Kata PakWe http://katapakwe.com Catatan berkelas bebas Wed, 23 Oct 2019 09:58:53 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.2.4 158918696 Rest Area http://katapakwe.com/index.php/2019/10/23/rest-area/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rest-area http://katapakwe.com/index.php/2019/10/23/rest-area/#respond Wed, 23 Oct 2019 04:33:00 +0000 http://katapakwe.com/?p=763 Weekend kemarin saya mampir di rest area Mie Baso SR di Jl Raya Rajapolah Tasikmalaya. Dua kali. Yang pertama Jumat tengah malam. Kedua kalinya Minggu sore.

Arealnya luas, bisa menampung banyak rombongan bis antar kota maupun pariwisata. Tempat duduknya menyebar. Ada yang indoor, teras, outdoor.

Makanan yang disediakan juga banyak. Pop Mie, sosis bakar, ice cream, prasmanan sunda, dan andalannya adalah Mie Baso SR.

Awalnya ketika tengah malam tiba di sana saya penasaran. Dengan area yang sangat luas itu, apa banyak yang datang dan makan disitu ?

Ternyata memang banyak. Saya dapat jawabnya di Minggu siang. Bus yang parkir lebih dari 10 buah. Ditambah lagi beberapa minibus.

Suasananya sudah mirip pasar. Antrian makanan mengular. Mungkin mereka ini yang ikut paket makan dari bus.

Yang ke toilet juga banyak. Maklum perjalanan panjang rute selatan Jawa Barat.

Yang antri Mie Baso SR juga tidak pernah sepi. Setelah cek di Google, rupanya menu ini favorit pengunjung dan terkenal.

Sebenarnya banyak mie baso yang lebih enak. Tapi kelelahan, kebosanan, dan jalan yang meliuk-liuk mengikuti alur gunung berkongsi membuat badan lelah.

Kondisi ini butuh penyegaran. Makanan berkuah panas cocok sekali. Sedap dan segera tandas.

Tapi apakah kondisi ini akan tetap sama setelah jalan tol selatan Jawa jadi ? Akan terjawab nanti setelah tolnya jadi. Ruas Gede Bage Bandung ke Tasikmalaya ditargetkan siap 2024.

Sebagai perkiraan sepertinya bisa berkaca pada pengaruh tol trans Jawa. Kalau mau yang lebih lama lagi adalah tol Purbaleunyi. Coba baca artikel Kompas ini atau artikel CNN ini.

Dampak Tol bagi pemasukan pedagang sebagian besar negatif. Omset berkurang karena pembelinya makin sedikit.

Sampai saat ini saya belum mendapat kisah sukses mereka yang berhasil survive. Mestinya ada. Mungkin saya saja yang belum tahu.

Jika Anda tahu, tolong tulis di komentar ya … Insyaallah akan jadi studi yang bagus buat kita semua.

Saya masih ingin merasakan Mie Baso SR dan juga tidak mau repot berlama-lama di jalanan jalur selatan itu.

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2019/10/23/rest-area/feed/ 0 763
Ke 100 http://katapakwe.com/index.php/2019/10/17/ke-100/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ke-100 http://katapakwe.com/index.php/2019/10/17/ke-100/#respond Thu, 17 Oct 2019 10:06:53 +0000 http://katapakwe.com/?p=759 Alhamdulillah ini tulisan ke 100. Milestone buat saya. Bisa mengumpulkannya di sini butuh perjuangan —sedikit lebay.

Konsistensi adalah musuh terbesar saya. Kehabisan ide adalah alasan klasiknya. Padahal masalah utamanya adalah lemahnya prioritas.

Menulis adalah membagi ide melalui cerita. Bercerita itu perlu alur dan data. Ditambah dengan memantaskan data apa dipasang disebelah mana.

Seperti menghias ruangan. Meja diletakkan di sebelah mana. Kursinya pakai yang model apa. Warna dindingnya bagaimana. Kesan yang ingin ditangkap oleh orang yang masuk ke ruangan ini apa.

Itu semua memerlukan tahapan. Dan setiap tahapan membutuhkan waktu. Ini yang saya sering teledor.

Awalnya ingin setiap hari bisa menghasilkan satu tulisan. Tidak terwujud. Ganti jadi 2 hari sekali. Tidak juga. Seminggu sekalipun pernah terlewat.

Maka saya tempatkan prioritas menulis menjadi paling wahid di daftar tantangan dalam menulis yang harus saya hadapi kedepan.

Nomer duanya adalah data. Ini penting agar tulisan menjadi berdasar. Tidak hanya kira-kira atau katanya orang.

Mencari data membutuhkan waktu untuk mencari sumber. Ketika sudah menemukan, membutuhkan waktu untuk meyakinkan diri apakah data tersebut relevan dengan isi tulisan yang saya susun.

Dalam kelas Art Writing-nya Pakdhe Prie GS menjadikan data adalah hal wajib yang harus disertakan dalam sebuah tulisan.

Nomer ketiga adalah ejaan yang benar. Meskipun tulisan-tulisan di web ini hanya blog bukan berarti ejaan bisa sembarangan.

Sudah seharusnya saya belajar mengikuti ketentuan menulis yang benar. Setidaknya saya menjadi lebih siap ketika mau menyusun naskah. Kapan-kapan.

Ya saya memang belum berpikir untuk itu. Rasanya kok saya masih ingin menulis hanya untuk diri sendiri. Sebagai terapi membiasakan menata pikiran dan kata.

Menuangkan pikiran dalam tulisan membuat saya lebih runut dalam berkomunikasi. Hingga ide bisa disampaikan dengan lebih baik.

Jika ada yang merasa kesulitan dalam menyampaikan ide atau maksud, cobalah banyak-banyak menulis. Dan segera lakukan. Karena 100 tidak akan ada jika yang pertamapun belum.

Bagai berharap bikin nasi goreng tanpa pernah menyalakan kompor.

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2019/10/17/ke-100/feed/ 0 759
Tembok Berakar http://katapakwe.com/index.php/2019/10/16/tembok-berakar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tembok-berakar http://katapakwe.com/index.php/2019/10/16/tembok-berakar/#respond Wed, 16 Oct 2019 10:47:08 +0000 http://katapakwe.com/?p=734 Tulisan ini adalah lanjutan dari perjalanan mampir ke bekas pabrik gula yang sekarang sudah di revitalisasi. (Baca: Mesin Waktu Bernama Museum De Tjolomadoe)

Bulan sabit masih menggantung di langit hitam Kabupaten Karanganyar saat saya keluar dari ruang museum ke Stasiun Penguapan. Ruangan yang juga besar dengan deretan ketel di atas yang disangga dengan tiang baja.

Ruangan ini dilengkapi dengan lampu jalan retro. Pengunjung seperti sedang berada pedestrian sambil menikmati orang yang lalu lalang. Sayangnya karena malam, waktu itu saya tidak bertemu banyak orang.

Di ujung ruang ini, di sebelah kanan ada ruangan yang cukup terang. Rupanya cafe. Besali Cafe namanya. Sempat saya terpikir untuk istirahat sambil mencicip kopinya. Tapi saya batalkan. Entah kenapa ada perasaan tidak nyaman.

Di dinding luarnya menempel akar pohon yang berkelok-kelok dari atas kebawah. Silang menyilang. Sebuah pohon pernah tumbuh di atas tembok tersebut saat gedung ini terbengkalai dulu.

“Tapi sekarang pohon itu sudah dimatikan. Akarnya tidak akan tumbuh lagi,” kata staf keamanan yang saya temui di pintu keluar 50 meter dari situ.

Bagi saya tembok berakar itu bagai cerita sejarah. Bahwa area ini sudah berumur panjang dan telah lama ditinggalkan.

Saya pernah melihat seperti ini di salah satu gedung di kawasan kota tua. Saat hunting foto bersama teman-teman komunitas fotografi.

Spot seperti ini memang jadi favorit fotografer. Nuansa jaman dahulunya akan terekam bagus di hasil jepretan.

Tapi tidak dengan anak saya. Dia makin kelihatan tidak nyaman dan ingin segera menjauh dari gedung besar ini. Berdirinya tidak tenang. Bergerak gelisah.

Sementara saya dan istri masih menyimak lanjutan cerita petugas penjaga pintu keluar.

“Memang saat proses restorasi, area pohon itu jadi tempat yang paling dihindari oleh para pekerja. Katanya ada yang mengganggu mereka. Tapi sudah berhasil pula diselesaikan.”

Sepertinya memang lebih baik saya tidak masuk ke ruangan itu dulu deh. Mungkin lain kali saja saat berkunjung ke sini siang hari. Kapan-kapan, pikir saya dalam hati.

Sambil berjalan keluar gedung, anak saya masih belum juga surut gelisahnya. “Lain kali nggak usah lama-lama ditempat kaya gini.”

Dan memang hari sudah malam. Kami juga harus segera melanjutkan perjalanan 1,5 jam lagi ke Jogja.

Sumber gambar : freepik.com

*Tulisan ini adalah bagian ke 3 (terakhir). Bagian ke 1 : Ciut Di Stasiun Gilingan De Tjolomadoe. Bagian ke 2 : Mesin Waktu Bernama Museum De Tjolomadoe

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2019/10/16/tembok-berakar/feed/ 0 734
Radar Hidup http://katapakwe.com/index.php/2019/10/15/radar-hidup/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=radar-hidup http://katapakwe.com/index.php/2019/10/15/radar-hidup/#respond Tue, 15 Oct 2019 06:54:18 +0000 http://katapakwe.com/?p=742 Hidup ini komplek. Gabungan dari variabel intelektual, emosional, dan spiritual menyusun perilaku.

Idealnya adalah ketiganya harus dikedepankan bersama-sama. Tapi bukan untuk saling jago, melainkan untuk digunakan secara harmonis.

Membiasakan ketiganya berjalan bersama susahnya bukan main. Di negara kita intelektual dibangun di sekolah-sekolah.

Sekarang ini sudah banyak sekolah yang menambahkan dengan emosional dan spiritual.

Agar anak menjadi seimbang. Agar remaja menjadi stabil. Agar pemuda menjadi pembawa kebaikan bagi semua orang dan lingkungannya.

Apa jadinya jika intelektual, emosional, dan spiritual berjalan masing-masing ? Terlalu pintar atau terlalu mudah terharu atau terlalu mudah fanatik.

Saya takut itu terjadi pada diri, istri, keluarga, dan anak. Yang terakhir ini penting bagi saya.

Saya ingin anak saya bisa memainkannya harmonis. Sanggup memahami kapan waktu untuk menggunakan intelektual atau emosional, atau spiritual.

Atau malah ketiganya digunakan bersama namun dengan kombinasi mana yang harus lebih besar, sedang, dan kecil saja.

Kepala saya langsung membayangkan tampilan grafik radar dengan tiga variabel tersebut.

Dengan memahaminya saya berharap tidak ada lagi orang tua (apalagi berumur hampir 90 tahun) yang mendapat perlakuan tidak sopan dari generasi mudanya —Jangan pernah meniru!.

Seperti yang terjadi di televisi beberapa waktu lalu. Oleh publik figur. Yang katanya wakil rakyat. Yang katanya dari partai besar pemenang pemilu kemarin.

Untungnya saya bukan wakil rakyat itu.

Sumber gambar: Freepik.com

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2019/10/15/radar-hidup/feed/ 0 742
Jadi Bawahan Enak, Jadi Atasan Gajinya Banyak http://katapakwe.com/index.php/2019/10/04/jadi-bawahan-enak-jadi-atasan-gajinya-banyak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jadi-bawahan-enak-jadi-atasan-gajinya-banyak http://katapakwe.com/index.php/2019/10/04/jadi-bawahan-enak-jadi-atasan-gajinya-banyak/#respond Fri, 04 Oct 2019 16:44:40 +0000 http://katapakwe.com/?p=735 Jadi bawahan itu enak. Bisa ngomongin bawahan yang lain. Bisa ngomongin Office Boy. Bisa ngomongin tukang koran. Bisa ngomongin atasan.

Kadang yang terakhir ini bisa cukup panjang. Meski sudah ngomongin saat makan siang sampai berbusa-busa, kalau perlu disambung di group Whatsap (WA). Group yang sudah pasti atasan tidak terdaftar disitu. Hehe.

Pernah seorang atasan dianggap tidak mau dikalahkan dalam sebuah diskusi. Semua percobaan untuk membelokkan keyakinan beliau berakhir dengan kandas. Saya perhatikan dalam diskusi itu beliau lihai dalam memahami informasi dan paham betul kapan waktunya harus mengeluarkan informasi yang mana.

Kalau sudah seperti ini bawahan cuma bengong-bengong saja dan berusaha memahaminya. Rupa-rupanya cara pandang kami yang belum seluas beliau atau memang penggalian kami yang kurang. Pemegang informasi lebih banyak akan lebih berpeluang berhasil mengarahkan diskusi sesuai keinginannya.

Sebagai atasan, memahami lebih banyak hal adalah sudah sewajarnya. Ini ditunjang dengan akses ke sumber informasi yang lebih luas dan mudah daripada bawahan. Kelebihan kewenangan ini pada akhirnya memperbanyak sudut pandang beliau pada suatu masalah.

Ini juga yang membuat atasan mampu menetapkan sasaran dan cara untuk mencapainya. Tim dibawah tinggal menjalankan sambil sesekali memberikan feedback yang dibutuhkan. Maka dengan pertimbangan yang matang bisa saja atasan menetapkan strategi jual rugi pada satu produk ke seorang konsumen. Dengan pertimbangan konsumen tersebut punya potensi yang besar untuk melakukan transaksi yang lain dalam waktu dekat.

Bawahannya melaksanakan. Jika ada yang tidak paham tinggal bertanya ke atasan. Jika sudah selesai laporkan hasilnya untuk dievaluasi bersama.

Jadi bawahan itu enak. Tidak perlu mikir banyak-banyak. Jadi tanggung jawabnya tidak banyak juga. Cuma ya gajinya juga tidak akan sebanyak atasan. Mau yang enak atau yang gajinya banyak ?

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2019/10/04/jadi-bawahan-enak-jadi-atasan-gajinya-banyak/feed/ 0 735
Review Buku: PrieGS Hidupnya Humornya http://katapakwe.com/index.php/2019/09/26/review-buku-priegs-hidupnya-humornya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=review-buku-priegs-hidupnya-humornya http://katapakwe.com/index.php/2019/09/26/review-buku-priegs-hidupnya-humornya/#respond Thu, 26 Sep 2019 10:55:49 +0000 http://katapakwe.com/?p=730 Judul buku ini yang menarik saya untuk langsung memesannya. Ketika penulis —Pakde Prie GS— menyertakan foto cover diposting fan page FBnya.

Rupanya hanya membaca tulisan-tulisan Pakde di fan page malah membuat saya yang sedang belajar menulis ini semakin penasaran. Rangkaian-rangkaian kalimat yang digunakan saya rasakan sebuah gaya baru. Dan saya menemukan lebih banyak lagi di buku Prie GS Hidupnya Humornya.

Misal tentang kecintaan penulis terhadap masa kecil dipinggir lapangan desa. Pilihan alurnya mampu menggiring pembaca untuk ikut membayangkan rasa kesedihan harus melepaskan layang-layang pada saat-saat terakhirnya.

Saya menjadi ikut terbang mengkorek-korek kenangan-kenangan masa kecil di kampung. Itulah salah satu akibat terlalu banyak membaca tulisan Pakde.

Cuma itu … ?
Tidak!

Saya juga hampir saja menitikkan air mata saat pada satu ceritanya Pakde mengenang Ibundanya. Ketegaran beliau dalam menghadapi kesulitan hidup. Bercanda ditengah sakitnya. Berusaha melawan kemiskinan yang mendera.

Lagi-lagi, saya jadi ikut terbang membuka lembar-lembar cerita tentang Ibu. Saya segerakan bertelepon dan ber-WA ria dengan beliau. Akibat lain dari membaca tulisan Pakde.

Cuma itu … ?
Tidak!

Humor adalah kesulitan saya. Tidak mudah menyampaikannya lewat verbal. Lebih tidak mudah lagi menyampaikannya lewat tulisan. Persepsi humor orang yang berbeda-beda menjadikan saya sebagai peragu.

Maka sayapun mati kutu ketika beberapa bulan lalu saya harus menyisipkan humor pada tugas Kelas Menulis Prie GS. Cukup lama langkah belajar saya terhenti pada tahap ini. Cukup banyak koreksi yang saya dapatkan. Alhamdulillah diijinkan lulus. Tulisan itu saya beri judul Menjadi Pendamping.

Karenanya, ketika melihat judul buku terbaru Pakde saya merasa berkesempatan untuk belajar lebih jauh menata humor dalam sebuah tulisan. Dan benar saja, banyak perspektif baru yang saya dapatkan. Bahkan tidak hanya humor. Pengalaman sederhanapun bisa menjadi menarik dengan pemilihan kalimat-kalimat dan alur yang kreatif.

Terima kasih Pakde Prie GS.

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2019/09/26/review-buku-priegs-hidupnya-humornya/feed/ 0 730
Kantin FPOK http://katapakwe.com/index.php/2019/09/25/kantin-fpok/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kantin-fpok http://katapakwe.com/index.php/2019/09/25/kantin-fpok/#respond Wed, 25 Sep 2019 10:54:11 +0000 http://katapakwe.com/?p=725 Waktu tunggu adalah yang paling membosankan. Jika tidak diisi dengan kegiatan bisa jadi buang waktu percuma. Tapi jangan kegiatan melamun. Bukan cuma lalat yang bisa mampir, salah-salah yang tak nampak pun ikutan nimbrung. Repot!

Waktu tunggu bisa diprediksi. Jadi bisa diantisipasi. Yang biasanya saya isi dengan membaca buku. Sengaja saya menyelipkan buku fisik di tas. Walaupun akhir-akhir ini sering kali kalah dengan hadirnya gadget dengan sosial medianya.

Tapi weekend kemarin saya mencoba pilihan lain. Dengan pensil dan kertas saat harus menunggu anak yang sedang ikut tes fisik di FPOK UPI. Tidak langsung jadi, harus disambung beberapa hari setelahnya. Dengan bekal foto dari hape.

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2019/09/25/kantin-fpok/feed/ 0 725
Numpang Dengar http://katapakwe.com/index.php/2019/09/23/numpang-dengar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=numpang-dengar http://katapakwe.com/index.php/2019/09/23/numpang-dengar/#respond Mon, 23 Sep 2019 10:03:02 +0000 http://katapakwe.com/?p=711 Ini cerita tentang kampung tempat saya pernah tinggal dulu. Sebuah kampung di kota kecil di Jawa Timur sana. Sekitar tahun 85-an.

Untuk menuju ke sini harus masuk gang yang hanya cukup untuk lalu lalang motor saja. Kira-kira sepanjang 50 meter dari jalan aspal yang tidak begitu ramai. Kendaraan hanya satu dua saja karena bukan jalan utama.

Sebelah kanan gang ada beberapa petak sawah yang tak lagi ditanami. Sisi kirinya bertembok tinggi. Sebenarnya itu adalah pagar pembatas halaman sebuah rumah dengan halaman besar. Kabarnya milik orang keturunan Tionghoa.

Rumah itu berbeda sekali dengan rumah-rumah yang ada di balik pagar tingginya. Berderet kecil-kecil tanpa halaman dan berdempet berhadapan. Ditengah deretan itu jalan akses kampung saya.

Rumah saya urutan ke 7 deretan sebelah kiri. Alhamdulillah sudah bertembok dan bercat. Masih ada beberapa rumah disana yang bertembok tapi belum dicat. Beberapa setengah bagian depan berdinding tembok dan belakang berdinding bambu. Bahkan ada yang kesemuanya berdinding bambu dengan warna putih dari kuasan kapur yang dicampur air. Kuas yang digunakan adalah segenggam batang jerami yang diikat.

Tetangga sebelah kanan juga sudah tembok. Rumah Pak Imam. Begitu saya menyebutnya karena pemilik rumah sering menjadi imam di mushollah. Tetangga seberang juga tembok. Rumah Pak Budi. Beliau tidak mempunyai telapak tangan kanan karena harus merelakannya saat masa perjuangan dulu.

Tetangga sebelah kiri setengah tembok. Saya lupa nama pemiliknya. Yang saya ingat beliau adalah pedagang. Penampilannya mirip Bang Haji Rhoma Irama. Rambut, jambang, janggut, dan wajah dibuat mirip. Saya menduga beliau fans setia Raja Dangdut tersebut. Yang pada tahun-tahun itu memang sedang naik daun.

Pemilik rumah ini memiliki sebuah cassette player lengkap dengan salonnya. Suaranya bisa menjangkau hingga beberapa rumah sekitarnya. Walau sumber suara ada di ruang tamunya. Saya dan tetangga sering mendapat hiburan gratis. Jenis hiburan tidak terlalu banyak dan gampang didapat pada masa.

Kalau saya jadi familiar dengan lagu-lagu Bang Haji Rhoma itu karena sering ikut numpang dengar. Sebut saja Piano, Begadang, Lari Pagi, 135 juta dan banyak lagi yang lainnya. Tetangga yang satu ini benar-benar seorang fans berat.

Selepas Isya biasanya hiburan itu dimulai. Setau saya tidak pernah ada yang mengeluhkannya. Kami penduduk gang ini rata-rata bukan orang berada. Hiburan sungguh jauh dari urutan atas dari daftar kebutuhan yang harus dipenuhi. Maka ketika ada tetangga yang sedang ingin berbagi hiburan, kami juga ikut menikmati. Soal selera, cukup mengikuti pilihan si empunya cassete player saja.

Tetangga saya ini selain suka dengan dangdut khususnya Bang Haji Rhoma, juga gemar memutar kaset Jula-Juli Cak Kartolo CS. Humor berbahasa Jawa Timuran dengan lakon berbeda-beda. Biasanya satu kaset satu lakon. Saya ikutan tertawa jika mendengarnya. Bahkan hingga saat ini, berselang 20 tahun lebih.

Bedany sekarang tidak perlu lagi menunggu tetangga yang memutar kasetnya. Sudah banyak orang yang memasukkan rekaman Cak Kartolo di Youtube. Saya hanya perlu memutarnya disana. Sungguh menjadi pengobat kangen pada masa kecil dulu.

Bagi saya pribadi, baik Bang Haji maupun Cak Kartolo sudah menjadi legenda. Termasuk tetangga saya itu. Berkat numpang dengar dari beliau masa kecil saya terhibur.

Sumber gambar : freepik.com

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2019/09/23/numpang-dengar/feed/ 0 711
Terima Kasih Eyang Habibie http://katapakwe.com/index.php/2019/09/17/terima-kasih-eyang-habibie/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=terima-kasih-eyang-habibie http://katapakwe.com/index.php/2019/09/17/terima-kasih-eyang-habibie/#respond Tue, 17 Sep 2019 10:50:27 +0000 http://katapakwe.com/?p=703 Terlibat dalam sebuah proses pada masa anak-anak adalah cara terbaik untuk memberikan pengertian terhadap makna sebuah pekerjaan. Karena dia akan merekamnya dalam-dalam dan berkesan lama. Tapi namanya juga anak, saat pertama kali diminta untuk ikut serta membantu bawaanya sudah bete.

Dulu saya juga begitu. Sedang enak-enaknya main bola, Bapak memanggil agar membantunya melepas roda mobil. Secara berkala Bapak memang melakukan tukar posisi ban agar tapak di permukaan habis dengan merata. Reaksi pertama adalah menggerutu tapi tetap dikerjakan juga.

Bapak meminta saya mengendurkan mur pengunci dengan menginjak kunci roda. Setelah itu beliau memompa dongkrak hidrolik yang sebelumnya sudah dipasang di bawah as roda belakang. Dengan begitu mur bisa dilepas seluruhnya dengan lebih mudah karena cukup dengan memutar ban yang sudah di posisi melayang.

Rangkaian pekerjaan sederhana ini yang ingin Bapak perlihatkan kepada saya. Dengan melibatkan kedalam proses, memastikannya di dalam kendali, dan sambil menjelaskan saya menjadi paham alat apa yang harus disiapkan, bagaimana urutannya, dan lain sebagainya.

Diilhami dengan pengalaman tersebut, minggu lalu saya mendapatkan momentum istimewa. Pengibaran bendera setengah tiang. Sebagai wujud bela sungkawa meninggalnya Presiden RI ke 3, Pak Habibie pada tanggal 11 September 2019 pukul 18.

Malam itu juga saya mengajak anak untuk mengubah posisi bendera satu tiang penuh —bendera Agustusan kemarin belum sempat kami turunkan menjadi setengahnya. Untuk tiang bendera kami memanfaatkan potongan pipa PVC yang masih lumayan panjang sekitar 2 meter. Kemudian diikatkan ke penyangga kanopi.

Ternyata anak saya sedang memikirkan ide tercepat membuatnya jadi setengah tiang. Lalu mengusulkan untuk memotong saja pipa PVC menjadi setengahnya. Saya terdiam. sempat kehabisan kata-kata sejenak. Kadang ketidaktahuan malah membuat solusi-solusi kreatif.

Tapi akhirnya saya coba meluruskan. Bahwa yang ingin dilakukan adalah mengubah benderanya menjadi setengah tiang. Dan bukan memperpendek tiang. Walau dari sudut pandang posisi bendera ke tanah menjadi sama, keduanya berbeda jika dilihat dengan sudut pandang posisi bendera pada tiang. Dan benderapun sudah berhasil menjadi setengah tiang.

Saya senang, momentum dapat kami manfaatkan dengan baik. Kami jadi lebih mencintai bendera dan bangsa. Kami jadi memahami cara bekerja bersama.

Terima kasih Eyang Habibie.

Sumber gambar : freepik.com

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2019/09/17/terima-kasih-eyang-habibie/feed/ 0 703
Ibu Kos Dan Para Piranha http://katapakwe.com/index.php/2019/09/10/ibu-kos-dan-para-piranha/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ibu-kos-dan-para-piranha http://katapakwe.com/index.php/2019/09/10/ibu-kos-dan-para-piranha/#respond Tue, 10 Sep 2019 10:55:14 +0000 http://katapakwe.com/?p=678 Sepanjang saya berkantor interaksi terjadi dengan menarik. Setiap hari bertemu menjadikan kami seperti saudara yang memahami sifat masing-masing. Sehingga kedekatan menjadi terbangun. Salah satunya melalui penyematan nama panggilan. Kakak ke Satu, Kakak ke Dua, Kepala Sekolah, Wali Kelas, Koko, Yunohu dan lain-lain.

Penyebabnya bisa macam-macam. Ada yang dikarenakan nama panggilannya sama sehingga kami perlukan untuk mencari nama lain buat salah satunya. Sebut satu nama tidak lagi keduanya datang. Atau juga karena seniority. Lebih tua umurnya, lebih lama di unit kami, atau lebih luas pengetahuannya. Kami panggil dengan Kakak Kesatu.

Ada juga yang disesuaikan dengan kegiatan sehari-hari yang dilakukannya. Contohnya Ibu Kos, panggilan untuk yang selalu menjamin kami jauh dari rasa lapar. Dengan menyediakan macam-macam camilan untuk pagi menjelang siang, makan siang, minuman diantaranya, dan persediaan.

Jadilah selama Ibu Kos ada berarti kesejahteraan kami hari itu terjamin. Semua komponen sistem pencernaan akan siap selalu beraktifitas. Mengunyah. Para Piranha pasti senang. Ini sebutan untuk mereka yang rajin menikmati hidangan Ibu Kos.

Mereka-mereka ini tidak sulit untuk bahagia. Selama hidangan dihadirkan. Maka menjadi Ibu Kos disini mudah. Hadirkan hidangan tepat waktu, kamipun bersuka cita.

Supplier kudapan jajan pasar, gorengan, dan roti yang punya kepentingan agar dagangannya laku keras memahami kebutuhan Ibu Kos. Setiap pagi mereka tidak pernah telat mengantarkan suguhannya. Mereka hafal betul dimana tempat duduk Ibu Kos.

Dengan sigap kotak-kotak berisi pesanan yang sehari sebelumnya sudah disepakati mereka letakkan diatas mejanya. Dan demi melihat kotak-kotak suguhan sudah ada, berbunga-bungalah hati kami. Artinya pagi hingga sore nanti kami sejahtera. Disinilah sebenarnya cerita ini dimulai.

Piranha-piranha biasanya langsung saja membongkar kotak-kotak itu dan mencicip apa saja yang mereka mau. Dengan atau tanpa hadirnya Ibu Kos. Karena percaya kotak yang ada di meja Ibu Kos sudah pesanan sehari sebelumnya.

Namun anggapan ini tidak selamanya benar. Setidaknya buat suatu pagi. Setelah puas menghabiskan lebih dari setengah isi kotak, Kami bercengkerama seperti biasa. Tanpa menyadari telah terjadi sebuah kesalahan.

Yang itu diketahui setelah Ibu Kos datang. Kebetulan hari itu dia sedang ada keperluan diluar kantor sebentar. Maka kamipun segera melaporkan hasil kerja kami padanya. Ibu Kos terkejut. Rupanya dia belum pesan apapun untuk hari itu. Kami lebih terkejut lagi. Kotak pesanan siapa yang dimakan tadi?

Kami cuma bisa berdoa semoga kotak-kotak tadi sudah dibayar. dan yang lebih penting sudah dihalalkan oleh pemiliknya. Dan Kamipun berevolusi menjadi piranha yang lebih sopan.

Sumber gambar : Freepik.com

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2019/09/10/ibu-kos-dan-para-piranha/feed/ 0 678