Rompi Shalat

Rompi shalat sekarang mudah ditemui di masjid-masjid. Cukup banyak pihak yang sukarela menyediakannya. Ada yang memang disediakan oleh pengurus masjid atau sedekah dari komunitas.

Idenya cukup sederhana menurut saya. Menyempurnakan shalat melalui pakaian. Menutup peluang terbukanya bagian punggung ketika sujud yang disebabkan pakaian yang kurang panjang.

Juga untuk menghindari gangguan konsentrasi jamaah dibelakang dari tulisan atau gambar yang terpampang di kaos. Bahkan tulisan petuah bijak pun berpotensi mengganggu ketika dibaca saat shalat berlangsung.

Tapi dari beberapa yang saya temui, agaknya cukup repot ketika mengenakannya. Apalagi buat saya yang berpostur tidak ideal –melebar. Desain rompi shalat yang mirip oblong panjang. Yang jika mengenakan harus dari bagian bawah.

Desain ini akan lebih praktis andai bisa disediakan yang bermodel kemeja. Mengenakannya dari sisi depan rompi. Melepaskannya pun mudah, tidak menimbulkan potensi baju yang di dalam ikut terangkat.

Namun desainernya perlu memikirkan cara menguncinya. Apakah pakai resleting tau kancing baju. Dan disini berpotensi menjadi tidak praktis mengingat rompi shalat biasanya panjang.

Tapi tidak di kancing pun sebenarnya sudah bisa memenuhi kedua tujuan diatas. Mirip outernya perempuan lah.

Tantangan lainnya adalah saat penyimpanan. Harus dicari cara agar saat digantung bisa rapi. Ataupun saat dilipat di rak penyimpanan. Seringkali masjid yang menyediakan sarung dan mukena self service berantakan dibagian ini.

Tak lupa juga dengan kebersihan fasilitas rompi shalatnya. Pengelola masjid juga harus mengakomodir adanya fasilitas ini punya konsekuensi menjamin penggunanya tetap nyaman dari kotoran dan bau tak sedap.

Dan sepertinya itu juga yang perlu dipikirkan oleh pihak-pihak yang bersukarela menyumbangkan rompi shalat. Jangan sampai sumbangan apapun malah menambah beban pengelola masjid yang menerima.

Insyaallah ini menjadikan lebih berkah.

Baling-Baling

Awal bulan yang lalu saya dapat kesempatan naik pesawat baling-baling. ATR 72-600 milik Wings Air dari Jogja ke Bandung. Entah kenapa kursi yang kosong mencapai setengahnya.

Apa memang banyak yang menghindar naik pesawat baling-baling? Saya tidak tahu. Tapi beberapa kawan memang demikian. Jika ada pilihan pakai jenis jet, maka baling-baling tidak diliriknya.

Saudara saya lebih ekstrim. Memang sama sekali tidak mau. Apalagi harus mendarat di Bandung. Yang bandaranya tidak jauh dari kota dan deretan gunung.

Memang landing di Bandung bisa bikin pengalaman tersendiri bagi penumpang. Beberapa kali saya merasakan betapa tidak nyamannya menembus awan. Isi perut seperti diaduk. Bandung selalu berkawan gunung. Dan gunung selalu berkawan dengan awan.

Awan kadang jadi musuh penumpang pesawat. Walau tidak bersentukan langsung, awan mampu mengaduk perut orang yang ada di dalam pesawat. Penumpang yang tidak terbiasa sudah pasti pucat.

Saya mengalaminya saat pertama kali naik ATR dengan tidak sengaja. SUB ke BDO transit 30 menit di JOG. Tidak sengaja karena yang beli tiketnya istri saya. Kebetulan waktu itu awan cukup tebal ketika akan mendarat di Bandung. Goncangannya sangat terasa. Mungkin sebenarnya goncangan normal mengingat badan pesawat yang tidak sebesar pesawat jet.

Tapi berbeda dengan yang terakhir saya alami. Semuanya berjalan mulus. Langit Jogja dan Bandung cerah meskipun malam. Sepanjang perjalananpun tanpa goncangan berarti. Nyaman dan perut aman. Apakah ini karena ATR 72-600 punya teknologi baru yang lebih tahan goncangan atau karena awan memang tidak ada? Keduanya mungkin.

Barangkali kawan-kawan saya yang masih takut perlu mencoba tipe ini dan bertemu dengan cuaca yang bersahabat. Supaya hilang ketakutannya. Karena pesawat jenis ini saya pikir sangat dibutuhkan Indonesia yang berpulau dan bergunung.

Penerbangan antar kota atau antar pulau yang cuma memakan waktu 1 atau 2 jam cukup nikmat dengan pesawat baling-baling. Mungkin ini juga yang membuat PT Dirgantara Indonesia (DI) fokus memproduksi pesawat di kelas ini dulu. CN-235 yang menghebohkan dunia waktu itu.

Entah apakah akan ada kesempatan untuk mencoba menaiki pesawat buatan dalam negeri itu. Tapi saya berharap ada.

Sumber gambar: http://www.atraircraft.com/

Review Buku: Guru Aini

Buku lagi aja ya … beberapa waktu belakangan sedang malas untuk menulis. Semoga setelah buku yang satu ini semangat menulisnya rebound. Bukan rebon, walaupun rebon Cirebon enaknya bukan main.

Buku Guru Aini ini adalah karya terbaru dari Andrea Hirata, penulis Laskar Pelangi yang sudah menyebar sedunia itu. Pertama kali menerima buku ini, saya sudah penasaran dengan cover-nya. Kenapa sepatu ?

Novel ini berkisah tentang pemilik sepatunya, seorang yang idealis dan berani mengorbankan kemudahan-kemudahan hidup yang bisa dengan mudah dijalaninya. Alih-alih menjadi profesi yang dicita-citakan anak muda, dia memilih untuk mengabdi menjadi guru. Guru matematika.

Disinilah kejelian pengarangnya. Tema Matematika ini cukup unik untuk menjadi pilihan. Sekaligus beresiko. Jika tak pandai mengolah jalan cerita, habislah dia. Tapi bukan Andrea namanya jika yang seperti ini saja tak mampu.

Nyatanya 3/4 bagian buku ini saya habiskan dalam 2 jam, tanpa mau dikalahkan oleh beratnya mengangkat kelopak mata. Karena ternyata angka tanggal di HP sudah berganti ketika saya tiba pada titik dan halaman terakhir.

Gadis cerdas bersinar, idealisme tinggi tentang Matematika, dan daerah terpencil adalah kombinasi cerita yang bagus. Dibenturkan dengan kenyataan yang jauh dari harapan menjadikan novel ini membara. Idealisme memang harus di uji.

Andrea Hirata mampu menyajikan ujian-ujian itu secara apik. Menjadi greget buat yang baca. Sekali waktu harus menahan napas, kemudian lega.

Lihat saja di bagian perjalanan Aini menuju ketempat tugasnya untuk pertama kali. Berhari-hari. Beragam kendaraan. Berpulau-pulau. Dihempas-hempas. Tapi sampai juga di tujuan.

Namun tak lama. Sebentar kemudian harus menahan napas lagi. Begitulah naik turunnya petualangan yang dikisahkan. Bagai efek roller coaster. Naik perlahan lalu menghujam dengan cepat. Tapi ketika belum selesai orang merasakan efeknya sudah ditambah lagi dengan berbelok dengan cepat.

Tapi tidak berhenti. Ya… karena dibagian akhirnya masih menyisakan tanya. Saya menduga masih akan ada petualangan berikutnya. Hanya Andrea dan Tuhan yang tahu.

Tapi yang jelas saya menikmati novel ini.

Review Buku: Dawuk kisah kelabu dari Rumbuk Randu

Hampir-hampir saja saya lupa pernah membeli novel ini. Bukunya masih berplastik toko saat saya temukan kembali di lemari buku. Lupa kapan belinya.

Dawuk yang menjadi judul novel ini diambil dari nama tokoh yang paling banyak diceritakan. Hampir di tiga perempat bagian. Nasib hidup Mat Dawuklah yang jadi central.

Kecil terlantar tak terurus. Tak ada teman main. Tak tentu kesehariannya. Ketika besar terlempar ke lembah hitam, jadi algojo siapa saja yang memberi pesanan. Hingga suatu titik balik mendatanginya.

Tapi orang-orang terlanjur tidak percaya. Dan menyeretnya dalam liku nasib pesakitan. Tuduhan demi tuduhan silih berganti. Usaha menghabisi tak terhitung lagi. Tapi Mat Dawuk sudah pasrah.

Rumbuk Randu adalah nama yang lain. Yang jadi setting lokasi cerita ini. Sebuah desa dengan kesulitan geografis yang membentuk budaya masyarakatnya menjadi unik. Mengingatkan saya pada setting pedesaan Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari.

Entah kenapa cerita bersetting kehidupan desa dengan segala permasalahannya selalu saya sukai. Sepertinya karena saya belum pernah tinggal di desa yang jauh dari kota. Sejak kecil saya sudah di kota. Kota kecil yang tetaplah kota.

Mahfud Ikhwan adalah nama yang lain lagi. Tapi yang ini tidak ada didalam cerita. Justru nama ini yang membuatnya. Dengan cerdas! Ya… kisah yang saya ceritakan diatas disajikan lewat jalan cerita di dalam cerita. Mirip di film Titanic tahun 1997. Bahwa semua adegan yang dinikmati sepanjang film tersebut adalah cerita dari orang lain.

Maka alur cerita novel ini bisa jadi referensi bagi yang sedang belajar menulis kreatif. Bahwa alur cerita tidak cuma lurus dari A to Z, tapi juga bisa melompat dan bertingkat. Plus masih menyisakan penasaran di penutupnya.

Tidak perlu dicari-cari bagaimana akhir nasib Mat Dawuk. Penggantungan akhir kadang menjadi kesyikan tersendiri. Selama bukan penggantungan akhir cerita Jiwasraya dan Asabri. Karena yang dua ini bukan novel!