TOA Masjid

Dahulu sebelum jaman sosial media, kabar berjalan merambat pelan. Dari tulisan ke meja redaksi lalu ke media cetak disambung ke tempat distribusi yang berantai. Baru kemudian setelah beberapa jam sampai ke warung kopi di sudut kampung saya.

Kemudian dari mata salah satu pengunjung warung itu berpindah lewat mulutnya ke telinga yang lain dan yang lainnya lagi. Betapa lambatnya dan butuh waktu untuk melakukan pengecekan apa yang masuk di telinga kanan dan kiri.

Selain warung kopi, TOA masjid kampung kami jadi media ampuh untuk penyebaran informasi selain adzan dan lantunan murotal dari kaset yang sudah pasti waktunya. Yang insidental biasanya kabar duka setelah diyakinkan oleh takmir dan tetangga sekitar lokasi kejadian. Tapi itu jarang.

Continue reading “TOA Masjid”

Memulai Kembali

Memulai kembali selalu tidak mudah. Setelah libur sebulan saat Ramadhan saya berhenti berkegiatan luar ruang. Menggeser prioritas ke ibadah. Semoga saja benar seperti itu. Karena batas saya hanya berusaha, Hasil biarlah tetap menjadi hak Sang Kuasa.

Minggu ini saya coba untuk mengumpulkan semangat menikmati luar ruangan. Hiking bersama tetangga dan anak-anaknya. Kebetulan kali ini yang ikut cowok semua. Para ibu berguguran sesaat sebelum berangkat. Dengan bermacam alasannya.

Continue reading “Memulai Kembali”

Ukuran Cukup

Saya merasa kesulitan menemukan cukup, kata yang sering didengar dan diucapkan. Tapi sulit untuk di ukur.

Di Ramadhan, untuk mendapatkan ukuran cukup saat berbuka masih jadi misteri yang setiap saat harus di lakukan kalibrasi. Apalagi jika keluar gorengan hangat dari dapur. Ampun dah.

Secara panduan sebenernya gampang. Berhentilah makan sebelum kenyang. Tapi sajian yang terhidang di meja selalu merajuk untuk diambil, digigit, dikunyah, ditelan. Lagi dan lagi.

Mencari titik atau saat berhenti ketika perut sedikit lagi berada dalam posisi kenyang itu berat. Ini karena saya belum selesai dengan diri sendiri.

Masih banyak keinginan ingin makan ini dan itu setelah seharian menahan lapar.

Sekaligus ini menyadarkan saya bahwa puasa yang dilakukan masih belum beranjak dari sekitar itu.

Duuh…

Terkenang Pakde

Saya tersendat di tahap ke lima, menyisipkan humor. Empat tahapan sebelumnya bisa dilalui dengan lancar. Tapi tugas ke lima dari Pakde ini cukup bikin pusing.

Sampai-sampai saya harus menjadi serius memikirkan humor apa yang nyambung dengan kalimat-kalimat sebelumnya. Semakin serius berpikir, semakin tidak humor yang muncul. Haha humor kok serius.

“Untunglah nyadar,” begitu balasan chat Pakde Prie GS merespon curhat saya karena terlalu serius. Saya cuma bisa tersenyum kecut.

Continue reading “Terkenang Pakde”

TV Umum Ibu Kos

Di sekitar akhir tahun 90 sampai awal 2000an fasilitas kos paling mewah adalah telepon umum. Telepon yang bisa dipakai oleh penghuni kos untuk menerima saja.

Fasilitas yang agak lazim adalah TV umum. Boleh dihidupkan dan ditonton oleh siapa saja. Anak maupun ibu kos dan keluarganya.

Jika anak kos nonton bersamaan dengan keluarga ibu kos, kebebasan memilih channel akan sedikit hilang. Sebagai anak kos yang sopan –tampil sopan sudah sewajarnya menyerahkan remot ke tuan rumah.

Jika pilihan ibu jatuh pada channel sinetron, kami anak kos ikutan ber melow ria. Jika siaran berita, kami ikutan jadi seperti pemikir negara. Tapi jika kebetulan siaran sedang tidak sesuai selera, ya sudah ditinggal pergi saja.

Youtube masih belum ada pada tahun-tahun itu. Cewek-cewek joged di Tik Tok juga tidak ada. Malah mungkin merekanya juga belum lahir. Seperti Instagram dan Facebook, masih di angan-angan penciptanya.

Continue reading “TV Umum Ibu Kos”

Makan Pakai Paper Box Yang Mulai Familiar Karena Covid 19

Tapi untuk menjadi familiar tidak harus lewat pandemi.

Makan nasi goreng pakai paper pack sepertinya akan mulai familiar. Sejak pandemi cafe murah meriah yang terkenal tempat saya makan ini menggunakan alat makan sekali pakai.

Sendok logam diganti dengan sendok plastik. Dikemas dalam satu sachet dengan tissue. Gelas dan cangkir berganti dengan paper cup, piring menjadi paper box.

Tapi saya kurang nyaman dengan paper boxnya. Kali ini isinya nasi goreng. Saya merasa seperti makan pakai kontainer. Untuk menyendok harus melongok dalam.

Continue reading “Makan Pakai Paper Box Yang Mulai Familiar Karena Covid 19”

Belajar Dari Panggung Jalanan Sepanjang 7 Kilometer

Sesekali WFO dimasa WFH ini membuat saya melihat perjalanan ke kantor dengan berbeda. Tak lagi membosankan. Saya malah merasa seperti mendapatkan pertunjukan langsung dengan panggung sepanjang 7 kilometer. Itulah jarak rumah saya ke kantor.

Dulu saat setiap hari berangkat dari rumah, rutinitas di pom bensin nampak seperti biasa. Konsumen datang, antri, lalu dilayani. Petugas melayani setelah sebelumnya memasukkan harga beli yang dipesan konsumen, menerima pembayaran, memberikan kembalian jika ada, dan mengucapkan terima kasih.

Ternyata, panjangnya antrian akan lebih pendek jika petugas yang melayani ber baju putih bawahan hitam. Dia pegawai baru yang sedang dalam training. Rupa-rupanya konsumen mempertimbangkan hal ini dalam memilih antrian.

Continue reading “Belajar Dari Panggung Jalanan Sepanjang 7 Kilometer”

Kucing Tiga

Saya merasa bersalah dengan ketiga kucing kami. Mereka sekeluarga awalnya berdelapan. Bapak, Ibu, dengan 6 anak. Yang 5 ekor sudah diadopsi –semoga mereka sehat.

Tersisa 3 sudah berkandang masing-masing. Hari-harinya lebih banyak disana. Makan dan tidur. Si anak suka mengeong saat sendirian.

Mendengarnya berkali-kali sering membuat saya merasa dia sedang menyampaikan sesuatu. Mengingat usianya yang baru 6 bulan.

Continue reading “Kucing Tiga”

Orang-Orang Yang Menulis

Saya kagum dengan beberapa orang rajin menulis. Mereka bisa menyiapkan waktu untuk menyusun huruf demi huruf menjadi bermakna. Mengalirkan isi hatinya kepada setiap huruf untuk bisa disampaikan ke pembaca.

Saya pun kagum dengan mereka yang walaupun sudah menulis bertahun-tahun tapi tetap mampu seperti itu bahkan lebih. Mungkin mereka adalah penulis atau orang yang konsisten.

Pun saya juga kagum dengan orang-orang yang sesekali saja menulis karena kesibukannya tetapi mampu menulis dengan baik. Tulisannya menjelaskan topik dengan gamblang semudah mengajarkan ABC kepada anak kecil.

Continue reading “Orang-Orang Yang Menulis”