Kata PakWe http://katapakwe.com Catatan berkelas bebas Fri, 23 Aug 2019 04:37:55 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.2.2 158918696 Merasa Hidupmu Sulit, Coba Lihat Dia http://katapakwe.com/index.php/2019/08/22/merasa-hidupmu-sulit-coba-lihat-dia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=merasa-hidupmu-sulit-coba-lihat-dia http://katapakwe.com/index.php/2019/08/22/merasa-hidupmu-sulit-coba-lihat-dia/#respond Thu, 22 Aug 2019 16:10:43 +0000 http://katapakwe.com/?p=621 Namanya Angga (11), anak pemulung yang sempat disangka meninggal karena kelaparan karena tidak merespon ketika dipanggil-panggil. Tidak lama videonya menyebar. Viral. Sayapun jadi latah menuliskannya. Dari media massa didapat informasi bahwa dia telah meninggalkan rumahnya sejak dua hari sebelum lebaran (Kompas).

Saya yakin betapa pedihnya hati orang tua ketika mendapati anaknya tidak kembali kerumah. Apalagi sampai hampir tiga bulan. Saya tidak tahu bagaimana kedua orang tua Angga bertahan menghadapi kondisi tersebut.

Apalagi saat lebaran. Momen dimana umumnya keluarga memilih untuk berkumpul. Merayakan kegembiraan. Merayakan kemenangan setelah berhasil menyelesaikan puasa sebulan. Coba saja simulasikan kondisi itu pada diri kita masing-masing.

Makin hancur hati orang tuanya ketika tiba-tiba setelah sekian bulan muncul kabar anaknya ditemukan meninggal dunia. Walau kemudian diketahui itu tidak benar. Tapi tetap saja hati orang tua sempat hancur.

Saya tidak akan kuat menghadapinya. Anak pergi mabit di sekolah saja sudah kangennya minta ampun. Sungguh berharap tidak ingin terjadi pada Kami sekeluarga. Semoga Allah mengabulkan.

Namun kabar ini membuka mata kita bersama. Ada seorang anak sebelas tahun bukanlah usia pekerja. Mereka seharusnya bermain. Seharusnya duduk di kelas 4 sekolah dasar. Namun kondisi berkata lain. Angga harus memulung untuk mencari tambahan biaya hidup. Itulah jalan ceritanya. Dan cerita keluarganya.

Ada orang tua yang kehilangan anggota keluarganya. Anaknya. Tanpa kabar jelas. Di era komunikasi dan informasi yang mudah didapat ini. Itulah jalan ceritanya. Dan cerita keluarganya.

Lalu jika masih mengeluh bahwa hidup ini sulit, pasti ada yang salah dengan cara bersyukur saya. Cara memandang hidup. Cara memandang persoalan.

Saya berharap tidak ada lagi keluarga yang kehilangan anaknya. Ataupun anggota keluarganya. Tidak ada lagi keluarga yang berpisah-pisah. Pun tidak kesulitan hidup. Semoga Allah meridloi.

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2019/08/22/merasa-hidupmu-sulit-coba-lihat-dia/feed/ 0 621
Lanjut Usia http://katapakwe.com/index.php/2019/08/21/lanjut-usia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lanjut-usia http://katapakwe.com/index.php/2019/08/21/lanjut-usia/#respond Wed, 21 Aug 2019 04:11:18 +0000 http://katapakwe.com/?p=597 Kadang saya bertanya pada diri sendiri, ketika lanjut usia nanti bagaimana akan menjalaninya? Karena karyawan tidak akan seterusnya menjadi karyawan. Dia akan digantikan. Oleh alat, sistem, maupun orang lain.

Saya akan sangat merasa beruntung jika saat itu tidak merepotkan siapapun. Bahkan anak-anak sendiri. Persis seperti orang tua dan mertua sekarang ini. Mereka memilih untuk hidup dengan mandiri. Walau anak-anaknya tidak akan merasa keberatan sedikitpun jika harus merawat beliau-beliau.

Alhamdulillah sampai sekarang semuanya diberikan kesehatan yang luar biasa. Tidak pernah sakit. Semoga Allah selalu melindunginya. Begitulah harapan kami anak-anaknya. Apalagi yang harus tinggal jauh.

Di Indonesia, lanjut usia didefinisikan sebagai orang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas. Itu menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.

Masih menurut UU tersebut, terdapat istilah Usia Lanjut Potensial yaitu lanjut usia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang dan/atau jasa. Sedang Usia Lanjut Tidak Potensial adalah lanjut usia yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.

Kalau ditanya ingin menjadi kelompok yang mana saat lanjut usia nanti, tentu saja saya akan memilih Usia Lanjut Potensial. Agar tidak tergantung kepada siapapun. Termasuk anak-anak. Biarlah mereka membangun dan melestarikan kehidupannya. Menjadi bermanfaat bagi sesamanya. Pun lingkungan.

Tidak ada yang lebih baik selain menjadi bermanfaat bagi orang lain bukan ?

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2019/08/21/lanjut-usia/feed/ 0 597
Merdeka! http://katapakwe.com/index.php/2019/08/19/merdeka/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=merdeka http://katapakwe.com/index.php/2019/08/19/merdeka/#respond Mon, 19 Aug 2019 10:03:40 +0000 http://katapakwe.com/?p=613 Minta ampun ribetnya. Jika sudah berurusan dengan warga. Dalam hal ini warga komplek perumahan. Yang notabene sudah pasti pinter-pinter. Tak jarang urusan yang seharusnya bisa mudah menjadi lebih berkelok. Bahkan bisa lebih banyak dari pada kelok 44 di Sumatra Barat sana.

Apalagi yang terkait dengan dana. Dana kas RW tepatnya. Yang saya tidak tahu cerita awalnya. Namun jadi tahu sekarang. Setelah ditugaskan pak RW menjadi penyelenggara peringatan Hari Kemerdekaan ke 74. Dan apa boleh buat, pertunjukan tetap harus berjalan.

Sekali merdeka tetap merdeka! Alhamdulillah. Beberapa tetangga masih sudi untuk urun rembug dan tenaga. Beberapa lainnya urun dana. Lomba anak-anak pun tidak mengecewakan. Tidak hanya anaknya yang bergembira. Orang tuanya ikut bersuka cita.

Bersama-sama itu bisa merumitkan sekaligus bisa memudahkan. Asal dengan modal pengetahuan, komunikasi aktif, kepercayaan, dan kesabaran. Ditambah keberanian mengambil resiko. Dan Berserah diri kepadaNya.

Negara ini saja bisa merdeka dari penjajahan, apalagi yang cuma mengisinya. Allah pasti menyertai orang-orang yang berjuang dengan kesabaran. Insyaallah.

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2019/08/19/merdeka/feed/ 0 613
Terpaksa Rehat http://katapakwe.com/index.php/2019/08/15/terpaksa-rehat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=terpaksa-rehat http://katapakwe.com/index.php/2019/08/15/terpaksa-rehat/#respond Thu, 15 Aug 2019 08:41:49 +0000 http://katapakwe.com/?p=608 Kata orang bijak, sesuatu sering kali disadari besar nilainya ketika sudah tidak ada lagi. Cukup banyak contohnya. Dari hal yang dekat-dekat bisa jadi contoh bagus.

Misalnya saja ketika saya dulu punya sepeda. Jarang digunakan. lebih banyak parkir dibawah tangga. Ketika sudah dijual, muncul perasaan kenapa dulu tidak aktif digunakan.

Begitu juga dengan kesehatan. Seringnya ketika sehat lupa jika harganya sangat mahal. Kalau sedang sakit baru sadar. Tidak bisa berkegiatan. Harus istirahat. Belum lagi jika harus beli obat.

Sekarang saya sedang merasakannya. Flu menyerang. sebenarnya sudah 2 minggu yang lalu merasakan gejala-gejalanya. Buru-burulah pasang kuda-kuda perlawanan.

Tapi sepertinya terlambat. Perlakuan korektif seperti olah raga, mengatur makanan memang kurang efektif. Antisipasilah yang paling ampuh.

Dan memang, beberapa bulan terkahir ini untuk 2 hal itu sedang mengalami kemunduran. Olahraga sedang tidak bersemangat. Makan makan menjadi-jadi.

Semoga flu kali ini menjadi titik yang lebih menyadarkan saya. Sehingga tidak terlalu sering terpaksa rehat karena sakit. Sungguh tidak enak.

Sumber gambar : unsplash.com

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2019/08/15/terpaksa-rehat/feed/ 0 608
Review Buku: Kelakar Madura Buat Gus Dur http://katapakwe.com/index.php/2019/08/08/review-buku-kelakar-madura-buat-gus-dur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=review-buku-kelakar-madura-buat-gus-dur http://katapakwe.com/index.php/2019/08/08/review-buku-kelakar-madura-buat-gus-dur/#respond Thu, 08 Aug 2019 03:57:46 +0000 http://katapakwe.com/?p=599 Lagi-lagi saya membaca buku baru dengan tulisan lama. Cetakan pertama buku ini sih Januari 2018. Namun bukunya sudah muncul 2001. Rupanya yang saya pegang adalah versi republish (saya belum tahu istilah yang tepat).

Di buku ini, H. Sujiwo Tedjo menuliskan beberapa cerita dengan latar belakang kehidupan orang-orang Madura yang memang unik. Apalagi terkait dengan persepsi mereka terhadap sosok Gus Dur yang pada masa itu menjadi presiden RI.

Kenapa Madura ? Menurut saya karena penulis memang paham dengan budaya Madura. Yang memang penulisnya juga punya darah tersebut yang diturunkan dari Ayahnya. Cukup banyak kisah-kisah jenaka yang muncul sejak saya kecil dulu terkait dengan budaya ini. Kadang digunakan untuk menunjukkan hal positif ataupun sebaliknya.

Namun di buku ini, Penulisnya mampu meracik dengan baik antar kelakar atau humor, Madura, dan Gus Dur dengan baik. Sehingga tidak akan ada pihak yang tersinggung. Begitu menurut saya yang membacanya di jaman sekarang ini. Tidak tahu ketika masa-masa dulu saat buku ini muncul pertama kali.

Kenapa begitu ? Walaupun isinya kelakar, buku ini banyak mengambil setting kondisi masyarakat dan politik saat presidennya Gus Dur. Banyak sekali pro kontra pada saat itu. Bahkan sampai-sampai menjadi masalah hukum yang cukup ramai.

Membaca buku ini akan lebih mudah memahami jika sudah tahu latar budaya Madura sebelumnya. Tapi jika tidak pun tak mengapa. Minimal jadi tahu jalan pikiran orang-orang Madura secara umum.

Tapi bukan berarti kesemuanya seperti itu. Saya yakin Mbah Tedjo punya makna-makna lain terhadap penggambaran personifikasi yang digunakan pada cerita-ceritanya. Jadi tidak untuk di generalisir ke semua orang Madura.

Saya sendiri setelah membaca buku ini jadi tertarik untuk mencari informasi lebih dalam. Bagaimana bisa penduduk pulau Madura yang tidak jauh dari Pulau Jawa (sekarang terhubung dengan jembatan 5 km) tetapi hidup dengan bahasa yang sangat berbeda dengan Jawa Mataraman ataupun Malangan. Malah dengan Surabaya saja sudah jauh berbeda.

Begitulah sebuah buku. Bisa memberikan insight-insight. malah juga pertanyaan yang bikin penasaran lebih jauh.

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2019/08/08/review-buku-kelakar-madura-buat-gus-dur/feed/ 0 599
Cas eh Caz http://katapakwe.com/index.php/2019/07/09/cas-eh-caz/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cas-eh-caz http://katapakwe.com/index.php/2019/07/09/cas-eh-caz/#respond Tue, 09 Jul 2019 09:58:15 +0000 http://katapakwe.com/?p=590 Pernah lihat papan nama sebuah tempat makan kekinian yang menunya mie instan disegala macemin kan ? Itu lho yang sudah jadi waralaba besar di banyak kota besar. Yang salah satu fasilitasnya 100 stop kontak.

Sejak free wifi sudah menjadi standar layanan yang diharapkan dalam benak pelanggan, penyedia tempat usaha nongkrong kekinian meyakini kebutuhan stop kontak listrik juga sudah mirip dengan sembako.

Fitur 100 stop kontakpun semakin banyak pengikutnya. Setidaknya di tempat nongkrong kekinian serupa. Orang makin mudah mencari colokan listrik ketika baterai hp-nya menipis. Atau ingin berlama-lama dengan laptopnya yang sedang lobet.

Dan memang umumnya orang menggunakannya untuk kebutuhan pengisian daya baterai. Baterai smartphone atau laptopnya. Atau juga powerbank-nya. Belum pernah saya temui menggunakannya untuk pengering rambut. Atau setrika, atau memasak nasi pakai magic jar. Walaupun secara teknis bisa.

Cuma memang tidak pantas rasanya jika di tempat nongkrong yang ramai ada yang sedang mengeringkan rambut dengan hair dryer yang berisik. Atau menyetrika baju di gerbong kereta api. Atau memasak nasi di open space-nya mall. Saya belum pernah menemui pengumuman tertulis yang dipasang agar hal tersebut tidak dilakukan. Mungkin saya kurang jalan-jalan…

Barangkali ini karena hanya digunakan untuk pengisian baterai yang berkapasitas kecil menyebabkan fitur colokan listrik publik ini bisa digunakan siapa saja tanpa dipungut biaya. Coba saja jika untuk masak nasi atau mendidihkan air. Berapa watt tuh habisnya.

Tapi beberapa kali saya menemui fasilitas ini berbayar. Ongkosnya Rp 2.000 sekali ngecas. Waktu itu saya lihat di sebuah kios toilet umum kawasan wisata Paralayang Songgokerto, Kota Batu, Jawa Timur.

Saya lihat lagi di sebuah warung kopi seberang base camp jeep tour Bromo. Ketika menghabiskan waktu menunggu ke puncak Seruni. Tidak jauh dari kantor Telkom Sukapura Kabupaten Probolinggo Jawa Timur. Ongkosnya Rp 2.000 juga. Saya sempat iseng mengambil gambarnya.

Saya tidak bertanya, berapa ongkos cas eh caz jika pakai pengering rambut atau setrika. Ngapain juga mau ke gunung Bromo pakai begituan. Haha….

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2019/07/09/cas-eh-caz/feed/ 0 590
Melambung http://katapakwe.com/index.php/2019/07/03/melambung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=melambung http://katapakwe.com/index.php/2019/07/03/melambung/#respond Wed, 03 Jul 2019 15:52:59 +0000 http://katapakwe.com/?p=337 Kalau ditanya siapa yang paling berani, jawabnya pemotor yang melambung. Dan kalau pertanyaannya disambung dengan siapa yang paling nekat, jawabnya juga pemotor yang melambung. Siapa yang paling cerdas, jawabnya tetap pemotor yang melambung. Pun ketika pertanyaannya diganti jadi siapa yang paling beresiko, jawabnya ya pemotor yang melambung.

Sebelumnya minta maaf, pertanyaan diatas adalah dari saya. Dan saya jawab sendiri. Yang tersinggung mohon tidak marah. Yang tidak marah, mohon tidak membenci. Yang tidak marah dan tidak benci, silakan teruskan membaca.

Melambung adalah bentuk contra flow sementara, berkendara pada lajur yang arahnya berlawanan. Amannya hal ini dilakukan dengan terencana pengawalan ketat petugas karena memang sangat beresiko. Selain petugas, keberadaan tanda sedang ada contra flow juga diperlukan. Bisa berupa tulisan atau traffic cone sepanjang ruas yang berlaku.

Namun yang sering terjadi melambung dilakukan dengan pengawalan. Asal di sebelah kiri sudah penuh dengan mobil, motor langsung ambil ke sebelah kanan. Yang dibelakangnya mengikuti. Jadilah satu baris di lajur yang berlawanan. Mereka jadi lebih cepat. Sementara yang lain bermacet ria. Yang lajurnya mereka pakai jadi kelagapan. Lebih waspada.

Belum lagi yang merasa motornya bisa lebih cepat dari yang lain. Menyaliplah di sebelah kanan dari baris yang tadinya sudah melewati marka tengah jalan. Jadilah 2 baris. Dan ada yang merasa motornya lebih cepat lagi. Lebih ke kanan lagi. Bertambah lagi barisnya. Jadi 3. Kendaraan yang dari depan makin melambat. Kadang harus berhenti. Memilih aman.

Sekarang ini rasanya melambung sudah menjadi kebutuhan. Demi kecepatan. Demi kelancaran. Demi segera sampai. Dan beribu demi yang lain. Padahal setahu saya kontra flow adalah diskresi petugas Kepolisian. Bukan keputusan masing-masing pengendara.

Sadar atau tidak, melambung adalah sebuah perbuatan yang membahayakan diri sendiri. Juga pengendara lain yang searah. Juga pengendara yang berlawanan arah yang lajurnya dipakai. Dan bisa jadi perbuatan yang melanggar hukum lalu lintas.

Maka ada baiknya melambung dikurangi. Jika bisa tidak dilakukan sama sekali. Sambil melatih kesabaran. Yang sepertinya makin tipis di jalanan kita sekarang ini.

Wallahu a’lam bishawab.

Sumber gambar : Freepik.com

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2019/07/03/melambung/feed/ 0 337
Review Buku: Melihat Diri Sendiri, Refleksi Dan Inspirasi http://katapakwe.com/index.php/2019/07/01/review-buku-melihat-diri-sendiri-refleksi-dan-inspirasi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=review-buku-melihat-diri-sendiri-refleksi-dan-inspirasi http://katapakwe.com/index.php/2019/07/01/review-buku-melihat-diri-sendiri-refleksi-dan-inspirasi/#respond Mon, 01 Jul 2019 08:08:09 +0000 http://katapakwe.com/index.php/2019/07/01/review-buku-melihat-diri-sendiri-refleksi-dan-inspirasi/ Membaca buku ini seakan diajak menjelajah waktu kembali ke Indonesia 20 tahun silam. Saat dimana orde baru yang sudah cukup lama hidup menjalani hari-hari terakhirnya. Hingga kemasa negeri Paman Sam mencari musuh baru, bosan tidak ada lawan sejak Uni Sovyet bubar.

Penulisnya adalah KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus yang Asli Rembang Jawa Tengah. Tulisan-tulisan beliau banyak di muat di media massa. Buku ini merupakan kumpulan dari beberapa tulisan dengan periodisasi yang saya tulis sebelumnya.

Sekarang beliau juga aktif menilis di Twitter dengan account @gusmusgusmu dengan 2 juta pengikutnya. Insyaallah tidak akan pernah muak membaca celotehan beliau jika Anda masih manusia. Maaf….

Dari tulisan yang ada di buku ini Saya menemukan kondisi yang mirip dengan yang saat ini sedang terjadi di Republik tercinta ini. Dari rakyatnya, dari pemerintahnya, dari politiknya, dari pikirannya, dan dari yang lainnya. Saya jadi bertanya-tanya, setelah sekitan tahun berlalu -sejak tulisan itu dibuat- kondisi yang digambarkan masih relevan dengan yang sekarang, apakah ini berarti selama ini kita belum berubah banyak?

Jika iya, sudah barang tentu tidak sesuai dengan nasehat Nabi agar hari ini lebih baik dari pada kemarin. Jika tidak, mungkin cuma kebetulan situasinya sama atau mirip. Tapi disinilah menariknya buku ini.

Bab yang berjudul Kemaruk misalnya. Gusmus mengingatkan kita bersama tentang sifat yang selalu ingin mendapat banyak. Selalu merasa kurang. Kurang jabatan, kurang harta, kurang wewenang. Sampai sekarang masih ada kan ?

Pada bab Kekelompokan Jahiliyah, beliau menyinggung fanatisme berlebihan yang menyebabkan kita bergolong-golongan yang kelewat batas. Sehingga gampang sekali dimasuki kepentingan yang bermacam-macam. Agama, politik dan nafsu. Sampai saat ini masih juga ada kan?

Maka sangat tepat jika buku ini mengambil judul Melihat Diri Sendiri karena sebagian besar isinya jadi cermin masyarakat saat ini. Sekaligus menyadarkan bahwa persoalan-persoalan yang ada sekarang memang sudah ada sebelumnya. Obatnya pun juga dijelaskan oleh Gusmus. Seperti yang ditulis pada ‘Kembali ke Allah’, membersihkan diri sambil mengagungkan yang Maha Agung misalnya.

Menurut saya buku ini bisa membantu menyadarkan siapa saja yang membacanya.

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2019/07/01/review-buku-melihat-diri-sendiri-refleksi-dan-inspirasi/feed/ 0 581
Kolam Restoran http://katapakwe.com/index.php/2019/06/17/kolam-restoran/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kolam-restoran http://katapakwe.com/index.php/2019/06/17/kolam-restoran/#respond Mon, 17 Jun 2019 05:39:59 +0000 http://katapakwe.com/?p=574 Saya tidak terlalu nyaman dengan kolam renang yang dibuat berdampingan dengan tempat makan. Ini saya temui di beberapa tempat menginap. Expose terlalu berlebihan saya rasakan. Apalagi jika jaraknya cukup dekat hingga bersebelahan.

Saya pikir ini karena kolam renang adalah tempat membuka diri. Dalam makna yang sebenarnya. Dan tempat makan entah itu kedai, rumah makan, restoran, atau kafe bukan tempat yang tepat untuk terbuka seperti itu.

Tapi memang sebuah kolam renang memiliki banyak fungsi. Beberapa menjadikannya sebagai tempat berlatih. Sebagian lain menggunakannya sebagai tempat terapi. Yang lain mungkin sebagai tempat relaksasi dan rekreasi. Menikmati airnya ataupun hanya foto-foto untuk update status.

Maka jika ada yang merasa biasa-biasa saja dengan kolam renang yang dekat tempat makan saya pikir mereka menganggapnya sebagai tempat rekreasi. Ataupun hanya mendampingi putra-putrinya yang sedang latihan atau sekedar bermain.

Anak-anak selalu suka dengan air. Berbasah-basahan, berlomba mencari koin yang tenggelam, hujan-hujanan, saling menciprat dan yang lainnya. Barangkali hanya anak kucing yang tidak suka air. Itu tak lebih karena induknya yang sudah tidak suka air sebelumnya.

Juga tidak suka makan di restoran.

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2019/06/17/kolam-restoran/feed/ 0 574
Tinggal Atau Berkeliling http://katapakwe.com/index.php/2019/06/16/tinggal-atau-berkeliling/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tinggal-atau-berkeliling http://katapakwe.com/index.php/2019/06/16/tinggal-atau-berkeliling/#respond Sun, 16 Jun 2019 06:31:07 +0000 http://katapakwe.com/?p=572 Dua pilihan yang sangat menggoda setiap kali saya berkunjung ke sebuah kota untuk beristirahat sejenak ditengah perjalanan ritual mudik.

Empuknya kasur hotel sering menggoda saya untuk berlama-lama diatasnya. Ditambah selimut lembut dan air panas kamar mandi. Penyejuk ruangannya pun terus-terusan menyemburkan hawa nyaman.

Tapi berkeliling juga menggoda. Dahaga akan pengetahuan tempat-tempat baru mendorong manusia untuk selalu bergerak. Meninggalkan zona nyaman nan berselimut nikmat.

Keduanya datang disaat yang bersamaan. Menempatkan saya pada posisi memilih. Meninggalkan kenyamanan atau berkeliling mendapatkan hal baru.

Kali ini saya putuskan untuk berkeliling. Menemukan hal-hal baru. Mencoba keberanian untuk agak jauh dari nyaman. Berteman dengan ketidakpastian namun berbekal referensi.

Maka jadilah kami mengukur jalanan, naik turun lembah bermandi panas. Anda juga bisa memilih seperti saya. Atau opsi yang lainnya.

Yang penting bahagia.

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2019/06/16/tinggal-atau-berkeliling/feed/ 0 572