Kreatifnya Kita

Sekarang ini waktunya orang kepepet. Presiden kepepet agar segera menyelesaikan huru-hara pandemi. Gubernur, walikota, Pak Camat dan pimpinan daerah yang lain kepepet untuk segera memberikan bantuan ke warganya. Warga kepepet tidak bisa memenuhi kebutuhan seperti biasa.

Saya menyamakan kepepet ini dengan terdesak. Insyaallah tidak akan menimbulkan polemik seperti mudik dan pulang kampung itu. Tentu karena saya bukan presiden dan bukan siapa-siapa. Apalagi cebong dan kampret. BTW apa kabarnya mereka sekarang ya ?

Saat terdesak, yang paling gampang adalah teriak. Berharap ada pihak lain yang mendengar. Berharap dia akan ditolong. Pada masa #dirumahaja ini sudah banyakkah yang teriak ? Ya! gampang dicari kok. Tinggal buka sosial media.

Adakah yang tidak teriak ?

Ada ! Banyak!

Mereka-mereka ini biasanya yang masih tergolong punya kemampuan atau yang sama sekali tidak punya. Teriak pun sudah tidak bisa.

Menariknya, pada golongan ini ada peluang untuk menjadi pejuang tangguh yang tidak kalah oleh apapun. Kalaupun harus kalah, yang paling belakangan lah.

Biasanya, mereka ini yang memiliki kesadaran terhadap situasi yang sedang terjadi. Mengetahui dampaknya terhadap diri dan keluarga. Dan memahami apa kemampuan dirinya. Alih-alih teriak minta tolong, digunakannya kemampuan yang ada untuk bertahan di tengah situasi.

Kreatif dan pemberani! Saya harus sebut mereka seperti itu. Menemukan hal baru atau cuma meniru dari tempat lain. Tetapi ketika sudah berani untuk melakukannya dengan tangan sendiri, itu sebuah semangat bertahan yang luar biasa.

Di sekitar saya banyak. Tukang sayur langganan istri sekarang ini kebanjiran order di HP-nya. Setiap hari hanya sanggup membawa pesanan sehari sebelumnya. Dia tidak lagi menawarkan dagangannya.

Restoran-restoran menjadi kreatif. Melayani pengantaran dengan standar kesehatan yang ketat. Peraturan tidak membolehkan mereka melayani konsumsi di tempat.

Dalang wayang kulit tidak ketinggalan. Menggelar pertunjukan tanpa penonton langsung dengan kelengkapan tim minimum. Namun mampu mengumpulkan donasi hingga seratusan juta rupiah.

Staf-staf Badan Kemakmuran Masjid menjadi inovatif dengan penyelenggaraan kajian secara online. Teknologi jarak jauh mereka pelajari, demi tetap memberikan pelayanan kepada jamaah. Terlebih di Ramadhan ini.

Rasanya tidak keliru jika saya condong kepada kepepet itu baik. Asal jangan sengaja menunggu kepepet dulu untuk melakukan perbaikan.

AA Gym sering mengingatkan kita,”bukan masalah yang menyebabkan kita kuat, tapi bagaimana sikap kita terhadapnya.” Ini harus saya pegang terus. Terlebih di saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *