Jika Ramadhan Ini Usai

Jika ramadhan ini usai… masih bisakah aku mengendarai motor tanpa membuat yang lain was-was, tidak memotong jalur sembarangan, dan memberi jalan bagi yang lain?

Jika ramadhan ini usai… masih bisakah aku menjadi sumber senyum istriku, menjadi sumber ketenangan anak-anakku, dan sumber kedamaian di rumahku ?

Jika ramadhan ini usai… masihkah perutku mampu menahan lapar, mataku mampu menundukkan pandangan, telingaku mampu menahan cibiran, dan mulutku mampu mengucap kebaikan?

Jika ramadhan ini usai… masih ringankah langkah kakiku menuju tempat ibadah, leluasakah tanganku merogoh dompet untuk orang lain, dan lincahkah badanku mendukung kemakmuran masjid?

Jika ramadhan ini usai… masihkah lembar-lembar Al-Qur’an menjadi teman meniti waktu-waktuku, kajian-kajian ilmu bergantian memasuki lorong telingaku?

Jika ramadhan ini usai… masih mudahkah mengalahkan beratnya turun dari pembaringan dimalam hari, mengalahkan dinginnya air wudlu, dan mengalahkan beratnya gulungan sajadah ?

Jika ramadhan ini usai… aku akan tahu apa pengharapan selama ini. Berlimpahnya pahala kah? Surga nan indah kah? Atau pemilik keduaNya?

Jika ramadhan ini usai… janganlah pernah usai.

Jika ramadhan ini usai…

Sumber gambar: freepik.com

Menyongsong Keberkahan

Ramadhan bukan alasan bagi kita untuk bermalas-malasan dan menurunkan irama harian. Sejarah muslim mencatat pada bulan ini pula terdapat beberapa peristiwa sukses yang tidak boleh dilupakan.

Menurut KH Yusuf Muhammad, setidaknya ada 4 peristiwa besar yang patut diambil hikmahnya, antara lain :

  • Pada Ramadhan tahun ke 8 Hijriah, Nabi Muhammad SAW berhasil mengislamkan orang-orang di Thaif. Sebuah daerah yang paling menolak ajaran yang disampaikan Nabi.
  • Nabi merebut kembali kota Makkah (Fathul Makkah).
  • Pada 28 Ramadhan 92 Hijriah Thariq bin Ziyat berhasil menaklukkan tanah Andalusia.
  • Pada 8 Ramadhan 1364 Hijriah kemerdekaan Republik Indonesia dilakukan.

Peristiwa-peristiwa tersebut seakan mengingatkan umat muslim untuk terus bersemangat pada bulan Ramadhan. Yang berdagang tetap berdagang. Yang mengajar tetap mengajar. Yang kantoran tetap ke kantor.

Tentu dengan dilandasi niat untuk beribadah. Karena ibadah bukan hanya urusan di masjid saja. Semua permukaan bumi ini adalah tempat ibadah. Banyak kesempatan yang bisa diraih pahala amal ibadahnya.

Teoritisnya seperti itu. Dan teori lebih mudah daripada praktek. Contoh kecil saja ketika berkurang waktu istirahat malam karena harus makan sahur, di awal Ramadhan akan berdampak kepada stabilitas tubuh. Paginya lemas, siangnya ngantuk, sorenya lapar. Lengkap sudah.

Namun ini semua menjadi bagian dari keberkahan Ramadhan. Satu paket istilahnya. Penelitian menyebutkan efek tersebut merupakan proses detoksifikasi tubuh yang akan hilang menginjak 10 hari kedua dan seterusnya.

Wallahu a’lam bishawab

Sumber gambar: freepik.com

Zakat Fitrah Sebagai Pembersih Bagi Orang Yang Berpuasa

Sebuah catatan kecil dari kajian singkat tarawih malam ke 16 oleh Ustadz Syaiful Hamdi di Masjid Daarurrahman.

Ramadhan diakhiri dengan menunaikan zakat fitrah. Ini diwajibkan bagi semua muslim meskipun di dalam Al-Qur’an tidak disebutkan kata tersebut. Tidak bisa ditinggalkan meskipun hanya disebutkan dalam hadist.

Hal ini disebabkan karena hadist mempunyai 4 fungsi terhadap Al-Qur’an, yaitu :

  1. Menguatkan apa yang disampaikan Al-Qur’an. Sebagai contoh adalah perihal berwudlu.
  2. Menjelaskan apa yang telah dimuat dalam Al-Qur’an. Contohnya perintah shalat yang dijelaskan mengenai tata cara shalatnya melalui hadist.
  3. Menghapus yang disampaikan di Al-Qur’an. Contohnya wasiat bagi yang akan meninggal yang dijelaskan pada hadist bahwa tidak ada wasiat untuk ahli waris.
  4. Menetapkan hukum yang tidak ada dalam Al-Qur’an. Contohnya di Al-quran hanya disampaikan dilarang makan babi. Namun hadist menjelaskan lebih dari itu.

Adapun hadist yang menjelaskan tentang zakat fitrah ini salah satunya adalah sebagai berikut:

Zakat Fitri merupakan pembersih bagi yang berpuasa dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan kata-kata keji (yang dikerjakan waktu puasa), dan bantuan makanan untuk para fakir miskin”.(HR. Abu Daud)

Dengan demikian berdasarkan hadist diatas terdapat 2 fungsi zakat fitrah yaitu sebagai pembersih bagi orang-orang yang telah berpuasa di bulan Ramadhan. Yang kedua adalah sebagai makanan bagi orang miskin.

Kemudian mengenai waktu untuk mengeluarkan zakat fitrah disebutkan dalam hadist berikut.

“Barang siapa yang membayar zakat fitrah sebelum shalat ied, maka termasuk zakat fitrah yang diterima, dan barang siapa yang membayarnya sesudah shalat ied maka termasuk sedekah biasa (bukan lagi dianggap zakat fitrah)“. (HR. Bukhari dan Muslim)”

Sehingga terkait dngan waktu penunaian zakat fitrah ini maka hukumnya bisa dibedakan menjadi 4 sebagai berikut:

  1. Mubah jika dikeluarkan diantara 1 sampai dengan akhir Ramadhan. Dan ini sah.
  2. Wajib jika dikeluarkan pada waktu setelah berbuka terakhir sampai dengan sebelum Subuh. Ini juga sah.
  3. Sunnah jika dikeluarkan dari Subuh sampai dengan sebelum shalat Idul Fitri. Periode ini adalah waktu yang terbaik dan sah.
  4. Haram jika dikeluarkan setelah shalat Idul Fitri dan ini menjadi tidak sah. Insyaallah dihitung sebagai sedekah.

Memasuki setengah masa Ramadhan dan menyiapkan untuk menyongsong 10 hari terakhir maka mari bersama-sama untuk juga mempersiapkan zakat fitrah terbaik dengan memperhatikan petunjuk besaran dan waktu yang telah ditetapkan.

Wallahu a’lam bishawab.

Sumber gambar: freepik.com

Hijrah Menjadi Pribadi Yang Lebih Baik

Sebuah catatan kecil dari kajian singkat tarawih malam ke 15 oleh Ustadz Aslam di Masjid Daarurrahman.

Beberapa tahun yang lalu Bandung digegerkan dengan fenomena geng motor yang meresahkan. Mereka menganggu orang di jalanan. Pada beberapa kejadian hingga menghilangkan nyawa. Parahnya pelaku-pelaku dalam usia remaja.

Kenakalan-kenalakan remaja tersebut berpotensi untuk mengikis keimanan pelakunya bahkan kemungkinan hilang selama-lamanya. Padahal jika dirunut penyebabnya sebagian besar berawal dari hilangnya kasih sayang dari orang-orang disekitarnya.

Karenanya mereka perlu diberikan apa yang dibutuhkan tersebut. Pendekatan keagamaan dimulai dengan pendekatan kasih sayang. Mendatangi mereka dan memahami kebutuhannya.

Apalagi jika ditambah dengan menghadirkan sosok publik figur yang bisa dikatakan berhasil dalam melakukan perubahan diri. Artis-artis muda yang ber hasil hijrah misalnya. Mereka akan mampu menarik minat remaja-remaja tersebut untuk melakukan perubahan dirinya menjadi lebih baik.

Perubahan menjadi pribadi yang lebih baik ini merupakan kurikulum utaman selama Ramadhan. Dan ini akan mendatangkan masa depan yang lebih baik pula. Karena hubungan kedekatan seorang hamba kepada sang Khaliknya.

Wallahu a’lam bishawab.

Sumber gambar: freepik.com

Luqman, Anaknya dan Keledai Kecilnya

Sebuah catatan kecil dari kajian singkat tarawih malam ke 22 oleh Aep Saifullah di Masjid Daarurrahman.

Dalam Al Qur’an terdapat satu nama orang yang bukan Nabi pun juga Rosul. Namanya disebut oleh Allah dan bahkan diabadikan menjadi sebuah nama Surat. Dia adalah Luqman.

Cukup banyak studi yang mengkaji tentang surat ini dan nama Luqman. Untuk mencari pemahaman lebih lanjut tentangnya. Pasti ada pelajaran yang sangat pentng hingga Allah mau mengabadikannya.

Salah satu kisah penuh hikmah adalah tentang perjalanan Luqman dan anaknya dengan membawa seekor keledai. Diceritakan perjalanan tersebut beberapa kali melewati kelompok orang yang mengomentari apa yang dilihatnya. Kisah lengkap dapat dibaca di https://www.liputan6.com/ramadan/read/2997705/kisah-sang-bijak-luqman-al-hakim-keledai-dan-cacian-orang-lain

Salah satu hikmah yang dapat diambil dari kisah ini adalah dalam hidup ini agar tidak terlalu banyak mendengar perkataan orang yang belum tentu benar. Karena kadang mereka berpendapat hanya berdasarkan pandangan sesaat.

Hikmah lainnya adalah hidup harus memiliki prinsip yang kuat agar tidak mudah terbawa arus informasi dari orang lain yang belum dipastikan kebenarannya. Dimana prinsip yang kuat itu membutuhkan ilmu yang banyak dan wawasan yang luas.

Ilmu yang banyak ini didapat dari belajar. Ramadhan adalah bulan belajar bagi muslim untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Karenanya setiap muslim sudah selayaknya untuk berlomba-lomba melakukannya.

Wallahu a’lam bishawab.

Sumber gambar : https://storyplanets.com/a-foolish-man-with-a-boy-and-a-donkey/

Semangat Memakmurkan Masjid

Sebuah catatan kecil dari kajian singkat tarawih malam ke 12 oleh ustadz Yudi Gunardi di Masjid Daarurrahman.

Masjid bagi umat Islam merupakan sebuah tempat yang sangat penting. Yang paling utama adalah sebagai tempat beribadah. Shalat 5 waktu bagi muslim laki-laki.

Dalam Sirah Nabi Muhammad SAW, keutamaan dari masjid dapat dilihat dari ketika Nabi dalam perjalanan singgah di sebuah tempat yang bernama Quba, tempat yang pertama kali dibangun adalah masjid. Pun juga ketika di Madinah, Beliau juga membangun masjid.

Nabi membangun masjid bukan hanya sebagai tempat beribadah tetapi juga sebagai awal dari membangun peradaban. Dari sanalah Nabi mengajarkan mengenal Allah Yang Maha Esa. Nabi juga mengajarkan bermasyarakat yang baik dari sana.

Keutamaan dari masjid juga bisa diketahui melalui kisah perjalanan Nabi yang tidak masuk akal menurut pemikiran manusia. Yaitu Isra’ Mi’raj. Dimana perjalanan dimulai dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu dilanjutkan dengan naik ke langit ke 7.

Ini menunjukkan bahwa peran masjid merupakan sentral dari umat muslim. Laksana air bagi ikan. Tanpanya ikan tidak akan dapat meneruskan hidup. Menggelepar lalu mati. Maka masjid juga menjadi pembeda peradaban muslim dengan peradaban yang lainnya.

Allah juga menjanjikan balasan yang luar biasa kepada orang-orang yang memakmurkan masjid. Mereka akan dimasukkan kepada golongan orang-orang yang mendapatkan petunjuk.

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. QS At-Taubah:18

Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk meraup pahala kebaikan sebanyak-banyaknya. Memakmurkan masjid menjadi salah satu caranya. Dengan cara menghidupkan malam-malamnya, memperbanyak iktikaf, dan kegiatan-kegiatan positif lainnya.

Wallahu a’lam bishawab.

Tantangan Dakwah Di Era Globalisasi

Sebuah catatan kecil dari kajian singkat tarawih malam ke 10 oleh Buya Mujib di Masjid Daarurrahman.

Jika mendengar kata dakwah, sekarang ini seolah-olah kegiatan tersebut menjadi tugas ustad atau kiai atau ulama. Ini berawal dari pemahaman dakwah itu diartikan sebagai ceramah.

Padahal, kata dakwah mempunyai arti yang lebih luas. Yaitu sebuah proses melakukan perubahan-perubahan menuju yang lebih baik. Sehingga ceramah hanya menjadi sebagian dari luasnya arti dakwah.

Dikarenakan dakwah adalah sebuah proses, maka kegiatan ini dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

  • Dakwah nafsiah yaitu dakwah kepada diri sendiri atau . Dari oleh dan untuk diri sendiri. Nabi Muhammad SAW melakukan ini sebelum memulai tahapan berikutnya.
  • Dakwah fardiah atau dakwah antar pribadi yang dekat dengannya. Dapat dilihat bagaimana Nabi SAW kita melakukan dakwah ini kepada istrinya Kadijah RA, pamannya, saudara-saudara terdekatnya.
  • Dakwah fiah yaitu dakwah di kelompok kecil.
  • Dakwah ammah yaitu dakwah di kelompok yang lebih luas secara menyeluruh di tengah masyarakat.
  • Dakwah antar komunitas besar antar lembaga.
  • Dakwah antar bangsa-bangsa.

Dengan kemajuan teknologi yang ada saat ini, tahapan – tahapan tersebut menjadi makin mudah dan cepat. Studi terbaru tentang Al-Qur’an di Mesir misalnya, dapat dengan cepat diketahui di seluruh dunia secara online. Tabligh akbar di Jakarta bisa langsung diikuti umat muslim di seluruh Indonesia lewat bantuan teknologi.

Namun kemudahan dan kecepatan ini tidak datang sendirian. Tantangan juga hadir seiring dengan mereka. Contohnya adalah tentang penyaringan informasi yang diterima. Setiap menit ada informasi baru yang datangnya bisa dari manapun. Ini membutuhkan kemampuan untuk menentukan apakah informasi tersebut benar. Sebelum sampai pada keputusan untuk meyakini ataupun meneruskan kabar tersebut ke pihak lain.

Beruntungnya kita, jauh sebelum teknologi menjadi seperti sekarang Allah sudah menyiapkan jurus untuk melakukan penyaringan informasi. Yaitu melalui surat Al Hujurat ayat 6.

Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. QS. Al-Hujurat[49]:6

Maka sudah menjadi kewajiban bagi muslim untuk melakukan pengecekan kebenaran atau tabayun terhadap semua informasi yang datang. setelah yakin akan kebenarannya barubisa di bagikan kepada orang lain. Dengan ini maka kedamaian akan bisa terwujud dengan baik.

Wallahu a’lam bishawab…

Sumber gambar : freepik.com

Mengenal Daya Tarik Al-Qur’an di Syahrul Qur’an

Sebuah catatan kecil dari kajian singkat tarawih malam ke 9 oleh Ustadz Dadan Ramadhan di Masjid Daarurrahman.

Bulan suci Ramadhan dikenal memiliki banyak nama. Salah satunya adalah Syahrul Qur’an (Bulan Al-Qur’an). Nama ini terabadikan didalam Al-Qur’an.

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. [QS Al Baqara 185]

Begitu pentingnya Al Qur’an ini bagi kehidupan karena berisi petunjuk dan penjelasan-penjelasannya bagi manusia khususnya untuk membedakan mana yang hak dan yang bathil.

Namun ada sebuah pertanyaan besar yang perlu dipikirkan bersama. Sudah sejauh mana kita mencintai Al Qur’an ini ? Apakah ketika kita tidak membacanya muncul rasa gundah merasa ada yang kurang ? Atau hanya biasa-biasa saja ? Atau pertanyaannya susah dijawab ?

Bagi yang kesulitan menjawabnya, coba pakai analogi game online yang sekarang ini banyak pemainnya. Bahkan sampai anak-anak. Ambil contoh Mobile Legend. Apa yang membuatnya sampai tidak bisa dilewatkan barang sebentar ?

Daya tarik! Game-game online bisanya punya gambar yang bagus. Animasi yang menggugah imajinasi, dan bonus-bonus yang membuat memainkannya jadi tambah asyik.

Analogi mirip juga bisa didapatkan dari drama Korea (drakor). Punya daya tarik! Pemain-pemainnya cakep dan cantik. Kulitnya putih-putih. Berpostur tinggi. Yang seperti ini dipersepsi oleh kebanyakan masyarakat Indonesia adalah yang bagus.

Begitu juga seharusnya persepsi kita terhadap Al-Quran. Harus diyakini memiliki daya tarik sehingga asyik dan mengasyikkan. Tidak seperti game online atau drakor yang daya tariknya cuma karena dipersepsi baik. Daya Tarik al-Qur’an ini nyata. Salah satunya adalah Al-Qur’a sebagai pemberi petunjuk hidup. Disampaikan oleh Allah sendiri lewat QS Al Baqara 185.

Selain dari itu masih banyak daya pikat al-Qur’an yang bisa didapat, antara lain :

  • Orang yang membaca Al-Qur’an akan mendapatkan 10 kebaikan dari setiap 1 hurufnya. Bahkan meski dibaca secara terbata-bata tetap mendapatkan kebaikan. Apalagi jika dibaca dengan indah.
  • Bagi yang mampu menghafalkan 30 juz, kelak dia akan mengalungkan bunga dan jubah kebesaran kepada orang tuanya di hari kiamat.
  • Sebaik-baik orang adalah yang mempelajari, mengkaji, men-tadaburi, menghafal, mengamalkan, dan mengajar Al-Qur’an kepada yang lain.
  • Ahlul Qur’an akan mendapatkan surga yang istimewa.

Melihat banyaknya daya tarik tersebut, sudah selayaknya jika seorang muslim untuk selalu membaca dan mempelajarinya. Karena dia akan menemukan keindahan-keindahan dari dalam Al-Qur’an.

Ketika keindahan-keindahan itu didapat, maka akan tumbuh kerinduan yang melahirkan cinta Al-Qur’an. Cinta menurut Ibnu Qoyim Al Jauziah adalah kecenderungan yang kekal dengan hati yang senang.

Adapun tahapan yang bisa dilakukan agar tumbuh kecintaan antara lain bersimpati, curhat, rindu, syik (kemesraan), pasrah (taat) kepada Al-Qur’an. Jika seseorang sudah bisa dilakukan maka hidupnya akan selalu mendapat petunjuk dari Allah.

Wallahu a’lam bishawab.

Sumber gambar: freepik.com

Agar Lingkungan Tempat Tinggal Penuh Berkah, Ini Doanya

Sebuah catatan kecil dari kajian singkat tarawih malam ke 8 oleh Ustadz Aep -Ketua DMM- di Masjid Daarurrahman.

Menjadi model peraga pada pelatihan pengurusan jenazah yang sudah diselenggarakan oleh DMM siang tadi menyisakan sebuah refleksi. Walaupun cuma dalam pelatihan, menjadi peraga jenazah tidak menjadi cita-cita para pesertanya. Meski smuanya sudah dijamin 100% akan merasakan tidak hanya menjadi peraga. Tapi jenazah sesungguhnya.

Peraga jenazah, sebuah tugas yang jarang orang mau. Padahal memberikan pelajaran yang berharga. Betapa ketika peserta yang lain sibuk memperhatikan materi ataupun mendokumentasikan lewat foto, sebuah refleksi keimanan tumbuh melalui pertanyaan.

Apakah jika saatnya tiba nanti apakah tetangga-tetangga yang selama ini bersama-sama yang akan mengurus jenazahnya? Memandikan, mengkafani, menshalatkan, dan mengantarkan ke pemakaman.

Itulah beberapa pertanyaan yang terlintas. Dan syukur peragaan bisa diselesaikan dengan lancar. Pun tanpa harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi.

Dan yang lebih disyukuri lagi oleh Ustadz Aep adalah kehadiran tetangga-tetangga yang merupakan tanda bahwa lingkungan tempat tinggal (komplek BCV) ini dihuni oleh orang-orang yang soleh. Jamaah yang saling menghormati, menyayangi dan saling tolong menolong.

Sebuah lingkungan tempat tinggal yang penduduknya seperti itu adalah indikator lingkungan yang penuh keberkahan dari Allah SWT. Dan masjid Daarurrahman ini menjadi centernya. Dalam Al Qur’an terdapat sebuah doa yang bisa digunakan untuk mewujudkannya.

Tercatat dalam sejarah, Nabi Nuh -ketika berada diatas perahu saat air bah melanda- memohon agar didaratkan disebuah daerah yang penuh keberkahan. Seraya memanjatkan doa kepada Allah.

ROBBI ANZILNI MUNZALAN MUBARAKAN WA ANTA KHOIRUL MUNZILIN

Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat”. [QS Al Mukminun 29]

Doa ini juga dapat digunakan untuk mendoakan komplek tempat tinggal ini agar terus diberkahi. Keluarga disetiap rumah sakinah, anak-anak sholeh, tidak berat untuk beribadah.

Boleh dibaca setiap kali akan memasuki gerbang depan. Penyebutan lokasi hanya semata-mata agar mudah mengingatnya. Jika ingin lebih afdol lagi, doa tersebut bisa dibaca pada saat-saat diijabahnya doa yaitu sepertiga malam terakhir, setelah adzan sebelum iqomah, dan menjelang iftar.

Wallau’alam bishawab.

Sumber gambar : Shutterstock