Adaptasi Bersama

Virus mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungannya. Karena dia adalah makhluk hidup. Salah satu ciri makhluk hidup adalah beradaptasi.

Saya jadi terpikir bahwa sesuatu yang hidup harus bisa beradaptasi. Perusahaan yang hidup pun harus bisa beradaptasi. Saat lingkungannya berubah.

Dan saat ini perubahan itu terjadi dengan dahsyat. Karena seluruh dunia sedang sama – sama menghadapi pandemi virus. Dimana-mana menahan diri, membatasi ruang gerak. Barang dan jasa pun kena imbasnya.

Keduanya tidak bisa dikonsumsi dengan cara-cara lama. Perubahan sudah terjadi nyata. Layanan pesan antar berdemand tinggi. Yang tadinya tidak bisa diantar jadi bisa datang kerumah. Yang sudah mengantar memodifikasi agar pelanggan makin percaya.

Continue reading “Adaptasi Bersama”

Ini Yang Akan Terjadi Beberapa Bulan Ke Depan

Saya masih tertarik dengan tulisan sebelumnya tentang adopsi teknologi pada saat masa #dirumahaja. Dimana seperti saya tulis sebelumnya bahwa #dirumahaja ternyata mampu untuk meningkatkan adopsi teknologi telekomunikasi dan informasi. Silakan baca Peluang Ditengah Himpitan.

Walaupun dengan kondisi dipaksakan karena pandemi, namun adopsi teknologi saya pikir berhasil. Lalu jika makin banyak kalangan yang sudah memanfaatkan telekomunikasi dan informasi, kira-kira dua atau tiga bulan kedepan apa yang bakal terjadi ?

Continue reading “Ini Yang Akan Terjadi Beberapa Bulan Ke Depan”

Peluang Ditengah Himpitan

Tidak terasa sebulan sudah kita berada dalam kondisi membatasi ruang gerak masing-masing dalam rangka memutus rantai penularan Covid-19. Seperti berada di dunia baru bagi saya yang terbiasa setiap hari ke kantor. Sekarang kantornya cuma di kursi sudut meja makan.

Sekolah anak saya sekarang di kamarnya. Jam 7 pagi sudah duduk di depan laptop. Webcamnya jadi mesin pelapor yang menyatakan bahwa hari itu dia siap untuk mulai belajar. Gurunya pun cukup dari rumah. Membagi tugas dan me-review hasil pekerjaan kiriman anak didiknya.

Benar-benar dunia baru. Bagi semua orang. Dengan sebab larangan pemerintah untuk bepergian. Tepatnya himbauan untuk di rumah saja. Sepertinya masih sulit untuk menjadi sebuah larangan yang berkekuatan hukum. Baik perumusannya maupun pelaksanaan dan kontrolnya. Mengingat begitu banyaknya penduduk, kepentingan, kebutuhan, dan pertimbangan lainnya sebagai negara berkembang.

Continue reading “Peluang Ditengah Himpitan”

Disemprot Atau Tidak ?

Apa saja bisa jadi polemik. Terlebih di masa kini. Setuju dan tidak setuju adalah hal biasa. Seharusnya begitu. Social media mempercepat penyebarannya. Memperbanyak pesertanya. semakin kencang berisiknya.

Disemprot atau tidak, itu yang jadi perdebatan di komplek saya. Group WA riuh saling kirim referensi perlu atau tidaknya penyemprotan lingkungan dengan desinfektan dalam rangka mengurangi penyebaran virus Corona.

Yang setuju menggangap penyemprotan dapat mengurangi potensi penyebaran karena virus dapat bisa mati. Tepatnya diharapkan mati. Penyemprotan kabut desinfektan ini biasa digunakan di industri peternakan maupun makanan. Begitu kata satu tetangga saya. Dia memang banyak berkecimpung dikeduanya, sebagai pengusaha.

Di sisi yang lain, beberapa orang menggunakan jarinya untuk meneruskan screenshoot sebuah artikel yang menyatakan penyemprotan tidak efektif untuk membunuh virus Corona yang gampang menyebar ini. Sudah, itu saja. Usulannya hanya social distancing. yang sebenarnya sudah dijalankan bersama di komplek.

Continue reading “Disemprot Atau Tidak ?”

Review Buku : Kisah Tanah Jawa – Jagat Lelembut

Saya mulai mengenal nama Kisah Tanah Jawa untuk pertama kali dari Youtube Channelnya. Berisi tentang pengalaman travelling ke tempat-tempat bersejarah dan penggalian kisah-kisah yang tidak tampak. Semuanya direkam dalam video dan buku.

Kreatifitas anak-anak muda sekarang ini selalu membuat saya kagum. Penulis buku ini termasuk didalamnya, yaitu Mada Zidan (Mbah KJ), Bonaventura D. Genta. Saya yang kadang suka penasaran terhibur dengan karya ini.

Buku ini berisi tentang kumpulan profil makhluk-makhluk tak kasat mata yang penulis temui ketika berkunjung ke tempat-tempat penelusuran mereka. Sudah barang tentu anda yang termasuk golongan penakut tidak perlu membaca buku ini. Tapi jika anda termasuk penakut yang penasaran, bolehlah beli satu dan baca.

Continue reading “Review Buku : Kisah Tanah Jawa – Jagat Lelembut”

Review Buku: Strawerry Generation

Saya mendapatkan buku ini sudah cetakan ke tiga tahun 2017. Ini berarti fenomena yang dibahas oleh Pak Rhenald Kasali Ph.D. —penulisnya sudah ada dan dikenali beliau. Judulnya Strawberry Generation.

Buah yang berpenampilan menarik, merah merona tapi sangat rapuh terhadap gangguan. Begitu generasi muda yang saat ini ada dianalogikan di kumpulan tulisan beliau. Keberadaannya sangat menarik untuk perubahan ke depan yang lebih baik tapi perlu di tangani dengan hati-hati.

Manusia hebat bukanlah manusia yang memperoleh nilai yang mata pelajaran yang tinggi, melainkan manusia berkarakter kuat, dapat dipercaya, mudah diterima, memiliki growth mindset, berjiwa terbuka dan pandai mengungkapkan isi pikirannya dengan baik.

Rhenald Kasali, Strawberry Generation, p264

Bagi saya yang sudah punya anak tulisan yang ada di buku ini memberikan banyak insight tentang bagaimana penanganan itu harus dilakukan dengan mengenali sifat-sifat generasi strawberry yang inginnya serba cepat (instan) dan gampang menyerah.

Mengapa sampai ada generasi yang seperti itu ? Selain perkembangan teknologi yang sudah cukup pesat dan memanjakan, orang tua juga berperan dalam membentuknya. Lha … saya termasuk didalamnya juga dong. Jadi banyak tulisan yang menohok saya di buku ini.

Dari hal yang sepele saja misalnya menyediakan gadget untuk anak-anak. Dulu dari layar sekecil itu hanya sedikit informasi yang bisa didapat. Pengetahuan baru didapat anak-anak dari sekolah, guru, buku, teman, orang-tua, dan media. Gadget masa kini banjir informasi 24/7. Bahkan hanya cukup berteman dengan satu gadget, anak-anak kita berkembang lebih cepat dari orang-tuanya.

Perubahan terjadi dengan dahsyat. Pengaruhnya di kehidupan saat ini tak kalah dashyat. Rasanya masa depan sudah makin cepat menghampiri. Orang tua seperti saya harus banyak belajar memahami perubahan yang terjadi.

Lewat buku ini Pak Rhenald Kasali mengajak semua pihak untuk dapat melihat, mengidentifikasi, dan mensikapi perubahan yang terjadi. Orang tua, guru, sekolah, perguruan tinggi, pemerintah sebagai regulator diajak untuk terus memahami dan melakukan perubahan.

Karena yang pasti adalah perubahan.

Optimisme Corona

Gemparnya virus Corona sudah sedunia. Tercatat 109 negara yang sudah melaporkan warganya terserang. Ini berarti 45,23% dari total negara yang ada di dunia atau 56,47% negara anggota PBB.

China, Korea Selatan, Italia, dan Iran sudah mengkonfirmasi lebih dari 5000 kasus di negaranya. Yang disebut pertama malah sudah lebih dari 80 ribu. Karena dari salah satu provinsinya virus ini dikabarkan berasal. Yaitu Provinsi Hubei dengan ibukota Wuhan.

Bersyukur karena sampai saat ini —Saya menulis ini— Indonesia hanya ada 6 kasus. Beberapa minggu yang lalu banyak pihak meragukan jika di Indonesia tidak ada kasus ini. Mengingat begitu luas wilayah, banyak penduduk, dan lalu lintas keluar masuknya.

Yang menarik buat saya adalah gegap gempitanya kabar tentang virus ini. Hampir setiap hari dikabarkan jumlah total penderitanya. Di TV dan media online. Bahkan kalau perlu jumlah total sedunianya. Angkanya tentu besar. Efeknya sangat kuat.

Panic buying terjadi. Ketakutan menyusup ke aliran darah paling dalam. Masker habis. Hand Sanitizer lenyap di pasar. Mie instan dikabarkan lebih laris dari biasanya. Mungkin untuk stok jika diberlakukan kondisi darurat.

Saya jadi teringat dokumentasi National Geographic beberapa tahun lalu yang mengulas komunitas orang-orang yang percaya bahwa hari akhir sudah dekat. Mereka harus mempersiapkan diri dengan life support berupa makanan, minuman, dan survival skill.

Akankah terjadi di Indonesia ? Saya berharap tidak! Allah masih melindungi kita. Selama masih ada orang-orang yang baik di sebuah kawasan, Allah akan menghindarkannya dari bahaya. Insyaallah. Keyakinan sangat penting dibangun sebagai landasan untuk dapat berpikir lebih jernih.

Selain itu, jika melihat jumlah yang sembuh dan yang meninggal, optimisme bisa tumbuh. Per sore ini 62 ribu berbanding 3.800 dari total 110 ribu kasus. Optimisme akan naik lebih tinggi lagi jika melihat bahwa yang dilaporkan meninggal adalah mereka-mereka yang tingkat kondisinya memang sedang tidak fit dan tua.

Dan akan lebih naik lagi dengan melihat laju pertambahan kasus baru setiap harinya yang cenderung mengecil peningkatannya. Ini berarti penanganan sudah dilakukan dengan baik. Tidak ada lagi yang melewatkan begitu saja.

Sayangnya, cukup jarang media yang menyampaikannya dengan bombastis. Entah kenapa cuma jumlah total penderita yang sering di ekspose. Padahal jika data-data tersebut juga disampaikan dengan expose yang bagus, ketakutan bisa sirna. Optimisme tumbuh bersama sedunia.

Kalau mau menggenapi optimisme, bisa dengan mengenali profil dari virus Corona ini. Banyak sumber informasi yang sudah menyediakannya. Komparasi dengan wabah-wabah mendunia lainnya juga sudah banyak yang mengupload. Ini salah satunya.

Jadi mari membangun optimisme dengan memperbanyak pengetahuan dan filtering. Hal-hal yang berbau ketakutan tidak perlu disebar. Biarkan mengendap di hp masing-masing. Untuk kemudian dilupakan. Insyaallah mentari esok kan bersinar lagi.

Photo by 🇨🇭 Claudio Schwarz | @purzlbaum on Unsplash

Rompi Shalat

Rompi shalat sekarang mudah ditemui di masjid-masjid. Cukup banyak pihak yang sukarela menyediakannya. Ada yang memang disediakan oleh pengurus masjid atau sedekah dari komunitas.

Idenya cukup sederhana menurut saya. Menyempurnakan shalat melalui pakaian. Menutup peluang terbukanya bagian punggung ketika sujud yang disebabkan pakaian yang kurang panjang.

Juga untuk menghindari gangguan konsentrasi jamaah dibelakang dari tulisan atau gambar yang terpampang di kaos. Bahkan tulisan petuah bijak pun berpotensi mengganggu ketika dibaca saat shalat berlangsung.

Tapi dari beberapa yang saya temui, agaknya cukup repot ketika mengenakannya. Apalagi buat saya yang berpostur tidak ideal –melebar. Desain rompi shalat yang mirip oblong panjang. Yang jika mengenakan harus dari bagian bawah.

Desain ini akan lebih praktis andai bisa disediakan yang bermodel kemeja. Mengenakannya dari sisi depan rompi. Melepaskannya pun mudah, tidak menimbulkan potensi baju yang di dalam ikut terangkat.

Namun desainernya perlu memikirkan cara menguncinya. Apakah pakai resleting tau kancing baju. Dan disini berpotensi menjadi tidak praktis mengingat rompi shalat biasanya panjang.

Tapi tidak di kancing pun sebenarnya sudah bisa memenuhi kedua tujuan diatas. Mirip outernya perempuan lah.

Tantangan lainnya adalah saat penyimpanan. Harus dicari cara agar saat digantung bisa rapi. Ataupun saat dilipat di rak penyimpanan. Seringkali masjid yang menyediakan sarung dan mukena self service berantakan dibagian ini.

Tak lupa juga dengan kebersihan fasilitas rompi shalatnya. Pengelola masjid juga harus mengakomodir adanya fasilitas ini punya konsekuensi menjamin penggunanya tetap nyaman dari kotoran dan bau tak sedap.

Dan sepertinya itu juga yang perlu dipikirkan oleh pihak-pihak yang bersukarela menyumbangkan rompi shalat. Jangan sampai sumbangan apapun malah menambah beban pengelola masjid yang menerima.

Insyaallah ini menjadikan lebih berkah.

Baling-Baling

Awal bulan yang lalu saya dapat kesempatan naik pesawat baling-baling. ATR 72-600 milik Wings Air dari Jogja ke Bandung. Entah kenapa kursi yang kosong mencapai setengahnya.

Apa memang banyak yang menghindar naik pesawat baling-baling? Saya tidak tahu. Tapi beberapa kawan memang demikian. Jika ada pilihan pakai jenis jet, maka baling-baling tidak diliriknya.

Saudara saya lebih ekstrim. Memang sama sekali tidak mau. Apalagi harus mendarat di Bandung. Yang bandaranya tidak jauh dari kota dan deretan gunung.

Memang landing di Bandung bisa bikin pengalaman tersendiri bagi penumpang. Beberapa kali saya merasakan betapa tidak nyamannya menembus awan. Isi perut seperti diaduk. Bandung selalu berkawan gunung. Dan gunung selalu berkawan dengan awan.

Awan kadang jadi musuh penumpang pesawat. Walau tidak bersentukan langsung, awan mampu mengaduk perut orang yang ada di dalam pesawat. Penumpang yang tidak terbiasa sudah pasti pucat.

Saya mengalaminya saat pertama kali naik ATR dengan tidak sengaja. SUB ke BDO transit 30 menit di JOG. Tidak sengaja karena yang beli tiketnya istri saya. Kebetulan waktu itu awan cukup tebal ketika akan mendarat di Bandung. Goncangannya sangat terasa. Mungkin sebenarnya goncangan normal mengingat badan pesawat yang tidak sebesar pesawat jet.

Tapi berbeda dengan yang terakhir saya alami. Semuanya berjalan mulus. Langit Jogja dan Bandung cerah meskipun malam. Sepanjang perjalananpun tanpa goncangan berarti. Nyaman dan perut aman. Apakah ini karena ATR 72-600 punya teknologi baru yang lebih tahan goncangan atau karena awan memang tidak ada? Keduanya mungkin.

Barangkali kawan-kawan saya yang masih takut perlu mencoba tipe ini dan bertemu dengan cuaca yang bersahabat. Supaya hilang ketakutannya. Karena pesawat jenis ini saya pikir sangat dibutuhkan Indonesia yang berpulau dan bergunung.

Penerbangan antar kota atau antar pulau yang cuma memakan waktu 1 atau 2 jam cukup nikmat dengan pesawat baling-baling. Mungkin ini juga yang membuat PT Dirgantara Indonesia (DI) fokus memproduksi pesawat di kelas ini dulu. CN-235 yang menghebohkan dunia waktu itu.

Entah apakah akan ada kesempatan untuk mencoba menaiki pesawat buatan dalam negeri itu. Tapi saya berharap ada.

Sumber gambar: http://www.atraircraft.com/