Warisan Dunia Non Kebendaan

Kalaulah ada pendaftaran usulan warisan dunia non kebendaan, saya menginginkan kolak masuk kedalamnya. Karena makanan ini Indonesia banget, meminjam istilah kekinian.

Ibu sering memasak makanan yang isinya macam-macam ini. Saya paling suka singkongnya. Proses perebusan dengan kuah santan menyebabkan rasa gurih meresap dalam dagingnya. Apalagi yang sudah direbus berkali-kali, makin empuk makin gurih.

Isi yang satu ini hampir selalu muncul di kolak Ibu. Hingga saya menganggap kolak itu wajibnya memang harus ada singkong. Isi yang lain seperti pisang, waluh atau labu kuning, kolang-kaling hanyalah addon.

Tapi singkong sendirian di dalam kuah santan dengan aroma dari daun pandan juga jadi kurang nuansa kekolakannya. Jadinya bahan-bahan tadi walaupun statusnya tambahan tapi wajib ada.

Ya dalam kolak ada kompleksitas. Tidak seperti lirik lagu Haji Ona Sutra, asam di gunung garam di laut, dalam tempurung bertemu jua. Coba masakan apa yang isinya cuma keduanya?

Maka kolak itu mirip banget dengan Indonesia yang berisi berbagai macam suku bangsa. Di dalamnya menyimpan banyak budaya yang beragam namun tetap satu kesatuan tak terpisahkan. Dari ujung timur ke barat, dari ukung utara ke selatan.

Jadi saya akan sangat mendukung sekali resep kolak Indonesia masuk kedalam daftar warisan budaya non kebendaan dari UNESCO. Sebelum negara ini kecolongan dan heboh lagi. Apalagi oleh tetangga sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published.