Terkenang Pakde

Saya tersendat di tahap ke lima, menyisipkan humor. Empat tahapan sebelumnya bisa dilalui dengan lancar. Tapi tugas ke lima dari Pakde ini cukup bikin pusing.

Sampai-sampai saya harus menjadi serius memikirkan humor apa yang nyambung dengan kalimat-kalimat sebelumnya. Semakin serius berpikir, semakin tidak humor yang muncul. Haha humor kok serius.

“Untunglah nyadar,” begitu balasan chat Pakde Prie GS merespon curhat saya karena terlalu serius. Saya cuma bisa tersenyum kecut.

Semakin kecut lagi setelah saya tanyakan formula menyusun humor itu seperti apa. Pakde tidak menjawab, hanya memberi contoh dengan bahan dari setoran tugas yang saya berikan sebelumnya.

Waktu itu saya sedang mengikuti kursus menulis online secara privat bersama tokoh dari Semarang ini. Humor menjadi puncak latihannya.

Bercanda tidak pernah menjadi masalah buat saya. Tapi menyusun candaan dengan tema tertentu dengan sengaja membuat saya mati kutu. Tidak berkutik. Tapi beliau melakukannya dengan enteng saja. Sepertinya humor sudah makanan sehari-harinya.

Satu hal ini sudah membuat saya kagum. Padahal masih banyak kelebihan yang ada pada sosok mantan cartoonist yang sedari kecil hidup susah. Tidak salah jika ada satu artikel yang menyebut beliau adalah Penggoda Indonesia. Entah siapa nanti yang akan menjadi penerus untuk menggoda Indonesia semenjak kepergiannya 12 Februari 2021 yang mengejutkan itu.

Gus Candra Malik pada video Coklat Kita Humor Sufi terbarunya tetap menampilkan layar yang bisa digunakan co-hostnya itu. Background danau yang tenang dan angsa putih. Padahal dia tampil monolog. Simbolisasi posisi Pakde Prie tidak tergantikan. Baik di acara itu maupun di hatinya.

Demikian juga bangsa Indonesia. Akan selalu membiarkan satu tempat kosong yang tidak tergantikan untuk Pakde.

Selamat jalan Pakde Supriyanto (GS). Matur sembah nuwun ilmunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *