Belajar Dari Panggung Jalanan Sepanjang 7 Kilometer

Sesekali WFO dimasa WFH ini membuat saya melihat perjalanan ke kantor dengan berbeda. Tak lagi membosankan. Saya malah merasa seperti mendapatkan pertunjukan langsung dengan panggung sepanjang 7 kilometer. Itulah jarak rumah saya ke kantor.

Dulu saat setiap hari berangkat dari rumah, rutinitas di pom bensin nampak seperti biasa. Konsumen datang, antri, lalu dilayani. Petugas melayani setelah sebelumnya memasukkan harga beli yang dipesan konsumen, menerima pembayaran, memberikan kembalian jika ada, dan mengucapkan terima kasih.

Ternyata, panjangnya antrian akan lebih pendek jika petugas yang melayani ber baju putih bawahan hitam. Dia pegawai baru yang sedang dalam training. Rupa-rupanya konsumen mempertimbangkan hal ini dalam memilih antrian.

Satu kilometer dari pom bensin itu ada sebuah perempatan dengan lampu merah yang sering dilanggar. Karena selain ada lampu merah juga ada orang yang mengatur jalan untuk berbelok dari dan ke salah satu tikungan. Kadang pengendara mengikuti tanda lampu. Disaat yang sama ada yang mengikuti arahan si pengatur –seolah dia sedang menjalankan diskresi. Ada standar ganda di sana. Lampu merah tak baku lagi selama tidak ada polisi.

Di perempatan lain, lampu merah menjadi satu-satunya pengendali. Semua pengendara mengikuti tanda lampu. Ada atau tidak ada polisi. Tapi kadang kekacauan singkat terjadi. Berbahaya buat yang lain, namun pengemudinya tetap santai tak merasa bersalah. Satu dua angkot ambil penumpang tepat di sisi kiri lalu dengan serta merta berbelok ke kanan memotong jalur. Demi tak kehabisan lampu hijau.

Di pertigaan dekat pasar seorang kakek masih harus memikul daganggannya. Jalannya tidak bisa cepat karena berat muatan yang dipikulnya. Kegigihan luar biasa dalam menjalani hidup yang cuma sekali ini. Meski usia sudah di ujung senja. Saya jadi teringat masih sering menggerutui nasib padahal belum setua si kakek. Malu hati ini.

Tak sadar perjalanan ke kantor menjadi menyenangkan karena penuh makna. Dari apa yang terjadi di jalanan, insight dan pesan-pesan penyemangat jiwa dapat dipetik tanpa bayar. Malah kadang saya sendiri tidak cuma sebagai penonton yang berusaha memaknai setiap kejadian. Ketika lewat disana, saya hadir sebagai penonton sekaligus aktor di panggung sandiwara jalan raya. Karena tak sadar saya sedang berperan antagonis menjadi contoh buruk bagi yang melihatnya. Menerobos lampu merah misalnya.