Kertas Suara

Lelah jiwa raga, itulah yang kami bertujuh rasakan sebagai anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) tahun 2014. Tahun dimana bangsa ini mulai dengan kebiasaan barunya, saling ejek.

Jam enam pagi kami sudah berbaris rapi di Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk melakukan briefing. Ketua meminta kami mengenakan batik. Empat kotak suara sudah berbaris lebih dulu sejak semalam. Mereka masih bersegel sesuai aturan.

Kotak-kotak itu untuk menampung kertas suara yang telah dicoblos oleh pemilih. Masing -masing untuk pemilihan presiden, anggota DPR, DPRD tingkat I Propinsi, dan DPRD tingkat II Kabupaten / Kota.

Surat suara dan dokumen-dokumen penting lain ada di dalamnya. Semua itu harus masuk lagi ke kotak tersebut beres acara sore harinya. Lebih tepatnya menjelang subuh keesokan harinya.

Jam tujuh teng pemilih sudah bisa mulai memberikan suaranya. Kami sudah diposisi masing-masing. Saya bertugas mengisi bagian depan kertas suara yang akan digunakan pemilih. Info nama kota, kecamatan, dan kelurahan harus saya isikan manual dengan ballpoin.

Pekerjaam yang sudah lama saya tinggalkan. Menulis bukan lagi sebuah kewajiban di jaman modern ini. Komputer dan handphone menggesernya. Semua orang sudah bisa menulis dengan mengetik. Rancu bukan ?

Karenanya pula apakah masih tepat sekelompok orang yang melatih konsistensi menulis harian dinamakan dengan group menulis ? Apakah tidak lebih tepat group mengetik karena memang pemikirannya ditumpahkan dengan mengetik.

Setengah mati saya berusaha mengisi satu persatu kertas suara itu. Jumlahnya 130 dikali 4, sejumlah pemilih dikalikan jumlah kotak. Non stop dari jam 7 sampai 10 siang, agak reda setelahnya karena pemilih yang datang sudah mulai berkurang.

Namun bukan berarti kerjaan sudah surut. Tahapan yang sangat menyita energi dimulai jam 1 siang. Waktu yang sesuai aturan ditetapkan sebagai batas penutupan pemberian suara. Sekaligus sebagai awal dimulainya perhitungan suara yang masuk.

Satu persatu kotak dibuka, surat suara yang terlipat di lebarkan. Dia harus dipersaksikan kepada yang hadir dan dihitung. Keliru menghitung akibatnya kepercayaan hilang. Perhitungan diulang dari awal lagi.

Beberapa pengulangan menyebabkan penyelesaian lewat hari. Beruntung jam setengah dua pagi seluruh kotak berhasil disegel untuk diserahlan ke panitia tingkat Kecamatan. Namun mendadak salah satu dari kami menemukan ada satu berkas lampiran wajib yang tidak ditemukan.

Kami buka ulang kotak suara yang dicurigai. Menghitung jumlah berkas yang didalam. Kemudian membandingkan dengan laporan awal saat pagi. Entah lalu seperti apa kekadiannya.

Mata saya sudah tidak mau dibuka lebar. Badan merebah di meja tempat menulis sepanjang pagi hingga siang kemarin. Parahnya, dalam tidurpun saya bermimpi masih menulis kertas suara, banyak sekali. Untuk pemililihan umum di negeri mimpi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.