Mereview Buku

Seorang kawan menyarankan melakukannya. Karena dilihatnya saya membaca buku siang tadi. Sempat terbengong ketika mendengarnya. Belum pernah saya melakukan.

Respon seseorang terhadap sebuah usulan yang diperkirakan menambah pekerjaan adalah menolak atau menerima. Menolak dengan berbagai alasan, atau menerima dengan segudang pertanyaan how to do it.

Continue reading “Mereview Buku”

Lari Dari Rumah

Ini bukan negatif, tapi tagar yang saya gunakan untuk kegiatan yang sedang dicoba. Tagar lengkapnya begini #LARIDARIRUMAH #RUNTOOFFICE. Saya peruntukkan hobi olahraga lari yang saya geluti.

Tapi bukan lari seperti atlit-atlit elit runner. Cukup untuk gerak badan dan cari keringat saja. Yang penting berimbas pada kesehatan dan ketahanan terhadap serangan sakit.

Tagar ini untuk menyemangati diri sendiri karena 2 tahun belakangan tren penurunan saya alami. Lebih karena faktor semangat yang mengendor. Koleksi medali finisher tak lagi jadi motivasi. Latihan mingguan berasa mentok disitu-situ saja tanpa perbaikan.

Continue reading “Lari Dari Rumah”

Ini Ceklist Saya

Kawan, mari melanjutkan tentang ceklist kegiatan self development kemarin lusa. Saya suka lupa jika tertunda terlalu lama. Mood untuk menulis topik itu hilang.

Membuat ceklist adalah langkah awal untuk melakukan review. Sebagai orang yang mudah bosan, cukup banyak kegiatan yang dilakukan. Biasanya belum tuntas yang satu, sudah berganti ke yang baru.

Terus begitu akhirnya menumpuk. Dan jika sudah banyak tumpukannya, bisa jadi malah lupa apa saja yang sudah dimulai, apa statusnya, masih layak dilanjutkan atau tidak. Maka membuat ceklist memberikan kesempatan untuk tahu itu.

Continue reading “Ini Ceklist Saya”

Pantai Kelabu

Maaf, sedang bosan melanjutkan tulisan tentang self development kemarin. Sepertinya saya termasuk orang yang gampang sekali ter-distract. Sebentar-sebentar bosan. Sebagai gantinya, saya tampilkan foto ini.

Saya sampai kesini tahun 2009 yang lalu. Pantai yang sepi. Hanya ada pasir, air laut, awan, sinar matahari sore yang menelusup disela-sela awan. Tak sudi tertutupi eksistensinya.

Continue reading “Pantai Kelabu”

Kenapa Harus Self Development ?

Jika kemarin saya terpikir tentang membuat ceklist kegiatan self development yang sudah dan sedang dimulai sebagai tahapan awal untuk melakukan evaluasi, ada baiknya saya sambung dengan cerita tentang kenapa harus melakukan self development.

Saya pikir pekerjaan saat ini memang harus disyukuri. Karena saya masih punya waktu untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang sifatnya self development.

Saya masih bisa membaca artikel online. Saya masih bisa belajar fotografi lewat Youtube. Dan saya masih bisa nyetel Spotify. Nyaman bukan ?

Dan kenyamanan itu melenakan. Sempat saya terlena hingga beberapa tahun. Sampai kebosanan susul menyusul. Sampai merasa ada yang keliru dengan hidup saya. Seharusnya tidak begini.

Dan disaat seperti itu, orang gampang terjerumus dalam hal yang negatif. Tanpa disadari. Yang merugikan secara jangka panjang. Minimal rugi waktu. Melewatkan potensi. Tau-tau disekitarnya sudah berubah jadi lebih baik. Tau-tau yang lain sudah jadi lebih maju.

Continue reading “Kenapa Harus Self Development ?”

Ceklist Kegiatan

Kerugian adalah jika hari ini tidak lebih baik daripada kemarin.

Bagi saya kalimat tersebut adalah sebuah provokasi. Agar siapa saja selalu berusaha menjadi lebih maju. Terus tumbuh dan berkembang. Dinamis tidak statis. Bergerak, tidak diam.

Cukup banyak keinginan untuk menjadi seperti itu. Biasanya saya memaksakan diri untuk mencoba hal-hal yang baru. Untuk mendapatkan pengalaman baru.

Tentu dengan segala resikonya. Harus meluangkan waktu. Harus meluangkan tenaga. Harus mengeluarkan biaya. Harus mengeluarkan pikiran. Too lebay ….

Hal-hal baru yang saya coba biasanya yang bersifat pengembangan diri. Gampangnya, saya ingin melakukan yang belum pernah dilakukan.

Sebagai karyawan, sungguh mudah bagi saya untuk menjadi merasa jenuh dan bosan. Datang kekantor jam 8 pagi, pulang jam 5 sore. Hari Senin sampai Jumat. Weekend libur. Begitu seterusnya.

Jika masa jenuh dan bosan terjadi, saya biasanya tidak bisa melakukan sesuatu. Tidak melakukan hal yang produktif. Paling-paling browsing dan nonton Youtube. Badan dan pikiran hanya mau diajak yang ringan-ringan.

Continue reading “Ceklist Kegiatan”

Debat

Debat politik. Saya tidak paham salah satu ataupun keduanya. Tidak ada manfaat yang saya rasakan. Pelakunya tidak akan mendapatkan kemenangan. Rasa puas mungkin iya. Tapi tidak akan lama. Haus akan kepuasan lainnya menyusul.

Karenanya debat apapun sebisa mungkin akan saya hindari. Masih bisa hidup dengan nyaman kok meski tanpa debat. Ikut debat bukan hebat. Tidak ikut debat bukan juga berarti tidak hebat.

Pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing

Cuplikan diatas saya ambil dari terjemahan KBBI daring untuk kata dasar ‘debat’. Jelas sekali tujuannya bukan untuk mencari titik tengah. Tapi mempertahankan pendapat. Tentunya yang baik adalah yang didukung dengan data dan fakta.

Continue reading “Debat”

Hidup ini aneh

Tidak cuma normal. Hidup ini kadang tidak normal juga. Aneh. Keduanya membentuk hidup. Hidup kita, manusia. Sejak dipikiranpun kadang saya temui ketidak normalan. Minimal di batas kenormalan saya.

Haha makin bingung kan? Arah tulisan ini makin tidak normal. Silakan berhenti kapan saja, tidak usah meneruskan membaca sampai selesai sekiranya dianggap tidak bermanfaat.

Ada 2 pemikiran dan sikap menarik dari kawan yang saya temui dalam 2 minggu terakhir. Lucu karena menurut diluar batas normal saya. Tapi anehnya nyata.

Kawan saya yang pertama penyayang kucing. Dia cerita, kasihan ke kucing betinanya yang sedang birahi. Mengeong kesana kemari di dalam rumah —dia memeliharanya di dalam rumah.

Lucunya, kawan saya ini sempat mengutarakan pilihan alternatif untuk melakukan sterilisasi ke si kucing agar tidak kesakitan saat birahi. Dia menganggap dengan suara mengeong itu suara kesakitan. Entahlah.

Continue reading “Hidup ini aneh”

Ramadhan, Pintu-pintu Dibuka dan Ditutup

Jika telah datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu

Cukup lama saya menyimpan pemikiran awam tentang hadist ini. Yang pastinya muncul karena keterbatasan pengetahuan saya tentang Ramadhan dan seluk beluknya.

Jika dilihat terjemahan hadist dalam bahasa diatas, nampak cukup jelas. Bahwa pintu-pintu surga di buka dan pintu-pintu neraka ditutup dan setan di belenggu.

Tapi saya malah terbawa logika. Setiap tahun Masehi selalu ada bulan Ramadhan. Ada ibadah wajib bagi muslim selama periode itu. Puasa. Yang berpuasa tentu muslim yang masih hidup.

Nah, surga dan neraka itu kan masih nanti. Logika saya menyentak. Lalu apa terjemahan tadi berarti menyejajarkan yang sekarang dengan yang akan datang. Jadi pintu-pintu yang dibuka dan ditutup itu buat siapa ? buat kapan ? Kan yang puasa masih hidup.

Continue reading “Ramadhan, Pintu-pintu Dibuka dan Ditutup”