Review Buku : Kisah Tanah Jawa – Jagat Lelembut

Saya mulai mengenal nama Kisah Tanah Jawa untuk pertama kali dari Youtube Channelnya. Berisi tentang pengalaman travelling ke tempat-tempat bersejarah dan penggalian kisah-kisah yang tidak tampak. Semuanya direkam dalam video dan buku.

Kreatifitas anak-anak muda sekarang ini selalu membuat saya kagum. Penulis buku ini termasuk didalamnya, yaitu Mada Zidan (Mbah KJ), Bonaventura D. Genta. Saya yang kadang suka penasaran terhibur dengan karya ini.

Buku ini berisi tentang kumpulan profil makhluk-makhluk tak kasat mata yang penulis temui ketika berkunjung ke tempat-tempat penelusuran mereka. Sudah barang tentu anda yang termasuk golongan penakut tidak perlu membaca buku ini. Tapi jika anda termasuk penakut yang penasaran, bolehlah beli satu dan baca.

Continue reading “Review Buku : Kisah Tanah Jawa – Jagat Lelembut”

Review Buku: Strawerry Generation

Saya mendapatkan buku ini sudah cetakan ke tiga tahun 2017. Ini berarti fenomena yang dibahas oleh Pak Rhenald Kasali Ph.D. —penulisnya sudah ada dan dikenali beliau. Judulnya Strawberry Generation.

Buah yang berpenampilan menarik, merah merona tapi sangat rapuh terhadap gangguan. Begitu generasi muda yang saat ini ada dianalogikan di kumpulan tulisan beliau. Keberadaannya sangat menarik untuk perubahan ke depan yang lebih baik tapi perlu di tangani dengan hati-hati.

Manusia hebat bukanlah manusia yang memperoleh nilai yang mata pelajaran yang tinggi, melainkan manusia berkarakter kuat, dapat dipercaya, mudah diterima, memiliki growth mindset, berjiwa terbuka dan pandai mengungkapkan isi pikirannya dengan baik.

Rhenald Kasali, Strawberry Generation, p264

Bagi saya yang sudah punya anak tulisan yang ada di buku ini memberikan banyak insight tentang bagaimana penanganan itu harus dilakukan dengan mengenali sifat-sifat generasi strawberry yang inginnya serba cepat (instan) dan gampang menyerah.

Mengapa sampai ada generasi yang seperti itu ? Selain perkembangan teknologi yang sudah cukup pesat dan memanjakan, orang tua juga berperan dalam membentuknya. Lha … saya termasuk didalamnya juga dong. Jadi banyak tulisan yang menohok saya di buku ini.

Dari hal yang sepele saja misalnya menyediakan gadget untuk anak-anak. Dulu dari layar sekecil itu hanya sedikit informasi yang bisa didapat. Pengetahuan baru didapat anak-anak dari sekolah, guru, buku, teman, orang-tua, dan media. Gadget masa kini banjir informasi 24/7. Bahkan hanya cukup berteman dengan satu gadget, anak-anak kita berkembang lebih cepat dari orang-tuanya.

Perubahan terjadi dengan dahsyat. Pengaruhnya di kehidupan saat ini tak kalah dashyat. Rasanya masa depan sudah makin cepat menghampiri. Orang tua seperti saya harus banyak belajar memahami perubahan yang terjadi.

Lewat buku ini Pak Rhenald Kasali mengajak semua pihak untuk dapat melihat, mengidentifikasi, dan mensikapi perubahan yang terjadi. Orang tua, guru, sekolah, perguruan tinggi, pemerintah sebagai regulator diajak untuk terus memahami dan melakukan perubahan.

Karena yang pasti adalah perubahan.

Review Buku: Guru Aini

Buku lagi aja ya … beberapa waktu belakangan sedang malas untuk menulis. Semoga setelah buku yang satu ini semangat menulisnya rebound. Bukan rebon, walaupun rebon Cirebon enaknya bukan main.

Buku Guru Aini ini adalah karya terbaru dari Andrea Hirata, penulis Laskar Pelangi yang sudah menyebar sedunia itu. Pertama kali menerima buku ini, saya sudah penasaran dengan cover-nya. Kenapa sepatu ?

Novel ini berkisah tentang pemilik sepatunya, seorang yang idealis dan berani mengorbankan kemudahan-kemudahan hidup yang bisa dengan mudah dijalaninya. Alih-alih menjadi profesi yang dicita-citakan anak muda, dia memilih untuk mengabdi menjadi guru. Guru matematika.

Disinilah kejelian pengarangnya. Tema Matematika ini cukup unik untuk menjadi pilihan. Sekaligus beresiko. Jika tak pandai mengolah jalan cerita, habislah dia. Tapi bukan Andrea namanya jika yang seperti ini saja tak mampu.

Nyatanya 3/4 bagian buku ini saya habiskan dalam 2 jam, tanpa mau dikalahkan oleh beratnya mengangkat kelopak mata. Karena ternyata angka tanggal di HP sudah berganti ketika saya tiba pada titik dan halaman terakhir.

Gadis cerdas bersinar, idealisme tinggi tentang Matematika, dan daerah terpencil adalah kombinasi cerita yang bagus. Dibenturkan dengan kenyataan yang jauh dari harapan menjadikan novel ini membara. Idealisme memang harus di uji.

Andrea Hirata mampu menyajikan ujian-ujian itu secara apik. Menjadi greget buat yang baca. Sekali waktu harus menahan napas, kemudian lega.

Lihat saja di bagian perjalanan Aini menuju ketempat tugasnya untuk pertama kali. Berhari-hari. Beragam kendaraan. Berpulau-pulau. Dihempas-hempas. Tapi sampai juga di tujuan.

Namun tak lama. Sebentar kemudian harus menahan napas lagi. Begitulah naik turunnya petualangan yang dikisahkan. Bagai efek roller coaster. Naik perlahan lalu menghujam dengan cepat. Tapi ketika belum selesai orang merasakan efeknya sudah ditambah lagi dengan berbelok dengan cepat.

Tapi tidak berhenti. Ya… karena dibagian akhirnya masih menyisakan tanya. Saya menduga masih akan ada petualangan berikutnya. Hanya Andrea dan Tuhan yang tahu.

Tapi yang jelas saya menikmati novel ini.

Review Buku: Dawuk kisah kelabu dari Rumbuk Randu

Hampir-hampir saja saya lupa pernah membeli novel ini. Bukunya masih berplastik toko saat saya temukan kembali di lemari buku. Lupa kapan belinya.

Dawuk yang menjadi judul novel ini diambil dari nama tokoh yang paling banyak diceritakan. Hampir di tiga perempat bagian. Nasib hidup Mat Dawuklah yang jadi central.

Kecil terlantar tak terurus. Tak ada teman main. Tak tentu kesehariannya. Ketika besar terlempar ke lembah hitam, jadi algojo siapa saja yang memberi pesanan. Hingga suatu titik balik mendatanginya.

Tapi orang-orang terlanjur tidak percaya. Dan menyeretnya dalam liku nasib pesakitan. Tuduhan demi tuduhan silih berganti. Usaha menghabisi tak terhitung lagi. Tapi Mat Dawuk sudah pasrah.

Rumbuk Randu adalah nama yang lain. Yang jadi setting lokasi cerita ini. Sebuah desa dengan kesulitan geografis yang membentuk budaya masyarakatnya menjadi unik. Mengingatkan saya pada setting pedesaan Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari.

Entah kenapa cerita bersetting kehidupan desa dengan segala permasalahannya selalu saya sukai. Sepertinya karena saya belum pernah tinggal di desa yang jauh dari kota. Sejak kecil saya sudah di kota. Kota kecil yang tetaplah kota.

Mahfud Ikhwan adalah nama yang lain lagi. Tapi yang ini tidak ada didalam cerita. Justru nama ini yang membuatnya. Dengan cerdas! Ya… kisah yang saya ceritakan diatas disajikan lewat jalan cerita di dalam cerita. Mirip di film Titanic tahun 1997. Bahwa semua adegan yang dinikmati sepanjang film tersebut adalah cerita dari orang lain.

Maka alur cerita novel ini bisa jadi referensi bagi yang sedang belajar menulis kreatif. Bahwa alur cerita tidak cuma lurus dari A to Z, tapi juga bisa melompat dan bertingkat. Plus masih menyisakan penasaran di penutupnya.

Tidak perlu dicari-cari bagaimana akhir nasib Mat Dawuk. Penggantungan akhir kadang menjadi kesyikan tersendiri. Selama bukan penggantungan akhir cerita Jiwasraya dan Asabri. Karena yang dua ini bukan novel!

Review Buku: PrieGS Hidupnya Humornya

Judul buku ini yang menarik saya untuk langsung memesannya. Ketika penulis —Pakde Prie GS— menyertakan foto cover diposting fan page FBnya.

Rupanya hanya membaca tulisan-tulisan Pakde di fan page malah membuat saya yang sedang belajar menulis ini semakin penasaran. Rangkaian-rangkaian kalimat yang digunakan saya rasakan sebuah gaya baru. Dan saya menemukan lebih banyak lagi di buku Prie GS Hidupnya Humornya.

Misal tentang kecintaan penulis terhadap masa kecil dipinggir lapangan desa. Pilihan alurnya mampu menggiring pembaca untuk ikut membayangkan rasa kesedihan harus melepaskan layang-layang pada saat-saat terakhirnya.

Saya menjadi ikut terbang mengkorek-korek kenangan-kenangan masa kecil di kampung. Itulah salah satu akibat terlalu banyak membaca tulisan Pakde.

Cuma itu … ?
Tidak!

Saya juga hampir saja menitikkan air mata saat pada satu ceritanya Pakde mengenang Ibundanya. Ketegaran beliau dalam menghadapi kesulitan hidup. Bercanda ditengah sakitnya. Berusaha melawan kemiskinan yang mendera.

Lagi-lagi, saya jadi ikut terbang membuka lembar-lembar cerita tentang Ibu. Saya segerakan bertelepon dan ber-WA ria dengan beliau. Akibat lain dari membaca tulisan Pakde.

Cuma itu … ?
Tidak!

Humor adalah kesulitan saya. Tidak mudah menyampaikannya lewat verbal. Lebih tidak mudah lagi menyampaikannya lewat tulisan. Persepsi humor orang yang berbeda-beda menjadikan saya sebagai peragu.

Maka sayapun mati kutu ketika beberapa bulan lalu saya harus menyisipkan humor pada tugas Kelas Menulis Prie GS. Cukup lama langkah belajar saya terhenti pada tahap ini. Cukup banyak koreksi yang saya dapatkan. Alhamdulillah diijinkan lulus. Tulisan itu saya beri judul Menjadi Pendamping.

Karenanya, ketika melihat judul buku terbaru Pakde saya merasa berkesempatan untuk belajar lebih jauh menata humor dalam sebuah tulisan. Dan benar saja, banyak perspektif baru yang saya dapatkan. Bahkan tidak hanya humor. Pengalaman sederhanapun bisa menjadi menarik dengan pemilihan kalimat-kalimat dan alur yang kreatif.

Terima kasih Pakde Prie GS.

Review Buku: Kelakar Madura Buat Gus Dur

Lagi-lagi saya membaca buku baru dengan tulisan lama. Cetakan pertama buku ini sih Januari 2018. Namun bukunya sudah muncul 2001. Rupanya yang saya pegang adalah versi republish (saya belum tahu istilah yang tepat).

Di buku ini, H. Sujiwo Tedjo menuliskan beberapa cerita dengan latar belakang kehidupan orang-orang Madura yang memang unik. Apalagi terkait dengan persepsi mereka terhadap sosok Gus Dur yang pada masa itu menjadi presiden RI.

Kenapa Madura ? Menurut saya karena penulis memang paham dengan budaya Madura. Yang memang penulisnya juga punya darah tersebut yang diturunkan dari Ayahnya. Cukup banyak kisah-kisah jenaka yang muncul sejak saya kecil dulu terkait dengan budaya ini. Kadang digunakan untuk menunjukkan hal positif ataupun sebaliknya.

Namun di buku ini, Penulisnya mampu meracik dengan baik antar kelakar atau humor, Madura, dan Gus Dur dengan baik. Sehingga tidak akan ada pihak yang tersinggung. Begitu menurut saya yang membacanya di jaman sekarang ini. Tidak tahu ketika masa-masa dulu saat buku ini muncul pertama kali.

Kenapa begitu ? Walaupun isinya kelakar, buku ini banyak mengambil setting kondisi masyarakat dan politik saat presidennya Gus Dur. Banyak sekali pro kontra pada saat itu. Bahkan sampai-sampai menjadi masalah hukum yang cukup ramai.

Membaca buku ini akan lebih mudah memahami jika sudah tahu latar budaya Madura sebelumnya. Tapi jika tidak pun tak mengapa. Minimal jadi tahu jalan pikiran orang-orang Madura secara umum.

Tapi bukan berarti kesemuanya seperti itu. Saya yakin Mbah Tedjo punya makna-makna lain terhadap penggambaran personifikasi yang digunakan pada cerita-ceritanya. Jadi tidak untuk di generalisir ke semua orang Madura.

Saya sendiri setelah membaca buku ini jadi tertarik untuk mencari informasi lebih dalam. Bagaimana bisa penduduk pulau Madura yang tidak jauh dari Pulau Jawa (sekarang terhubung dengan jembatan 5 km) tetapi hidup dengan bahasa yang sangat berbeda dengan Jawa Mataraman ataupun Malangan. Malah dengan Surabaya saja sudah jauh berbeda.

Begitulah sebuah buku. Bisa memberikan insight-insight. malah juga pertanyaan yang bikin penasaran lebih jauh.

Review Buku: Melihat Diri Sendiri, Refleksi Dan Inspirasi

Membaca buku ini seakan diajak menjelajah waktu kembali ke Indonesia 20 tahun silam. Saat dimana orde baru yang sudah cukup lama hidup menjalani hari-hari terakhirnya. Hingga kemasa negeri Paman Sam mencari musuh baru, bosan tidak ada lawan sejak Uni Sovyet bubar.

Penulisnya adalah KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus yang Asli Rembang Jawa Tengah. Tulisan-tulisan beliau banyak di muat di media massa. Buku ini merupakan kumpulan dari beberapa tulisan dengan periodisasi yang saya tulis sebelumnya.

Sekarang beliau juga aktif menilis di Twitter dengan account @gusmusgusmu dengan 2 juta pengikutnya. Insyaallah tidak akan pernah muak membaca celotehan beliau jika Anda masih manusia. Maaf….

Dari tulisan yang ada di buku ini Saya menemukan kondisi yang mirip dengan yang saat ini sedang terjadi di Republik tercinta ini. Dari rakyatnya, dari pemerintahnya, dari politiknya, dari pikirannya, dan dari yang lainnya. Saya jadi bertanya-tanya, setelah sekitan tahun berlalu -sejak tulisan itu dibuat- kondisi yang digambarkan masih relevan dengan yang sekarang, apakah ini berarti selama ini kita belum berubah banyak?

Jika iya, sudah barang tentu tidak sesuai dengan nasehat Nabi agar hari ini lebih baik dari pada kemarin. Jika tidak, mungkin cuma kebetulan situasinya sama atau mirip. Tapi disinilah menariknya buku ini.

Bab yang berjudul Kemaruk misalnya. Gusmus mengingatkan kita bersama tentang sifat yang selalu ingin mendapat banyak. Selalu merasa kurang. Kurang jabatan, kurang harta, kurang wewenang. Sampai sekarang masih ada kan ?

Pada bab Kekelompokan Jahiliyah, beliau menyinggung fanatisme berlebihan yang menyebabkan kita bergolong-golongan yang kelewat batas. Sehingga gampang sekali dimasuki kepentingan yang bermacam-macam. Agama, politik dan nafsu. Sampai saat ini masih juga ada kan?

Maka sangat tepat jika buku ini mengambil judul Melihat Diri Sendiri karena sebagian besar isinya jadi cermin masyarakat saat ini. Sekaligus menyadarkan bahwa persoalan-persoalan yang ada sekarang memang sudah ada sebelumnya. Obatnya pun juga dijelaskan oleh Gusmus. Seperti yang ditulis pada ‘Kembali ke Allah’, membersihkan diri sambil mengagungkan yang Maha Agung misalnya.

Menurut saya buku ini bisa membantu menyadarkan siapa saja yang membacanya.

Review Buku : The Adventure of Sherlock Holmes Edisi Indonesia

Siapa yang tak kenal dengan Sherlock Homes ?! Tokoh detektif swasta yang telah banyak menyelesaikan kasus. Melakukan penyeledikian dengan gayanya sendiri. Kemampuan pengamatan yang sangat detil dan menghubungkannya menjadi modal untuk setiap pemecahan.

Tokoh fiksi inilah yang ada pada buku The Adventure of Sherlock Holmes yang diterbitkan oleh Immortal Publishing cetakan pertama tahun 2019. Berisi 12 cerita pendek yang tidak membosankan untuk dibaca.

Buku berjenis kumpulan cerpen seperti ini jadi pilihan saya jika ingin membaca materi-materi yang santai. Dibaca sewaktu-waktu. Dan ceritanya saling lepas.

Continue reading “Review Buku : The Adventure of Sherlock Holmes Edisi Indonesia”