Naik Pendulum Terbalik

Dia yang berkacamata hitam itu bukan paman ataupun pakde saya. Kenal pun tidak. Kebetulan ada disana ketika saya memotret dek teratas dari salah satu kapal Bali Hai Cruise beberapa menit sebelum meluncur ke Pulau Nusa Lembongan. Saya memotretnya di tahun 2011 bulan Juli.

Ini pengalaman pertama saya naik kapal laut agak besar. Tepatnya pengalaman tidak mengenakkan karena sepanjang perjalanan sekitar sejam dari Tanjung Benoa ombak dari laut Hindia Selatan sedang besar. Kapal berjalan dengan bergoyang kiri kanan.

Layaknya orang sedang bersemangat, saya di dek tertinggi berharap bisa menikmati keindahan laut dan memotret pemandangan indah. Satu dua jepretan berhasil. Dan lima menit berikutnya saya mulai melihat kunang-kunang. Padahal hari masih jam 9 pagi.

Tak berapa lama perut mulai mual. Saya harus melupakan niat memotret. Berpikir gejala apa yang sedang saya alami. Namun itu juga tidak bisa dilakukan.

Saya sedang mabuk laut. Ombak besar membuat kapal berjalan sambil menari kiri dan kanan. Isi perut meronta ingin keluar, tapi malu jika di tempat umum, khususnya dihadapan teman-teman serombongan.

Beruntung saya berhasil menemukan kamar mandi yang sedang kosong satu lantai di bawah. Di dalamnya hanya ada closet. Sedetik kemudian wajah saya sudah ada di dalamnya. Mengosongkan perut dengan sukses. Lima belas menit yang paling tidak mengenakkan dalam kapal yang sebenarnya sangat nyaman.

Saya tidak tahu, Pakde bule di foto itu mabuk laut atau tidak. Karena saya memilih turun ke dek yang lebih bawah. Berharap goyangan tidak keras di lantai paling atas. Saya membayangkan sedang menaiki pendulum terbalik.

Leave a Reply

Your email address will not be published.