Iklan Di Mana ?

Tidak terasa saya dan istri makin mahir belanja online. Selama #dirumahaja hampir tiap minggu ada paket yang datang. Kadang lebih dari sekali.

Sampai sampai anak lelaki saya cemburu. Dia tidak pernah kebagian paket. Hanya menjadi penerima dari kurir di depan rumah.

Tetangga-tetangga juga mirip. Kadang paket kadang go food. Hingga kami bisa tahu akan ada rumah yang mendapat kiriman hanya dengan mendengarkan suara motor kurirnya. Selalu pelan ketika memasuki jalan di sepanjang rumah kami.

Belanja online sepertinya mendapat puncaknya saat ini. Dan mungkin akan terus memuncak. Orang-orang sudah makin terbiasa. Memenuhi kebutuhan hanya dari rumah saja. Duuuh enaknya.

Pak Yuswohadi dalam sebuah artikelnya menyatakan belanja online sudah bergeser ke kebutuhan pokok. Dari yang sebelumnya hanya barang-barang kategori keinginan.

Kita sudah makin biasa belanja beras dari rumah. Gas pun sama, air juga sudah. Lewat marketplace, WA, Instagram, ataupun telepon. Orang makin malas keluar rumah. Dan memang tidak diijinkan dimasa wabah ini.

Penjual perlu berpikir keras. Informasi produknya harus bisa sampai ke rumah-rumah. Agar orang kenal dan selanjutnya paham. Lalu mau membelinya.

Menyebar informasi di jalan sudah jadi cara kuno. Calon pembeli adanya di rumah-rumah. Suatu saat nanti di jalan lebih banyak kurir pengantar barang. Untuk produk-produk tertentu mereka bukan sasaran yang tepat.

Maka masih relevankah pasang iklan di jalanan ? Jelas tidak lagi. Sudah mahal, repot menghitung efektifitasnya.

Bagaimana dengan di TV. Cara lama ini cukup bagus menjangkau rumah-rumah di wilayah yang luas. Tapi tidak pernah murah. Apa lagi saat sekarang ini. Orang lebih banyak dirumah.

Social media tempat yang paling efektif saat ini. Tools analisanya sudah banyak tersedia, biayanya tidak sebesar yang lain. Malah bisa tanpa biaya. Apalagi punya teman dengan folower besar. Hehe.

Inilah kenyataannya sekarang. Sudah tidak dapat ditolak lagi. Kita tinggal pandai-pandai memanfaatkan. Untuk kemaslahatan bersama.

Seperti anak saya itu. Memanfaatkan kebiasaan ayah ibunya. Akhirnya dia merasakan menerima paketnya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *