Kata PakWe http://katapakwe.com Catatan berkelas bebas Sun, 29 Mar 2020 15:34:47 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.3.2 Disemprot Atau Tidak ? http://katapakwe.com/index.php/2020/03/29/disemprot-atau-tidak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=disemprot-atau-tidak http://katapakwe.com/index.php/2020/03/29/disemprot-atau-tidak/#respond Sun, 29 Mar 2020 15:32:32 +0000 http://katapakwe.com/?p=898 Apa saja bisa jadi polemik. Terlebih di masa kini. Setuju dan tidak setuju adalah hal biasa. Seharusnya begitu. Social media mempercepat penyebarannya. Memperbanyak pesertanya. semakin kencang berisiknya.

Disemprot atau tidak, itu yang jadi perdebatan di komplek saya. Group WA riuh saling kirim referensi perlu atau tidaknya penyemprotan lingkungan dengan desinfektan dalam rangka mengurangi penyebaran virus Corona.

Yang setuju menggangap penyemprotan dapat mengurangi potensi penyebaran karena virus dapat bisa mati. Tepatnya diharapkan mati. Penyemprotan kabut desinfektan ini biasa digunakan di industri peternakan maupun makanan. Begitu kata satu tetangga saya. Dia memang banyak berkecimpung dikeduanya, sebagai pengusaha.

Di sisi yang lain, beberapa orang menggunakan jarinya untuk meneruskan screenshoot sebuah artikel yang menyatakan penyemprotan tidak efektif untuk membunuh virus Corona yang gampang menyebar ini. Sudah, itu saja. Usulannya hanya social distancing. yang sebenarnya sudah dijalankan bersama di komplek.

Diskusi berkepanjangan ini tidak segera mendapat respon dari pemangku wilayah –dalam hal ini RW. Karena group pengurus RW juga hangat dengan topik ini. Akhirnya sudah ada RT yang melakukan penyemprotan di areanya. Dengan dukungan warga.

Social distancing tidak menghalangi kegiatan bersama dilakukan. Walaupun petugas penyemprot sudah disiapkan, warga tidak tinggal diam. Mengambil air, membawa ember, mencampur desinfektan, menghibur, memotret dan sharing. Dengan tetap menjaga jarak.

Saya lihat ada hal positif dari polemik ini. Kerjasama masih terbangun antar warga. Walau tidak semua warga RT tempat saya tinggal ambil peran dilapangan, tapi yang hadir menunjukkan masih ada rasa gotong royong diantara kami. Corona mampu menyatukan kami.

Saya berharap Corona juga menyatukan Indonesia. Sudah terlalu lama kita tidak punya musuh bersama yang jelas untuk dilawan. Sejak Belanda dan Jepang. Yang banyak adalah musuh yang namanya sudah jelas tapi membuktikannya tidak semudah mengatakannya. Korupsi.

Dan satu lagi, polemik group WA!

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2020/03/29/disemprot-atau-tidak/feed/ 0
Review Buku : Kisah Tanah Jawa – Jagat Lelembut http://katapakwe.com/index.php/2020/03/28/review-buku-kisah-tanah-jawa-jagat-lelembut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=review-buku-kisah-tanah-jawa-jagat-lelembut http://katapakwe.com/index.php/2020/03/28/review-buku-kisah-tanah-jawa-jagat-lelembut/#respond Sat, 28 Mar 2020 13:48:41 +0000 http://katapakwe.com/?p=895 Saya mulai mengenal nama Kisah Tanah Jawa untuk pertama kali dari Youtube Channelnya. Berisi tentang pengalaman travelling ke tempat-tempat bersejarah dan penggalian kisah-kisah yang tidak tampak. Semuanya direkam dalam video dan buku.

Kreatifitas anak-anak muda sekarang ini selalu membuat saya kagum. Penulis buku ini termasuk didalamnya, yaitu Mada Zidan (Mbah KJ), Bonaventura D. Genta. Saya yang kadang suka penasaran terhibur dengan karya ini.

Buku ini berisi tentang kumpulan profil makhluk-makhluk tak kasat mata yang penulis temui ketika berkunjung ke tempat-tempat penelusuran mereka. Sudah barang tentu anda yang termasuk golongan penakut tidak perlu membaca buku ini. Tapi jika anda termasuk penakut yang penasaran, bolehlah beli satu dan baca.

Saya membeli bukunya versi online lewat Google Play Books. Sekaligus ingin mencoba pengalaman lain membaca. Karena selama ini membaca dengan buku fisik masih lebih enak. Namun perkembangan teknologi tidak perlu ditolak, jikapun belum diterima seutuhnya minimal dicicipi dulu.

Sama seperti isi buku ini. Dunia lelembut memang asing buat saya karena saya termasuk penakut yang penasaran ataupun penasaran yang penakut. Dan buku ini cocok sekali untuk mengobatinya. Apalagi ada sisipan gambar-gambar dari profil yang sedang dibahas.

Tapi jangan berharap ada cerita lengkap tentang tempat yang dikunjungi dan bagaimana makhluk tak kasat matanya berinteraksi. Tidak ada detil seperti itu di buku ini. Lebih mirip sebuah katalog. Katalog lelembut. Seperti PokeDex-nya Game Pokemon Go.

Mungkin yang seperti itu adanya di buku seri Kisah Tanah Jawa yang lain. Saya lihat di Google Play Books sudah ada banyak versi yang terbit. Suatu saat akan saya baca salah satunya walau takut.

Takut tapi penasaran. Penasaran tapi takut.

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2020/03/28/review-buku-kisah-tanah-jawa-jagat-lelembut/feed/ 0
Review Buku: Strawerry Generation http://katapakwe.com/index.php/2020/03/11/review-buku-strawerry-generation/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=review-buku-strawerry-generation http://katapakwe.com/index.php/2020/03/11/review-buku-strawerry-generation/#respond Wed, 11 Mar 2020 10:17:23 +0000 http://katapakwe.com/?p=887 Saya mendapatkan buku ini sudah cetakan ke tiga tahun 2017. Ini berarti fenomena yang dibahas oleh Pak Rhenald Kasali Ph.D. —penulisnya sudah ada dan dikenali beliau. Judulnya Strawberry Generation.

Buah yang berpenampilan menarik, merah merona tapi sangat rapuh terhadap gangguan. Begitu generasi muda yang saat ini ada dianalogikan di kumpulan tulisan beliau. Keberadaannya sangat menarik untuk perubahan ke depan yang lebih baik tapi perlu di tangani dengan hati-hati.

Manusia hebat bukanlah manusia yang memperoleh nilai yang mata pelajaran yang tinggi, melainkan manusia berkarakter kuat, dapat dipercaya, mudah diterima, memiliki growth mindset, berjiwa terbuka dan pandai mengungkapkan isi pikirannya dengan baik.

Rhenald Kasali, Strawberry Generation, p264

Bagi saya yang sudah punya anak tulisan yang ada di buku ini memberikan banyak insight tentang bagaimana penanganan itu harus dilakukan dengan mengenali sifat-sifat generasi strawberry yang inginnya serba cepat (instan) dan gampang menyerah.

Mengapa sampai ada generasi yang seperti itu ? Selain perkembangan teknologi yang sudah cukup pesat dan memanjakan, orang tua juga berperan dalam membentuknya. Lha … saya termasuk didalamnya juga dong. Jadi banyak tulisan yang menohok saya di buku ini.

Dari hal yang sepele saja misalnya menyediakan gadget untuk anak-anak. Dulu dari layar sekecil itu hanya sedikit informasi yang bisa didapat. Pengetahuan baru didapat anak-anak dari sekolah, guru, buku, teman, orang-tua, dan media. Gadget masa kini banjir informasi 24/7. Bahkan hanya cukup berteman dengan satu gadget, anak-anak kita berkembang lebih cepat dari orang-tuanya.

Perubahan terjadi dengan dahsyat. Pengaruhnya di kehidupan saat ini tak kalah dashyat. Rasanya masa depan sudah makin cepat menghampiri. Orang tua seperti saya harus banyak belajar memahami perubahan yang terjadi.

Lewat buku ini Pak Rhenald Kasali mengajak semua pihak untuk dapat melihat, mengidentifikasi, dan mensikapi perubahan yang terjadi. Orang tua, guru, sekolah, perguruan tinggi, pemerintah sebagai regulator diajak untuk terus memahami dan melakukan perubahan.

Karena yang pasti adalah perubahan.

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2020/03/11/review-buku-strawerry-generation/feed/ 0
Optimisme Corona http://katapakwe.com/index.php/2020/03/09/optimisme/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=optimisme http://katapakwe.com/index.php/2020/03/09/optimisme/#respond Mon, 09 Mar 2020 10:33:30 +0000 http://katapakwe.com/?p=877 Gemparnya virus Corona sudah sedunia. Tercatat 109 negara yang sudah melaporkan warganya terserang. Ini berarti 45,23% dari total negara yang ada di dunia atau 56,47% negara anggota PBB.

China, Korea Selatan, Italia, dan Iran sudah mengkonfirmasi lebih dari 5000 kasus di negaranya. Yang disebut pertama malah sudah lebih dari 80 ribu. Karena dari salah satu provinsinya virus ini dikabarkan berasal. Yaitu Provinsi Hubei dengan ibukota Wuhan.

Bersyukur karena sampai saat ini —Saya menulis ini— Indonesia hanya ada 6 kasus. Beberapa minggu yang lalu banyak pihak meragukan jika di Indonesia tidak ada kasus ini. Mengingat begitu luas wilayah, banyak penduduk, dan lalu lintas keluar masuknya.

Yang menarik buat saya adalah gegap gempitanya kabar tentang virus ini. Hampir setiap hari dikabarkan jumlah total penderitanya. Di TV dan media online. Bahkan kalau perlu jumlah total sedunianya. Angkanya tentu besar. Efeknya sangat kuat.

Panic buying terjadi. Ketakutan menyusup ke aliran darah paling dalam. Masker habis. Hand Sanitizer lenyap di pasar. Mie instan dikabarkan lebih laris dari biasanya. Mungkin untuk stok jika diberlakukan kondisi darurat.

Saya jadi teringat dokumentasi National Geographic beberapa tahun lalu yang mengulas komunitas orang-orang yang percaya bahwa hari akhir sudah dekat. Mereka harus mempersiapkan diri dengan life support berupa makanan, minuman, dan survival skill.

Akankah terjadi di Indonesia ? Saya berharap tidak! Allah masih melindungi kita. Selama masih ada orang-orang yang baik di sebuah kawasan, Allah akan menghindarkannya dari bahaya. Insyaallah. Keyakinan sangat penting dibangun sebagai landasan untuk dapat berpikir lebih jernih.

Selain itu, jika melihat jumlah yang sembuh dan yang meninggal, optimisme bisa tumbuh. Per sore ini 62 ribu berbanding 3.800 dari total 110 ribu kasus. Optimisme akan naik lebih tinggi lagi jika melihat bahwa yang dilaporkan meninggal adalah mereka-mereka yang tingkat kondisinya memang sedang tidak fit dan tua.

Dan akan lebih naik lagi dengan melihat laju pertambahan kasus baru setiap harinya yang cenderung mengecil peningkatannya. Ini berarti penanganan sudah dilakukan dengan baik. Tidak ada lagi yang melewatkan begitu saja.

Sayangnya, cukup jarang media yang menyampaikannya dengan bombastis. Entah kenapa cuma jumlah total penderita yang sering di ekspose. Padahal jika data-data tersebut juga disampaikan dengan expose yang bagus, ketakutan bisa sirna. Optimisme tumbuh bersama sedunia.

Kalau mau menggenapi optimisme, bisa dengan mengenali profil dari virus Corona ini. Banyak sumber informasi yang sudah menyediakannya. Komparasi dengan wabah-wabah mendunia lainnya juga sudah banyak yang mengupload. Ini salah satunya.

Jadi mari membangun optimisme dengan memperbanyak pengetahuan dan filtering. Hal-hal yang berbau ketakutan tidak perlu disebar. Biarkan mengendap di hp masing-masing. Untuk kemudian dilupakan. Insyaallah mentari esok kan bersinar lagi.

Photo by 🇨🇭 Claudio Schwarz | @purzlbaum on Unsplash

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2020/03/09/optimisme/feed/ 0
Rompi Shalat http://katapakwe.com/index.php/2020/02/29/rompi-shalat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rompi-shalat http://katapakwe.com/index.php/2020/02/29/rompi-shalat/#respond Sat, 29 Feb 2020 09:56:58 +0000 https://katapakwe.com/?p=870 Rompi shalat sekarang mudah ditemui di masjid-masjid. Cukup banyak pihak yang sukarela menyediakannya. Ada yang memang disediakan oleh pengurus masjid atau sedekah dari komunitas.

Idenya cukup sederhana menurut saya. Menyempurnakan shalat melalui pakaian. Menutup peluang terbukanya bagian punggung ketika sujud yang disebabkan pakaian yang kurang panjang.

Juga untuk menghindari gangguan konsentrasi jamaah dibelakang dari tulisan atau gambar yang terpampang di kaos. Bahkan tulisan petuah bijak pun berpotensi mengganggu ketika dibaca saat shalat berlangsung.

Tapi dari beberapa yang saya temui, agaknya cukup repot ketika mengenakannya. Apalagi buat saya yang berpostur tidak ideal –melebar. Desain rompi shalat yang mirip oblong panjang. Yang jika mengenakan harus dari bagian bawah.

Desain ini akan lebih praktis andai bisa disediakan yang bermodel kemeja. Mengenakannya dari sisi depan rompi. Melepaskannya pun mudah, tidak menimbulkan potensi baju yang di dalam ikut terangkat.

Namun desainernya perlu memikirkan cara menguncinya. Apakah pakai resleting tau kancing baju. Dan disini berpotensi menjadi tidak praktis mengingat rompi shalat biasanya panjang.

Tapi tidak di kancing pun sebenarnya sudah bisa memenuhi kedua tujuan diatas. Mirip outernya perempuan lah.

Tantangan lainnya adalah saat penyimpanan. Harus dicari cara agar saat digantung bisa rapi. Ataupun saat dilipat di rak penyimpanan. Seringkali masjid yang menyediakan sarung dan mukena self service berantakan dibagian ini.

Tak lupa juga dengan kebersihan fasilitas rompi shalatnya. Pengelola masjid juga harus mengakomodir adanya fasilitas ini punya konsekuensi menjamin penggunanya tetap nyaman dari kotoran dan bau tak sedap.

Dan sepertinya itu juga yang perlu dipikirkan oleh pihak-pihak yang bersukarela menyumbangkan rompi shalat. Jangan sampai sumbangan apapun malah menambah beban pengelola masjid yang menerima.

Insyaallah ini menjadikan lebih berkah.

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2020/02/29/rompi-shalat/feed/ 0
Baling-Baling http://katapakwe.com/index.php/2020/02/25/baling-baling/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=baling-baling http://katapakwe.com/index.php/2020/02/25/baling-baling/#respond Tue, 25 Feb 2020 10:20:27 +0000 https://katapakwe.com/?p=864 Awal bulan yang lalu saya dapat kesempatan naik pesawat baling-baling. ATR 72-600 milik Wings Air dari Jogja ke Bandung. Entah kenapa kursi yang kosong mencapai setengahnya.

Apa memang banyak yang menghindar naik pesawat baling-baling? Saya tidak tahu. Tapi beberapa kawan memang demikian. Jika ada pilihan pakai jenis jet, maka baling-baling tidak diliriknya.

Saudara saya lebih ekstrim. Memang sama sekali tidak mau. Apalagi harus mendarat di Bandung. Yang bandaranya tidak jauh dari kota dan deretan gunung.

Memang landing di Bandung bisa bikin pengalaman tersendiri bagi penumpang. Beberapa kali saya merasakan betapa tidak nyamannya menembus awan. Isi perut seperti diaduk. Bandung selalu berkawan gunung. Dan gunung selalu berkawan dengan awan.

Awan kadang jadi musuh penumpang pesawat. Walau tidak bersentukan langsung, awan mampu mengaduk perut orang yang ada di dalam pesawat. Penumpang yang tidak terbiasa sudah pasti pucat.

Saya mengalaminya saat pertama kali naik ATR dengan tidak sengaja. SUB ke BDO transit 30 menit di JOG. Tidak sengaja karena yang beli tiketnya istri saya. Kebetulan waktu itu awan cukup tebal ketika akan mendarat di Bandung. Goncangannya sangat terasa. Mungkin sebenarnya goncangan normal mengingat badan pesawat yang tidak sebesar pesawat jet.

Tapi berbeda dengan yang terakhir saya alami. Semuanya berjalan mulus. Langit Jogja dan Bandung cerah meskipun malam. Sepanjang perjalananpun tanpa goncangan berarti. Nyaman dan perut aman. Apakah ini karena ATR 72-600 punya teknologi baru yang lebih tahan goncangan atau karena awan memang tidak ada? Keduanya mungkin.

Barangkali kawan-kawan saya yang masih takut perlu mencoba tipe ini dan bertemu dengan cuaca yang bersahabat. Supaya hilang ketakutannya. Karena pesawat jenis ini saya pikir sangat dibutuhkan Indonesia yang berpulau dan bergunung.

Penerbangan antar kota atau antar pulau yang cuma memakan waktu 1 atau 2 jam cukup nikmat dengan pesawat baling-baling. Mungkin ini juga yang membuat PT Dirgantara Indonesia (DI) fokus memproduksi pesawat di kelas ini dulu. CN-235 yang menghebohkan dunia waktu itu.

Entah apakah akan ada kesempatan untuk mencoba menaiki pesawat buatan dalam negeri itu. Tapi saya berharap ada.

Sumber gambar: http://www.atraircraft.com/

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2020/02/25/baling-baling/feed/ 0
Review Buku: Guru Aini http://katapakwe.com/index.php/2020/02/21/review-buku-guru-aini/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=review-buku-guru-aini http://katapakwe.com/index.php/2020/02/21/review-buku-guru-aini/#respond Fri, 21 Feb 2020 11:07:16 +0000 http://katapakwe.com/?p=862 Buku lagi aja ya … beberapa waktu belakangan sedang malas untuk menulis. Semoga setelah buku yang satu ini semangat menulisnya rebound. Bukan rebon, walaupun rebon Cirebon enaknya bukan main.

Buku Guru Aini ini adalah karya terbaru dari Andrea Hirata, penulis Laskar Pelangi yang sudah menyebar sedunia itu. Pertama kali menerima buku ini, saya sudah penasaran dengan cover-nya. Kenapa sepatu ?

Novel ini berkisah tentang pemilik sepatunya, seorang yang idealis dan berani mengorbankan kemudahan-kemudahan hidup yang bisa dengan mudah dijalaninya. Alih-alih menjadi profesi yang dicita-citakan anak muda, dia memilih untuk mengabdi menjadi guru. Guru matematika.

Disinilah kejelian pengarangnya. Tema Matematika ini cukup unik untuk menjadi pilihan. Sekaligus beresiko. Jika tak pandai mengolah jalan cerita, habislah dia. Tapi bukan Andrea namanya jika yang seperti ini saja tak mampu.

Nyatanya 3/4 bagian buku ini saya habiskan dalam 2 jam, tanpa mau dikalahkan oleh beratnya mengangkat kelopak mata. Karena ternyata angka tanggal di HP sudah berganti ketika saya tiba pada titik dan halaman terakhir.

Gadis cerdas bersinar, idealisme tinggi tentang Matematika, dan daerah terpencil adalah kombinasi cerita yang bagus. Dibenturkan dengan kenyataan yang jauh dari harapan menjadikan novel ini membara. Idealisme memang harus di uji.

Andrea Hirata mampu menyajikan ujian-ujian itu secara apik. Menjadi greget buat yang baca. Sekali waktu harus menahan napas, kemudian lega.

Lihat saja di bagian perjalanan Aini menuju ketempat tugasnya untuk pertama kali. Berhari-hari. Beragam kendaraan. Berpulau-pulau. Dihempas-hempas. Tapi sampai juga di tujuan.

Namun tak lama. Sebentar kemudian harus menahan napas lagi. Begitulah naik turunnya petualangan yang dikisahkan. Bagai efek roller coaster. Naik perlahan lalu menghujam dengan cepat. Tapi ketika belum selesai orang merasakan efeknya sudah ditambah lagi dengan berbelok dengan cepat.

Tapi tidak berhenti. Ya… karena dibagian akhirnya masih menyisakan tanya. Saya menduga masih akan ada petualangan berikutnya. Hanya Andrea dan Tuhan yang tahu.

Tapi yang jelas saya menikmati novel ini.

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2020/02/21/review-buku-guru-aini/feed/ 0
Review Buku: Dawuk kisah kelabu dari Rumbuk Randu http://katapakwe.com/index.php/2020/02/07/review-buku-dawuk-kisah-kelabu-dari-rumbuk-randu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=review-buku-dawuk-kisah-kelabu-dari-rumbuk-randu http://katapakwe.com/index.php/2020/02/07/review-buku-dawuk-kisah-kelabu-dari-rumbuk-randu/#respond Fri, 07 Feb 2020 04:58:02 +0000 http://katapakwe.com/?p=850 Hampir-hampir saja saya lupa pernah membeli novel ini. Bukunya masih berplastik toko saat saya temukan kembali di lemari buku. Lupa kapan belinya.

Dawuk yang menjadi judul novel ini diambil dari nama tokoh yang paling banyak diceritakan. Hampir di tiga perempat bagian. Nasib hidup Mat Dawuklah yang jadi central.

Kecil terlantar tak terurus. Tak ada teman main. Tak tentu kesehariannya. Ketika besar terlempar ke lembah hitam, jadi algojo siapa saja yang memberi pesanan. Hingga suatu titik balik mendatanginya.

Tapi orang-orang terlanjur tidak percaya. Dan menyeretnya dalam liku nasib pesakitan. Tuduhan demi tuduhan silih berganti. Usaha menghabisi tak terhitung lagi. Tapi Mat Dawuk sudah pasrah.

Rumbuk Randu adalah nama yang lain. Yang jadi setting lokasi cerita ini. Sebuah desa dengan kesulitan geografis yang membentuk budaya masyarakatnya menjadi unik. Mengingatkan saya pada setting pedesaan Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari.

Entah kenapa cerita bersetting kehidupan desa dengan segala permasalahannya selalu saya sukai. Sepertinya karena saya belum pernah tinggal di desa yang jauh dari kota. Sejak kecil saya sudah di kota. Kota kecil yang tetaplah kota.

Mahfud Ikhwan adalah nama yang lain lagi. Tapi yang ini tidak ada didalam cerita. Justru nama ini yang membuatnya. Dengan cerdas! Ya… kisah yang saya ceritakan diatas disajikan lewat jalan cerita di dalam cerita. Mirip di film Titanic tahun 1997. Bahwa semua adegan yang dinikmati sepanjang film tersebut adalah cerita dari orang lain.

Maka alur cerita novel ini bisa jadi referensi bagi yang sedang belajar menulis kreatif. Bahwa alur cerita tidak cuma lurus dari A to Z, tapi juga bisa melompat dan bertingkat. Plus masih menyisakan penasaran di penutupnya.

Tidak perlu dicari-cari bagaimana akhir nasib Mat Dawuk. Penggantungan akhir kadang menjadi kesyikan tersendiri. Selama bukan penggantungan akhir cerita Jiwasraya dan Asabri. Karena yang dua ini bukan novel!

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2020/02/07/review-buku-dawuk-kisah-kelabu-dari-rumbuk-randu/feed/ 0
Klakson Lampu Hijau http://katapakwe.com/index.php/2020/01/17/klakson-lampu-hijau/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=klakson-lampu-hijau http://katapakwe.com/index.php/2020/01/17/klakson-lampu-hijau/#respond Fri, 17 Jan 2020 09:57:29 +0000 http://katapakwe.com/?p=842 Ada hal di lampu merah yang belum bisa saya pahami sampai saat ini. Bunyi klakson dari beberapa kendaraan —seringnya motor— segera ketika lampu hijau menyala.

Jika saya perhatikan, bunyi klakson itu datangnya selalu dari motor yang berada diurutan beberapa dari depan. Kalau ada yang didepan, saya rasa lebih aneh lagi. Apa maunya ?

Tidak salah sih membunyikan klakson. Lha wong dari pabriknya sudah disediakan. Sayang kalau tidak digunakan. Tapi apa iya harus digunakan saat lampu hijau baru menyala. Satu detikpun belum sampai.

Bisa jadi klakson digunakan untuk mengingatkan agar yang paling depan segera berjalan. Karena lampu merah sudah berganti hijau. Kendaraan yang dibelakannya juga bisa mulai berjalan.

Tapi mungkin dia lupa, kecepatan tancap gas setiap kendaraan berbeda-beda. Motor matik mungkin bisa cepat. Lebih cepat dari pada motor manual yang harus menginjak tuas presnelling dulu.

Motor manual masih lebih cepat dari pada mobil yang lebih banyak rodanya dan lebih berat. Mobil kecil lebih cepat bergerak dari pada mobil dengan badan yang lebih besar. Dan seterusnya.

Jadi rasanya tidak mungkin dalam detik pertama semuanya bisa mulai berjalan. Saya makin gagal paham jika ada pengendara yang belum puas dengan bunyi sekali. Dan dia tambah lagi pencetan klaksonnya.

Seolah-olah yang didepannya harus segera memberi jalan. Karena dia mau lewat. Bikin geregetan bukan ?

Emangnya situ siapa Bang ? Ucing pala bebi !!!

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2020/01/17/klakson-lampu-hijau/feed/ 0
Makhluk Pencabut Nyawa http://katapakwe.com/index.php/2020/01/14/makhluk-pencabut-nyawa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=makhluk-pencabut-nyawa http://katapakwe.com/index.php/2020/01/14/makhluk-pencabut-nyawa/#respond Tue, 14 Jan 2020 16:19:26 +0000 http://katapakwe.com/?p=836 Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang yang bertugas memulai tembakan serangan ke mobil yang isinya beberapa orang. Bukan tembakan biasa, tapi rudal.

Itulah serangan yang mematikan Qasem Soleimani oleh Amerika melalui pesawat remote control, drone. Panaslah hubungan Iran – Amerika. Yang sebetulnya tidak punya hubungan diplomatis.

Saya juga tidak berhasil membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang yang menembakkan rudal dan ternyata mengenai pesawat terbang sipil. Tidak ada yang selamat, 176 orang meninggal dunia. Kanada panas, yang lain juga ikutan. Amerika mungkin senyum-senyum.

Yang pertama sengaja, karena memang pihak pelaku memburu buruannya. Yang kedua salah sasaran karena pesawat terbang sipil itu dianggap pesawat Amerika. Teman dari yang telah mencabut nyawa pimpinan pasukan tertinggi Iran beberapa hari sebelumya.

Dunia menghangat. Ada yang khawatir akan terjadi perang dunia ke 3. Yang lebih lebay lagi ada yang mengkaitkan dengan isu kiamat tahun 2020 segera akan dimulai. Mmpppfff….

Tapi biarlah jika memang kekacauan dunia akan terjadi. Saya dan Anda semua sudah bisa tenang sekarang. Sudah ada Keraton Agung Sejagat. Biar pertikaian Amerika – Iran diurusnya.

Saya mau mengurus diri dulu. Karena tanpa sadar saya juga seperti kedua negara itu. Pencabut nyawa! Kepada nyamuk. Lewat, geprek! Baik pakai tangan atau pakai sapu lidi.

Agak modern dikit, pakai raket setrum. Kalau lagi males pakai semprotan racun nyamuk. Obat nyamuk cuma untuk nyamuk yang sakit agar sehat. Haha…

Semprotan yang sama juga sering saya gunakan kepada kecoa. Tanpa belas kasihan. Tanpa interograsi lebih dahulu. Tanpa penyelidikan kesalahannya apa sehingga pantas mati. Kejamlah pokoknya.

Nyamuk dan kecoa adalah 2 hal yang menakutkan bagi Saya. Yang satu bikin tidur tidak nyenyak, sisanya bikin geli selain bau. Ketakutan membuat saya tidak lagi logis. Ketakutan membuat saya menjadi penyerang. Bahkan pencabut nyawa. Duh!

Tapi untuk Iran dan Amerika, saya tidak tahu siapa yang kecoa siapa yang takut kepadanya. Sehingga beraksi seperti itu.

]]>
http://katapakwe.com/index.php/2020/01/14/makhluk-pencabut-nyawa/feed/ 0