Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Istilah bagai menggenggam bara agaknya tepat untuk situasi saat ini. Untuk menjadi benar itu sulit. Boro-boro menjadi benar, untuk melakukan hal yang salah saja sudah sulit. Begitu yang sering terdengar Di masyarakat kita.

Saya bingung. Kalau yang benar sulit dan yang salah juga sama, lalu yang mudah apa? Memangnya ada pilihan selain benar dan salah?

Seorang penceramah tarawih yang sempat datang ke masjid komplek kami mengisahkan bagaimana beratnya menggenggam bara di libgkungan legislatif. Beliau juga sedang menjadi anggota DPR aktif di komisi Undang-Undang.

Menurutnya, mencantumkan kalimat takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa di dalam rancangan Undang-Undang butuh perjuangan yang extra keras. Karena banyak golongan yang menentang, yaitu komunis, liberal, dan kapitalis. Walau tidak secara nyata bentuk organisasinya, tapi mereka yamg menganut paham ini selalu menentang kalimat semacam itu ada di Undang-Undang.

Beberapa contoh pembahasan beliau beberkan. Saya tidak punya keberanian mencantumkannya disini karena tidak memiliki hak imunitas.

Masih tampak jiwa-jiwa aktivisnya diatas mimbar. Orang tuanya pernah jadi sasaran amuk kekejaman PKI tahun 60an. Itu membuat semangatnya tidak pernah padam, cuma beda tempat. Kalau dulu di jalanan, sekarang di legislatif.

Gejolak yang ada di gedung hijau itu sangat jarang terdengar di telinga orang-orang awam seperti saya. Mendengar cerita itu hati menjadi miris. Keputusan yang kurang tepat akan berdampak pada rakyat banyak. Kalaupun ada peluang untuk diperbaiki setelah ditetapkan proses dan waktunya akan lama.

Saya berharap masih cukup banyak orang-orang seperti beliau di dalam gedung terhormat itu. Agar masih ada yang mau untuk menggenggam bara sekarang dan yang akan datang.

Masa dimana negara ini sedang tidak baik-baik saja, jika dibilang sedang sakit terlalu kasar. Semoga!

Leave a Reply

Your email address will not be published.