Buang Sampah, Sembarangan !

Saya tertawa geli membaca berita yang satu ini. Ada orang yang membuang peti mati kosong ke sungai Bello Kabupaten Soppeng Sulawesi Selatan (Beritanya di Kompas.com).

Menurut keterangan, karena ‘penghuninya’ sudah dikuburkan lama, maka peti itu harus disingkirkan. Kok ya kebetulan sungai jadi pilihan.

Cuma mungkin pelakunya lupa, publik belum terbiasa melihat peti mati hanyut. Dan jika hanyutnya dalam keadaan tertutup, tentu mengidentifikasi kosong atau tidak secara visual cukup sulit.

Saya tidak habis pikir, bagaimana bisa sungai bisa jadi pilihan cara untuk membuang peti mati. Kalaupun tidak tersangkut di tengah perjalanan, di muara pun akan jadi kehebohan jika ditemukan orang disana.

Bisa jadi pembuangnya berharap peti itu tidak pernah sampai terlihat karena tenggelam di perjalanan. Boleh jadi pecah terbentur-bentur sehingga wujud aslinya sudah tak tampak.

Tapi apa daya, keburu bertemu dengan penduduk dan heboh.

Sampah ukuran besar sudah pasti bisa bikin masalah. Misalnya tersangkut di kolong jembatan atau akar pohon di pinggir sungai. Kecuali di sungai yang sangat besar.

Sampah yang berasal dari bentuk atau bekas fungsi yang tidak biasa juga sama. Respon orang jelas beda antara melihat kotak persegi yang hanyut dengan peti mati. Yang terakhir lebih menggegerkan.

Kalau bentuk atau bekas fungsi yang tidak biasa tapi ukurannya tidak besar gimana ?

Ya sama saja. Contohnya celana dalam. Bedanya mungkin orang akan merasa iba kepada pemiliknya.

Barangkali merekan akan mendoakan semoga pemiliknya segera mendapatkan pengganti yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *