Hindari Konflik Kepentingan

Rasanya tidak ada yang lebih berat daripada konflik kepentingan. Saya lebih memilih untuk menghindari kondisi-kondisi tersebut. Biarpun dikatain bodoh karena tidak dapat memanfaatkan peluang.

Misalnya seorang ketua panitia lomba anak-anak yang mana anaknya sendiri juga terdaftar sebagai pesertanya. Sebagai ketua punya peluang untuk mengarahkan agar segala perangkat lomba meringankan salah satu peserta.

Pada kondisi tertentu bukan hanya memanfaatkan, tapi dapat menciptakan peluang. Contohnya ketua panitia lomba tadi bisa saja memberikan sinyal-sinyal yang dapat diartikan bahwa dapat membantu salah satu peserta lomba.

Jika ini terjadi, hilanglah fairness. Kejujuran pun ikut lenyap. Ujung-ujungnya tidak ada lagi kepercayaan kepada pelakunya.

Maka meskipun konflik kepentingan ini kadang sudah dibuktikan karena sebagian besar tersimpan pada niat pelakunya, namun sudah bisa dibilang melanggar etika.

Barangkali sebagian kita berpendapat ya sudah jika melanggar segera saja mundur dari kedudukannya. Namun sesungguhnya ada hal yang lebih berat dari itu.

Pudarnya kepercayaan kepada pelaku. Ini sangat berat karena sulit mendapatkan kepercayaan orang lain.

Maka sungguh sangat sayang jika ada pejabat publik diseputaran pimpinan tertinggi negara ini yang tengah membangun kepercayaan rakyatnya –millenial lagi mencuat sedang terjebak dalam posisi konflik of interest melalui sebuah surat dengan kop lembaga negara (Kompas.com).

Walaupun sudah mengundurkan diri dari jabatannya yang sekarang, rasanya sulit bagi kita –para rakyat untuk percaya kembali.

Mungkin masih bisa menduduki jabatan tertentu yang tidak banyak mempengaruhi rakyat. Jadi ketua panitia lomba anak-anak misalnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *