Manfaat Asian Games buat Saya dan keluarga

Gelaran Asian Games ke 18 terasa sangat istimewa bagi Indonesia. Perhatian dunia khususnya Asia sedang tertuju ke negara ini. Suksesnya penyelenggaraan sampai kelar nanti akan membuat nama baik Indonesia meningkat karena akan menambah kepercayaan internasional.

Bagi saya, Asian Games ke 18 ini juga memberikan manfaat yang cukup banyak bagi pribadi dan keluarga. Yang paling terasa adalah bertambahnya waktu kebersamaan bersama keluarga. Hampir setiap malam kami menyempatkan menonton pertandingan-pertandingan di TV. Untungnya ada televisi yang bisa merekam dan diputar ulang (link) sehingga pertandingan siang hari saat anak saya sekolah bisa diputar ulang malamnya. Semakin banyak kebersamaan berarti peningkatan ikatan keluarga. Ini penting untuk masa depan.

Manfaat yang kedua adalah bertambah pengalaman baru, nonton pertandingan sepak bola langsung di stadion. Waktu itu pertandingan penyisihan group antara Malaysia vs Korea Selatan di Stadion Sijalak Harupat Soreang Kabupaten Bandung (hasil). Untuk sebuah pertandingan, penonton saat itu tergolong sepi. Banyak kursi kosong, saya sampai menyebut ini sebuah rekreasi. Hanya tempatnya saja di stadion. Yang jelas tidak akan terulang karena belum tentu Indonesia terpilih menjadi tuan rumah lagi.

Yang ketiga, mengenalkan ke anak-anak bahwa di dunia ini kita tidak sendirian. Ada banyak negara yang harus saling bekerjasama. Cara yang paling mudah adalah dengan mengenalkan bendera negara-negara peserta Asian Games. Saya jadi tahu bahwa kamus bendera negara di kepala saya cukup rendah.

Secara umum, dengan banyaknya menonton pertandingan yang diselenggarakan baik di televisi maupun di media online membuat perhatian terhadap dunia olahraga jadi meningkat. Beberapa kali anak saya bertanya nama olah raga yang rupaya dia belum tahu.

Bagaimana denganmu Kawan? Apa manfaat yang dirasakan ?

Selamat Pagi Tetangga

Masih cerita tentang pagi, saat dimana hidup mulai berjalan. Ada yang pelan sambil menggeliat malas,  ada yang penuh drama, ada pula yang bersemangat. Paginya sama, tapi mungkin tidak sama isinya bagi setiap orang.

Beberapa tetangga saya senang mengisi paginya dengan jalan kaki keliling komplek.  Selepas subuh berjamaah di masjid, jalan pagi dimulai. Kadang berdua, kadang juga hingga berenam. Masih gelap hingga terang. Ada yang berbaju koko, ada yang bersarung, pun juga yang berjaket. Cukup lumayan jarak tempuhnya, sekelilingan bisa sampai 2,5 km dengan rute naik turun. Walau jalan kaki, keringat bisa mengucur.

Ketika pagi makin terang dan jamaah jalan subuh –begitu saya sering menyebut sudah kembali ke rumah masing-masing, satu-dua motor sudah menyusur jalan ke luar komplek. Anak tetangga yang berseragam SMA biasanya sudah berangkat menuntut ilmu. Jarak ke pusat kota memang tidak jauh, tapi lalu lintas padat membuat banyak siswa sekolah harus menembus dingin agar tidak terlambat.

Ini berlaku juga untuk tetangga saya yang anaknya masih di SD tapi sekolahnya di tengah kota sementara kantor ayahnya agak kepinggir. Jadilah setiap pagi, sekitar jam 06.00 Ayah, kakak dan adik sudah siap di atas motor. Karena adik masih kecil, duduk diantara ayah dan kakak. Ibunya mengikatkan kain panjang ke badan ayah dan adik agar tidak jatuh.

Berjarak beberapa rumah dari sana, anak tetangga saya cepat-cepat berlari keluar rumah memanggil penjual roti keliling yang suaranya tidak asing lagi karena setiap pagi berkeliling dengan lagu yang sama dan diwaktu yang sama pula. Pilih-pilih sebentar lalu menyerahkan uang setelah mendapatkan rotinya dan berlari masuk rumah kembali.

Sementara tukang roti melanjutkan berkeliling yang makin lama suaranya makin tidak terdengar karena menjauh, mobil tetangga yang lain pelan berjalan menggelinding untuk membawa penumpangnya menuju tempat kerja. Tetangga yang lainpun susul-menyusul, satu persatu menuju tempat kerja masing-masing. Tersisa suara burung gereja yang mulai bercanda menyambut panas mentari.

Dan saya mulai sarapan setelah capek berkeliling ……

 

Udara pagi

Sudah 2 minggu ini saya mengalami gangguna pernapasan, efek dari flu yang sempat menyerang. Dimulai dengan sakit tenggorokan yang menyebabkan susah menelan makanan disambung rasa panas pada malam hari. Puncaknya yang paling terasa panas ketika bangun tidur. Beruntung ini hanya saya alami 2 malam saja.

Tapi penderitaan bukan kelar, gangguan beralih ke hidung. Lobang kanan mampet! Ambil napas jadi tidak lancar, ngobrol ndak enak. Meler berat, tidur ndak nyaman. Perlu satu jam sebelum bisa tidur pulas karena kelelahan bolak balik badan diatas tempat tidur.

Sudah beberapa tahun ini saya tidak mau mengkonsumsi obat ketika flu menyerang. Alasannya karena memang belum ditemukan obat untuk mengatasinya hingga sekarang. Yang ada hanyalah vitamin untuk meningkatkan daya tahan dan lawan tubuh.  Hingga tubuh mampu melawan penyakit itu dengan kekuatannya sendiri.

Maka saya lebih memilih untuk ‘memaksakan diri’ berolahraga di bawah sinar matahari pagi ketika alarm tubuh sudah menunjukkan ada yang tidak beres. Ketika badan saya fit, sekali  atau dua kali olahraga gejala flu yang terasa akan sudah hilang. Tapi. ketika level fitness menurun, seperti beberapa minggu belakangan ini, maka perlu waktu yang agak panjang untuk menstimulasi tubuh agar mampu melawan.

Dimasa seperti itu, bantuan asupan sehat cukup bermanfaat. Sayur dan buah jadi motor penggerak tubuh untuk menumbuhkan pertahanan yang akan mampu memukul balik penyakit. Selain itu, bantuan udara pagi diperlukan !

Ya, ketika tenggorokan mulai terasa tidak enak atau hidung buntu sebelah, sebisa mungkin ketika bangun tidur saya segera keluar rumah menghirup udara bersih pagi. Sehabis subuh favorit saya, sekitar jam 5-6 pagi. Dengan hanya beberapa tarikan napas, dahak dan ingus bisa dikeluarkan dengan gampang. Tidak perlu pakai obat ataupun ‘kilik-kilik’ hidung hingga bersin.

Murah-meriah dan cespleng …. !

Alam Kaya

Alam ini kaya, segala kebutuhan untuk menunjang hidup tersedia selalu. Otomatis tanpa campur tangan manusia untuk membuatnya ada. Sistem yang mendukung ketersediaannya pun terjaga siap. Ambil contoh rumput –makanan utama sapi dan kambing banyak tumbuh di alam ditunjang dengan sifatnya yang mudah tumbuh dan cepat berkembang. Maka berkembanglah beragam tumbuhan dan hewan serta ilmu-ilmu tentangnya.

Allah sebaik-baiknya pencipta dan pemelihara dalam keseimbangan. Dari yang paling kecil hingga alam raya ini berjalan dalam perjalanannya masing-masing namun dalam keharmonisan tinggi. Dan semua dilakukan tanpa bantuan siapapun. Tidak juga manusia. Maka ketika manusia berusaha menirunya, perlu menyiapkan banyak hal sebelum sistem tiruan alam itu mulai berjalan, dan butuh lebih banyak hal lagi untuk dapat mempertahankan stabilitasnya. Ini bisa berarti biaya yang tinggi.

Contohnya saya pernah memelihara arwana silver Irian yang ditempatkan di sebuah akuarium ukuran 40cm x 60 cm x 50 cm. Untuk suplai udara dan air yang jernih, harus disediakan pompa air listrik yang tidak boleh mati terlalu lama karena akan membuat ikan lemas kekurangan oksigen. Lalu untuk makanan, setiap Rabu dan Sabtu malam saya ke pasar ikan untuk beli ikan pakan hidup dan kadang kelabang. Listrik, ikan pakan, kelabang butuh biaya, biaya untuk kelangsungan hidup seekor arwana.

Diwaktu yang lain, saya mendapat hadiah sepasang kucing hibah dari mertua kawan. Karena sudah berani untuk berniat memelihara, maka menjamin makan, kebersihan kandang, dan kesehatannya jadi tanggung jawab. Tepat sebulan setelahnya  lahir 3 ekor anak kucing lucu-lucu. Dan ini berarti bertambahlah tanggung jawabnya. Yang tadinya hanya menyediakan makanan dan sarana kebersihan untuk yang dewasa saja, sekarang ditambah dengan makanan dan kebersihan bayi. Kadang saya bertanya-tanya, sampai kapan kemampuan saya dalam ‘menanggung’ kehidupan mereka?

Sementara alam ini mampu merawat berjuta-juta kucing ataupun arwana tanpa takut biaya. Sungguh kaya!

 

Cing!

Cukup lama saya mengenal kucing dan 3 tahun belakangan ini dirumah ada 3 ekor, berawal sepasang bapak dan emak pemberian kawan lalu sekarang bertambah 1, betina lucu nan gendut. Masih belia, sekitar 9 bulan. Setiap ada orang mendekat ke kandangnya dia selalu bersemangat untuk bermain. Tipikal usia anak-anak yg penuh energi dan butuh penyaluran.

Perkenalan saya dengan kucing dimulai dari Ibu ketika saya di kelas 1 SMP. Suatu sore tiba-tiba saja datang seekor dalam kondisi sakit tidak mampu berdiri lagi. Tidak ada luka luar yang tampak. Tapi si kucing tidak banyak bergerak, hanya rebahan dan mengedipkan mata hingga berhari-hari. Ibu membuat alas tempat tidur untuknya dari keset sabut kelapa. “Ini supaya dia hangat,” kata Ibu kepada saya.

Hari ke enam si kucing bangkit dari tempat tidurnya. Kami bergembira karenanya. Saya terheran-heran dibuatnya. Enam hari hanya makan seiris daging bakso tanpa minum masih bisa sehat lagi ?! Tapi kegembaraan itu tak lama. Si kucing menghilang tiba-tiba, layaknya kedatangannya dulu. Kami sama sekali tidak punya petunjuk harus mencarinya kemana. Tidak ada asesoris di tubuh si kucing saat datang, membuat kami sepakat bahwa dia mungkin adalah kucing liar dan bukan dipelihara oleh seseorang. Ini didukung dengan lungkungan saya tinggal waktu itu belum sepadat sekarang. Masih banyak lahan kosong bersemak yang merupakan tempat cocock untuk sarang hewan.

Dua hari berselang, kejutan terjadi. Kucing kembali datang! Kali ini tidak sendiri, bersama tiga ekor kucing lain yang masih kecil tapi sudah bisa bermain. Lucu-lucu. Bertambah ramailah rumah kami. Ibu senang, saya senang, Ayah juga. Tapi beliau bertambah kerepotannya karena harus membersihkan lebih banyak kotoran kucing. Ibu paling tidak suka bau kotorannya.

Sama seperti sekarang ini, dirumah, sayadibuat repot karena harus menyediakan waktu khusus setiap pagi untuk memberi makan dan persediaan air minum di ketiga kandang tempat pelihaaraan kami itu. Dan yang paling krusial adalah membersihkan kotoran yang ada di bak pasir mereka. Istri dan anak saya meski senang memelihara namun untuk bagian itu mereka ‘berbaik hati’ memberikan saya peran seluas-luasnya 😀

Oalah Le…

Bertemu dengan orang-orang baru selalu membawa kesan yang bermacam-macam, suka duka jenaka sedih marah dan lain-lain tergantung situasi dan kondisi pada waktu itu. Menggali kembali peristiwa-peristiwa tersebut, dapat membuat  penggalinya terbawa kembali ke masa itu. Dan saya sedang mengalaminya…

Sekitar tahun 2000-an saya dan beberapa kawan mendapatkan kesempatan berkunjung ke sebuah daerah yang cukup jauh dari kota dalam rangka mengenalkan internet lebih tepatnya cara menggunakan komputer untuk mengakses internet. Waktu itu keberadaan mesin pencari informasi menjadi titik awal untuk pengalaman baru menelusur jutaan informasi yang ada. Yahoo masih menjadi satu-satunya. Dengan Yahoo kita bisa mencari apapun. Begitu bahasa gampang kami untuk memudahkan pemahaman pendengarnya.

Mengenalkan Yahoo kepada komunitas pelajar yang bahkan komputer saja hanya tahu nama tanpa sering menggunakannya menjadi tantantang terberat kami. Boro-boro ngomong ngalur ngidul yang muluk-muluk tentang jual beli online lah, instant mesenger lah, pegang mouse aja masih mleset-mleset. Hasilnya… sebelum sampai ke Yahoo kami harus set back jauh kebelakang dengan mengajari memegang mouse yang benar, cara mengakses Windows, mengenalkan bagian-bagian browser. Karena keterbatasan sarana maka materi harus disampaikan ulang dalam beberapa kelas yang berututan. Fiiuuuuuhhh…

Beruntung beberapa anak sudah lebih mengenal komputer dan internet. Mereka sudah mahir buka Windows dan browser serta langsung membuka Yahoo, gerbang ke semua informasi. Karena dengan Yahoo orang bisa mencari apapun. Dan salah satu peserta dengan sigap membukanya lalu mengetikkan sebuah kata…. ISTRI.

Oalah leeee……