Belajar Customer dan Service Experience dari Penjual Bakso

Bukan sebuah restoran, hanya penjual bakso dengan gerobak kayu. Laris. Saya sampai tidak bisa membedakan mana penjual dan pembeli. Berjubel jadi satu mengelilingi gerobak.

Jam tangan saya masih menunjukkan angka 10 pagi, tapi pembeli sudah seperti ini. Berkerumun berpanas-panas dibawah terik. Tidak ada tenda atau payung. Benar-benar hanya gerobak mangkal. Didekat sebuah pos keamanan perumahan yang pintunya tertutup rapat. Persis di pinggir sungai kecil.

Makannya dimana dong ? Ya seadanya tempat. Teras pos, pinggir sungai, dalam taman, lantai, kursi plastik. Itu pilihannya. Yang bawa mobil bisa makan didalamnya. Bisa pakai AC.

Continue reading “Belajar Customer dan Service Experience dari Penjual Bakso”

Ujian Lelaki

Kalau para wanita bilang dia yang paling kuat karena harus melahirkan, coba bayangkan kaum lelaki dalam kondisi ini. Lelaki muda yang masih bernama bocah. Harus rela terluka. Di potong bagian tubuhnya. Ya… tulisan ini tentang lelaki.

Usia muda bukan halangan untuk menghadapi tantangan yang teramat besar. Berhadapan dengan pisau tajam atau belati dari kulit batang bambu –welat, orang kampung saya dulu bilang. Maka kami para bocah kampung harus melewati situasi monumental yang akan merubah sejarah.

Dari seorang bocah melangkah memasuki persiapan baligh. Masa dimana lelaki belajar mempersiapkan kehidupan yang harus ditanggungnya sendiri. Dosa dan pahala. Masa yang berat, harus penuh ke hati-hatian. Karena akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan setelah mati nanti. Fase dimana manusia tidak memungkinkan menambah pahala dan sekaligus dosa dengan usahanya sendiri.

Continue reading “Ujian Lelaki”

Dukung Mendukung

Seorang kawan yang aktivis sosial didaerahnya bercerita. Beberapa kali didatangi tim sukses. Diminta dukungan. Demand yang lagi naik daun belakangan ini. Untuk hajatan besar negara, April 2019 akan datang.

Kawan ini bisa dikatakan sebagai simpul didaerahnya. Pendapatnya di dengar. Jawabannya di nantikan. Bukan skala nasional sih, hanya lingkungan RW. Sebuah desa di kaki gunung utara Bandung Kota. tapi secara administratif masuk ke Kabupaten Bandung.

Kabarnya si Tim Sukses sudah meminta Kawan menyetorkan data diri. Lengkap dengan ukuran baju dan jas. Beberapa hari kemudian bertambah kabar. Sang Kawan ini akan dimasukkan ke dalam tim penasehat spiritual salah satu calon. Bener atau tidaknya saya belum dapat update lagi.

Rasanya semua sudah maklum. Masa-masa seperti ini dukung-mendukung menjadi keramaian. Tiba-tiba dijalanan terpampang wajah-wajah penuh senyum, penuh semangat, penuh kebaikan. Dibarengi dengan slogan-slogan penuh simpati. Beberapa waktu sebelumnya, entah kemana foto-foto itu.

Saya masih penasaran, dukungan macam apa yang dibutuhkan para calon atau tepatnya tim sukses itu. Goalnya sih sudah jelas. Agar di hari H nanti orang-orang memilih dia. Saya tanyakan ini ke Kawan yang sudah menyanggupi pinangan salah-satu tim sukses tadi.

Continue reading “Dukung Mendukung”

Berani Tertawa Setelah Mencoba

Usia bukan halangan untuk mencoba hal-hal ekstrim. Tapi memang halangannya jadi berbeda. Dan jauh lebih banyak dari pada yang muda.

Dulu, orang kampung kami menyebutnya pasar malam. Sekelompok orang yang berpindah-pindah tempat menyelenggarakan taman hiburan malam. Tong Setan, Kuda-Kudaan, Ombak Banyu, jadi menu utama atraksi seminggu penuh. Dipinggir-pinggir area  dilengkapi stand mainan anak-anak, baju, dan gorengan. Malam-malam kami jadi terang.

Saya menikmati kuda-kudaan. Kuda kayu yang berbaris rapi melingkar dan berputar selama beberapa menit. Ombak Banyu lebih ‘menakutkan’ buat saya kecil. Berputar di kursi panjang dengan kaki terayun-ayun di udara. Untuk naik ke tempat duduk, saya harus di gendong dulu.

Di Tong Setan saya dan yang lainnya hanya menonton. Maklum atraksinya tidak untuk ditiru. Naik motor di sisi dalam tong besar. Untuk menontonnya Kami harus naik tangga ke bagian atas tong. Mirip seperti lihat ikan yang berputar di ember air. Cuma ini berisik minta ampun.

Continue reading “Berani Tertawa Setelah Mencoba”

Tengah Siang Kami

Beberapa bulan terakhir saya dan teman-teman dikantor punya kebiasaan makan bersama. Kebetulan ada meja panjang yang cukup untuk 6 orang. Cukup berisik jika sedang penuh.

Sebagai pembuka ritual biasanya kami saling menyakan menu masing-masing. Semakin beragam, semakin rame saling icip. Kalau saya, cukup dengan melimpahkan setengah nasi. Kepada yang masih dalam masa pertumbuhan.

Kelakuan saat makan beragam. Ada yang langsung habis tanpa ba bi bu. Ada yang ditengah jalan baru ingat dan mencari krupuk. Ada yang menyapa setiap orang yang lewat. Maklum meja makannya di jalur lewat orang.

Obrolan-obrolan ringan selalu hadir selama makan. Macam-macam. Nasional viral maupun lokal viral. Kadang tentang yang lagi rame di Instagram. Kadang game. Kadang jodoh. Apapun… dan jarang tentang kerjaan.

Selesai makan, seringnya tidak bubar langsung. Setelah beberes peralatan dan area makan masing-masing, Kami duduk kembali. Makan snack atau browsing-browsing HP. Sambil tetep ngobrol. Kadang saya minum kopi. Panggangan Aroma Jl Banceu Bandung yang tersohor itu. 

Bagi saya, momen ini menjadi penghibur harian. Kesempatan bercanda dengan kawan. Berkomunikasi verbal aktif. Santai sejenak meletakkan beban. Ber haha-hihi.

Sekitar jam 13 siang barulah satu persatu dari kami kembali ke meja masing-masing. Atau ke ruang rapat. Kembali ke alam masing-masing. Mengalami perjalanan melintas waktu berkawan dengan kegiatan.

Menghalangi Rejeki Orang Lain

Group WA komplek tempat saya tinggal menghangat. Topik lama. Muncul kembali. Untuk kemudian tenggelam kembali (biasanya). Satu persatu bersuara.

 Warga komplek kecewa karena Ojol tidak boleh masuk. Yang melarang Opang. Tidak cuma melarang. Menghalangi dan sesekali mencegat. Hingga beberapa kali terjadi perselisihan.

Warga nyaman dengan Ojol. Mudah, murah, dan pelayanan bagus. Karenanya selalu mengecam ulah Opang. Makin turunlah citranya di mata warga.

Sementara itu, lewat bantuan aparat keamanan, berkali kali diadakan mediasi. Ojol hanya boleh di jalan raya. Tidak boleh masuk ke jalan-jalan yang menuju perumahan.

Tentu warga tidak puas. Satu dua ada yang nekad untuk diantar Ojol hingga ke rumahnya. Ojolnya juga punya trik. Agar tidak dicegat. Macam-macam lah.

Continue reading “Menghalangi Rejeki Orang Lain”

Know Your Customer

Pemeriksaan mata saya kali ini berlangsung dengan cepat. Saya juga heran. Begitu dipanggil masuk keruangan langsung dipersilakan duduk menghadap Snellen Chart yang dipasang di dinding seberang melalui kaca mata tester.

Saya mencoba melihat baris terbawah seperti yang diperintahkan. Tulisan terkecil dari yang lainnya. Tidak lama berganti dengan tulisan terkecil pada selembar kertas yang disodorkan ke tangan saya.

“Buram,” kata saya. Petugasnya tersenyum sambil memasangkan lensa baru dan berkata “Kalo sekarang jelas ya ?” Saya mengangguk.

Test pun kelar. Dengan kesimpulan plus 1. Tidak sampai 2 menit. “Sudah masuk masanya”, gumam saya dalam hati.

Continue reading “Know Your Customer”

Dampak Mesin Pencari Bagi Siswa

Siapa sih sekarang ini yang tidak terbantu dengan kehadiran mesin pencari di internet. Sebut saja Google. Sampai-sampai dapat predikat ‘Mbah’. Mungkin karena selalu jadi tempat bertanya. Dan dibenak orang kita, seorang ‘Mbah’ kaya akan pengetahuan.

Sebegitu besarnya pengaruh keberadaan mesin pencari sampai bisa mengubah pola interaksi sosial. Misal ketika dijalan kebingungan mencari suatu lokasi. Beberapa orang memilih menggunakan mesin pencari daripada bertanya ke orang yang ada disekitarnya.

Saya terbantu sekali dengan ‘tools’ ini. Khususnya ketika menyelesaikan sekolah dulu. Mencari data, menelusur jurnal-jurnal, komparasi penelitian dan potongan-potongan buku. Tapi tidak serta-merta hasilnya bisa digunakan untuk menjadi referensi karya tulis ilmiah.

Karena informasi yang bisa diakses di internet belum tentu semuanya valid. Tergantung penulisnya. Minimal tergantung website yang mencantumkannya. Apalagi yang sifatnya User Generated Content (UGC). Web 2.0 memicu tumbuh cepatnya UGC ini.

Continue reading “Dampak Mesin Pencari Bagi Siswa”

Malu Meminta

Waktu kecil dulu saya pernah bilang ke Ibu tentang cita-cita. Tentu lebih banyak ke bentuk fantasi. Sesuai umur. Duduk-duduk uang datang sendiri. Begitu yang saya sampaikan.

Ibu tersenyum dan bertanya balik. “Cuma itu saja ?” Saya jawab, “Iya.”

Masih dengan tersenyum Ibu memberitahu. “Yang kerjanya duduk-duduk saja lalu uang datang sendiri adalah pengemis”.

Di kota kecil saya waktu itu ada beberapa pengemis yang duduk di trotoar depan toko. Didepannya ada kaleng bekas yang beisi uang pemberian dari orang-orang yang lewat.

Saya tersenyum kecut. Ibu tertawa menggoda. Tentu saya menolak. Cita-citanya bukan menjadi pengemis. Tapi Ibu tidak keliru. Mereka hanya duduk sepanjang hari. Uang datang sendiri.

Continue reading “Malu Meminta”