Peluang Ditengah Himpitan

Tidak terasa sebulan sudah kita berada dalam kondisi membatasi ruang gerak masing-masing dalam rangka memutus rantai penularan Covid-19. Seperti berada di dunia baru bagi saya yang terbiasa setiap hari ke kantor. Sekarang kantornya cuma di kursi sudut meja makan.

Sekolah anak saya sekarang di kamarnya. Jam 7 pagi sudah duduk di depan laptop. Webcamnya jadi mesin pelapor yang menyatakan bahwa hari itu dia siap untuk mulai belajar. Gurunya pun cukup dari rumah. Membagi tugas dan me-review hasil pekerjaan kiriman anak didiknya.

Benar-benar dunia baru. Bagi semua orang. Dengan sebab larangan pemerintah untuk bepergian. Tepatnya himbauan untuk di rumah saja. Sepertinya masih sulit untuk menjadi sebuah larangan yang berkekuatan hukum. Baik perumusannya maupun pelaksanaan dan kontrolnya. Mengingat begitu banyaknya penduduk, kepentingan, kebutuhan, dan pertimbangan lainnya sebagai negara berkembang.

Namun saya melihat ada satu hal positif yang muncul dari kondisi saat ini. Kondisi terpaksa ini membawa peningkatan adopsi teknologi ke banyak kalangan masyarakat kita. Teknologi telekomunikasi dan informasi sedang mendapat angin.

Saya terbayang saat Corona mereda nanti kita sudah terbiasa dengan keduanya. Kehidupan menjadi lebih mudah dari sebelumnya. Orang-orang makin terbiasa dengan segala pengurusan jarak jauh.

Adopsi teknologi tidaklah semudah membalik telapak tangan. Selain dari sisi apa yang ditawarkan oleh teknologinya, kesiapan masyarakatnya juga menentukan. Coba bayangkan jika laptop diperkenalkan kepada orang-orang yang belum pernah mengenal komputer sama sekali.

Ada banyak teori terkait dengan hal ini. Bisa ditinjau dari sisi pemasaran, pun juga konsumen. Memahami bagaimana proses adopsi teknologi terjadi di masyarakat akan memudahkan produsen dan pemasar menentukan strategi pemasarannya. Anda tertarik mendalaminya ? Coba baca buku Perilaku Konsumen Individu Dalam Mengadopsi Layanan Berbasis Teknologi Informasi & Komunikasi karangan Indrawati, Ph.D. dkk.

Yang paling terasa di rumah saya adalah penggunaan layanan video meeting dan video call. Koordinasi yang mengharuskan kehadiran beberapa orang bersamaan untuk keperluan kantor dilakukan melalui video meeting dari lokasi masing-masing.

Pengajian muslimah yang biasa diikuti oleh istri dan para ibu rumah tangga lainnya beralih ke media serupa. Anak saya tak ketinggalan. Jam 7 pagi sudah siap di depan laptop dan hp-nya untuk video call dengan guru dan kadang video meeting.

Di rumah tetangga saya juga demikian. Mereka yang tinggal di RT lain juga tidak berbeda. Orang kantoran, ibu rumah tangga, anak sekolah sudah makin tidak asing dengan layanan ini. Dan tentu layanan lain berbasis teknologi telekomunikasi dan informasi.

Saya melihat ini peluang di masa mendatang. Tapi tidak jauh, segera setelah Corona selesai. Ekonomi bergerak lagi. Kebutuhan tumbuh lagi. Masyarakat kita sudah nyaman dengan layanan-layanan tersebut.

Tinggal kesiapan para penyedia layanan langsung dan pendukungnya. Masih mampu untuk memberikan daya tarik yang tinggi buat penggunanya atau tidak.

Pemerintah juga punya peranan di sana. Masyarakat yang sudah terbiasa dengan kecepatan dan kemudahan itu perlu tetap dijaga jangan sampai merasa mengalami kemunduran akibat kebijakan-kebijakan yang belum mengakomodir perubahan teknologi.

Saya semakin yakin bahwa bersama kesulitan Allah memberikan kemudahan. Malah seharusnya tanpa Corona pun sudah harus yakin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *