan ibu jatuh pada channel sinetron, kami anak kos ikutan ber melow ria. Jika siaran berita, kami ikutan jadi seperti pemikir negara. Tapi jika kebetulan siaran sedang tidak sesuai selera, ya sudah ditinggal pergi saja.

Youtube masih belum ada pada tahun-tahun itu. Cewek-cewek joged di Tik Tok juga tidak ada. Malah mungkin merekanya juga belum lahir. Seperti Instagram dan Facebook, masih di angan-angan penciptanya.

Continue reading “TV Umum Ibu Kos”

Makan Pakai Paper Box Yang Mulai Familiar Karena Covid 19

Tapi untuk menjadi familiar tidak harus lewat pandemi.

Makan nasi goreng pakai paper pack sepertinya akan mulai familiar. Sejak pandemi cafe murah meriah yang terkenal tempat saya makan ini menggunakan alat makan sekali pakai.

Sendok logam diganti dengan sendok plastik. Dikemas dalam satu sachet dengan tissue. Gelas dan cangkir berganti dengan paper cup, piring menjadi paper box.

Tapi saya kurang nyaman dengan paper boxnya. Kali ini isinya nasi goreng. Saya merasa seperti makan pakai kontainer. Untuk menyendok harus melongok dalam.

Continue reading “Makan Pakai Paper Box Yang Mulai Familiar Karena Covid 19”

Belajar Dari Panggung Jalanan Sepanjang 7 Kilometer

Sesekali WFO dimasa WFH ini membuat saya melihat perjalanan ke kantor dengan berbeda. Tak lagi membosankan. Saya malah merasa seperti mendapatkan pertunjukan langsung dengan panggung sepanjang 7 kilometer. Itulah jarak rumah saya ke kantor.

Dulu saat setiap hari berangkat dari rumah, rutinitas di pom bensin nampak seperti biasa. Konsumen datang, antri, lalu dilayani. Petugas melayani setelah sebelumnya memasukkan harga beli yang dipesan konsumen, menerima pembayaran, memberikan kembalian jika ada, dan mengucapkan terima kasih.

Ternyata, panjangnya antrian akan lebih pendek jika petugas yang melayani ber baju putih bawahan hitam. Dia pegawai baru yang sedang dalam training. Rupa-rupanya konsumen mempertimbangkan hal ini dalam memilih antrian.

Continue reading “Belajar Dari Panggung Jalanan Sepanjang 7 Kilometer”

Kucing Tiga

Saya merasa bersalah dengan ketiga kucing kami. Mereka sekeluarga awalnya berdelapan. Bapak, Ibu, dengan 6 anak. Yang 5 ekor sudah diadopsi –semoga mereka sehat.

Tersisa 3 sudah berkandang masing-masing. Hari-harinya lebih banyak disana. Makan dan tidur. Si anak suka mengeong saat sendirian.

Mendengarnya berkali-kali sering membuat saya merasa dia sedang menyampaikan sesuatu. Mengingat usianya yang baru 6 bulan.

Continue reading “Kucing Tiga”

Orang-Orang Yang Menulis

Saya kagum dengan beberapa orang rajin menulis. Mereka bisa menyiapkan waktu untuk menyusun huruf demi huruf menjadi bermakna. Mengalirkan isi hatinya kepada setiap huruf untuk bisa disampaikan ke pembaca.

Saya pun kagum dengan mereka yang walaupun sudah menulis bertahun-tahun tapi tetap mampu seperti itu bahkan lebih. Mungkin mereka adalah penulis atau orang yang konsisten.

Pun saya juga kagum dengan orang-orang yang sesekali saja menulis karena kesibukannya tetapi mampu menulis dengan baik. Tulisannya menjelaskan topik dengan gamblang semudah mengajarkan ABC kepada anak kecil.

Continue reading “Orang-Orang Yang Menulis”

Mimpi Damai Kota Kecil

Jam handphone saya baru menunjukkan pukul 20 tapi jalanan sudah lebih banyak gelap. Lampu tempat-tempat publik sudah banyak padam. Tanda mereka sudah mengakhiri layanannya.

Istri saya sempat berkomentar seperti sedang kemalaman di jalan. Saya tahu, dia sedang rindu mudik. Membelah malam melewati belasan kota kearah pulau Jawa bagian timur.

Padahal kami cuma membelah kota ini dengan bermobil. Mengobati kangen melihat dunia luar rumah. Kebetulan istri rehat sejenak, tidak menyalakan kompor malam ini.

Jalanan sepi sungguh kontras dengan padatnya lalu lintas 3 bulan lalu. Saat pandemi belum ditetapkan.

Continue reading “Mimpi Damai Kota Kecil”

Marhaban Ya Ramadhan 1441H

Alhamdulillah bertemu dengan Ramadhan lagi. Tepatnya dipertemukan. Karena sebenarnya bukan kita yang menyebabkan itu. Ada Sang Maha yang mengijinkan saya dan Anda yang sedang membaca ini sekali lagi menjalani Ramadhan.

Namun kali ini spesial. Ditengah pandemi. Ibadahnya pun jadi spesial. Tidak bisa berjamaah di masjid. Tidak bisa bukan bersama di satu lokasi. Kebiasaan-kebiasaan sebelumnya banyak yang hilang. Benar-benar spesial.

Tetangga saya sampai merasa ada yang hilang menyambut bulan pernuh berkah kali ini. Saya tahu itu karena kekangenannya terhadap Ramadhan yang disambut meriah.

Apa boleh buat, kondisinya memang tidak memungkinkan. Di seluruh dunia menahan diri. Belajar beradaptasi terhadap kehadiran makhluk Allah yang lain, Corona.

Continue reading “Marhaban Ya Ramadhan 1441H”

Disemprot Atau Tidak ?

Apa saja bisa jadi polemik. Terlebih di masa kini. Setuju dan tidak setuju adalah hal biasa. Seharusnya begitu. Social media mempercepat penyebarannya. Memperbanyak pesertanya. semakin kencang berisiknya.

Disemprot atau tidak, itu yang jadi perdebatan di komplek saya. Group WA riuh saling kirim referensi perlu atau tidaknya penyemprotan lingkungan dengan desinfektan dalam rangka mengurangi penyebaran virus Corona.

Yang setuju menggangap penyemprotan dapat mengurangi potensi penyebaran karena virus dapat bisa mati. Tepatnya diharapkan mati. Penyemprotan kabut desinfektan ini biasa digunakan di industri peternakan maupun makanan. Begitu kata satu tetangga saya. Dia memang banyak berkecimpung dikeduanya, sebagai pengusaha.

Di sisi yang lain, beberapa orang menggunakan jarinya untuk meneruskan screenshoot sebuah artikel yang menyatakan penyemprotan tidak efektif untuk membunuh virus Corona yang gampang menyebar ini. Sudah, itu saja. Usulannya hanya social distancing. yang sebenarnya sudah dijalankan bersama di komplek.

Continue reading “Disemprot Atau Tidak ?”

Optimisme Corona

Gemparnya virus Corona sudah sedunia. Tercatat 109 negara yang sudah melaporkan warganya terserang. Ini berarti 45,23% dari total negara yang ada di dunia atau 56,47% negara anggota PBB.

China, Korea Selatan, Italia, dan Iran sudah mengkonfirmasi lebih dari 5000 kasus di negaranya. Yang disebut pertama malah sudah lebih dari 80 ribu. Karena dari salah satu provinsinya virus ini dikabarkan berasal. Yaitu Provinsi Hubei dengan ibukota Wuhan.

Bersyukur karena sampai saat ini —Saya menulis ini— Indonesia hanya ada 6 kasus. Beberapa minggu yang lalu banyak pihak meragukan jika di Indonesia tidak ada kasus ini. Mengingat begitu luas wilayah, banyak penduduk, dan lalu lintas keluar masuknya.

Yang menarik buat saya adalah gegap gempitanya kabar tentang virus ini. Hampir setiap hari dikabarkan jumlah total penderitanya. Di TV dan media online. Bahkan kalau perlu jumlah total sedunianya. Angkanya tentu besar. Efeknya sangat kuat.

Panic buying terjadi. Ketakutan menyusup ke aliran darah paling dalam. Masker habis. Hand Sanitizer lenyap di pasar. Mie instan dikabarkan lebih laris dari biasanya. Mungkin untuk stok jika diberlakukan kondisi darurat.

Saya jadi teringat dokumentasi National Geographic beberapa tahun lalu yang mengulas komunitas orang-orang yang percaya bahwa hari akhir sudah dekat. Mereka harus mempersiapkan diri dengan life support berupa makanan, minuman, dan survival skill.

Akankah terjadi di Indonesia ? Saya berharap tidak! Allah masih melindungi kita. Selama masih ada orang-orang yang baik di sebuah kawasan, Allah akan menghindarkannya dari bahaya. Insyaallah. Keyakinan sangat penting dibangun sebagai landasan untuk dapat berpikir lebih jernih.

Selain itu, jika melihat jumlah yang sembuh dan yang meninggal, optimisme bisa tumbuh. Per sore ini 62 ribu berbanding 3.800 dari total 110 ribu kasus. Optimisme akan naik lebih tinggi lagi jika melihat bahwa yang dilaporkan meninggal adalah mereka-mereka yang tingkat kondisinya memang sedang tidak fit dan tua.

Dan akan lebih naik lagi dengan melihat laju pertambahan kasus baru setiap harinya yang cenderung mengecil peningkatannya. Ini berarti penanganan sudah dilakukan dengan baik. Tidak ada lagi yang melewatkan begitu saja.

Sayangnya, cukup jarang media yang menyampaikannya dengan bombastis. Entah kenapa cuma jumlah total penderita yang sering di ekspose. Padahal jika data-data tersebut juga disampaikan dengan expose yang bagus, ketakutan bisa sirna. Optimisme tumbuh bersama sedunia.

Kalau mau menggenapi optimisme, bisa dengan mengenali profil dari virus Corona ini. Banyak sumber informasi yang sudah menyediakannya. Komparasi dengan wabah-wabah mendunia lainnya juga sudah banyak yang mengupload. Ini salah satunya.

Jadi mari membangun optimisme dengan memperbanyak pengetahuan dan filtering. Hal-hal yang berbau ketakutan tidak perlu disebar. Biarkan mengendap di hp masing-masing. Untuk kemudian dilupakan. Insyaallah mentari esok kan bersinar lagi.

Photo by 🇨🇭 Claudio Schwarz | @purzlbaum on Unsplash