Jangan Cuma Banting Harga

Belanja online sudah menjadi trend. Marketplace bermunculan. Apalagi sejak pandemi, akselerasinya makin kencang. Orangnya tidak kemana-mana tapi bisa belanja dari mana saja.

Ini angin segar bagi banyak pelaku usaha. Tidak hanya yang punya marketplace, mitra-mitranya yang menjadi support juga kecipratan rejeki karena sistem ini mampu menghubungkan pihak-pihak yang twrkait jual beli.

Salah satunya mitra pemilik toko yang menyediakan barang yang bisa dibeli oleh pelanggan. Mereka berlomba-lomba meraih simpati calon pembeli.

Cara paling sederhana ya dengan memberi harga lebih murah daripada penyedia lain. Namun ini tidak sepenuhnya memberikan jaminan sukses. Jurus banting-bantingan bisa makan tuan. Margin tipis awal tak sanggup mengantisipasi lonjakan harga dari produsen.

Beberapa studi terkait perilaku belanja online bisa menambah senjata buat pemilik toko. Studi dari kampus dalam dan luar negeri itu bisa diadopsi dan dimodifikasi sesuai dengan lokalitas yang ada.

Misal tentang kehadiran foto produk pada katalog toko. Hasil survey menyatakan kelengkapan ini sangat berpengaruh terhadap minat pembelian.

Hal serupa juga didapat dari adanya review positif terhadap produk dari pelanggan. Jika review teesebut dtambah foto malah lebih meningkat pengaruhnya.

Maka pemilik toko online juga perlu pengetahuan lebih. Jangan cuma banting harga. Dan jeli memilih strategi yang cocok. Jangan sampai niat untuk menunggangi booming budaya belanja online berkahir boncos.

Berlomba Mengais Ramadhan

Ramadhan punya segudang daya tarik bagi dunia dan isinya. Keberkahannya untuk semesta alam. Bagi muslim malah melebihi dunia dan isinya. Karena ada pengampunan Allah di dalamnya.

Maka banyak muslim memanfaatkan momentum ini untuk mengejar kelebihan Ramadhan. Shaum, shalat tarawih, tadarus, zakat, sedekah dan lainnya. Non muslim juga tidak mau kalah. Tidak jarang mereka ikut memberikan dukungan seperti membagi takjil, melayani buka bersama, dan sebagainya.

Tapi ternyata tidak hanya orang yang ikut meramaikan Ramadhan. Penyelenggara media sosial dan marketplace belanja daring tak ingin melepas momentum ini sia-sia. Tiga bulan sebelum masuk bulan istimewa mereka sudah bergerak. Memberikan fakta-fakta menarik yang dikumpulkannya dari pengguna. Siapa lagi kalau bukan kita.

Google melalui report dengan judul Winning Ramadhan with digital menyampaikan pada momentum yang sama tahun 2021 lalu aktivitas belanja online melalui marketplace dan aplikasi mobile menjadi pilihan utama untuk kegiatan belanja.

Tiktok yang melejit beberapa tahun belakangan tidak mau ketinggalan momentum. Lewat Igniting Joy mereka memberikan panduan memenangkan Ramadhan bersamanya. Mereka menemukan fakta bahwa penggunanya punya kecenderungan berbelanja jika dibandingkan dengan non pengguna.

Facebook juga tidak mau kalah. Media sosial pemilik 176,5 juta user dari Indonesia (per Juni 2021) ini menyediakan interaktif report multi negara. Salah satu isinya tentang belanja offline dan online lebih dihubungkan dengan preferensi kegiatan pada paruh kedua Ramadhan. Ini mengalahkan preferensi waktu untuk refleksi spiritual dan kegiatan sosial yang berada diperingkat ke 3 dan 4.

Banyaknya pihak yang ikut meramaikan momentum Ramadhan ini makin membuktikan bahwa keberkahan hadir untuk siapa saja. Entah itu muslim, non muslim, bisnis dan teknologi. Maha besar Allah.

Kreatifnya Kita

Sekarang ini waktunya orang kepepet. Presiden kepepet agar segera menyelesaikan huru-hara pandemi. Gubernur, walikota, Pak Camat dan pimpinan daerah yang lain kepepet untuk segera memberikan bantuan ke warganya. Warga kepepet tidak bisa memenuhi kebutuhan seperti biasa.

Saya menyamakan kepepet ini dengan terdesak. Insyaallah tidak akan menimbulkan polemik seperti mudik dan pulang kampung itu. Tentu karena saya bukan presiden dan bukan siapa-siapa. Apalagi cebong dan kampret. BTW apa kabarnya mereka sekarang ya ?

Continue reading “Kreatifnya Kita”

Iklan Di Mana ?

Tidak terasa saya dan istri makin mahir belanja online. Selama #dirumahaja hampir tiap minggu ada paket yang datang. Kadang lebih dari sekali.

Sampai sampai anak lelaki saya cemburu. Dia tidak pernah kebagian paket. Hanya menjadi penerima dari kurir di depan rumah.

Tetangga-tetangga juga mirip. Kadang paket kadang go food. Hingga kami bisa tahu akan ada rumah yang mendapat kiriman hanya dengan mendengarkan suara motor kurirnya. Selalu pelan ketika memasuki jalan di sepanjang rumah kami.

Continue reading “Iklan Di Mana ?”

Adaptasi Bersama

Virus mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungannya. Karena dia adalah makhluk hidup. Salah satu ciri makhluk hidup adalah beradaptasi.

Saya jadi terpikir bahwa sesuatu yang hidup harus bisa beradaptasi. Perusahaan yang hidup pun harus bisa beradaptasi. Saat lingkungannya berubah.

Dan saat ini perubahan itu terjadi dengan dahsyat. Karena seluruh dunia sedang sama – sama menghadapi pandemi virus. Dimana-mana menahan diri, membatasi ruang gerak. Barang dan jasa pun kena imbasnya.

Keduanya tidak bisa dikonsumsi dengan cara-cara lama. Perubahan sudah terjadi nyata. Layanan pesan antar berdemand tinggi. Yang tadinya tidak bisa diantar jadi bisa datang kerumah. Yang sudah mengantar memodifikasi agar pelanggan makin percaya.

Continue reading “Adaptasi Bersama”

Ini Yang Akan Terjadi Beberapa Bulan Ke Depan

Saya masih tertarik dengan tulisan sebelumnya tentang adopsi teknologi pada saat masa #dirumahaja. Dimana seperti saya tulis sebelumnya bahwa #dirumahaja ternyata mampu untuk meningkatkan adopsi teknologi telekomunikasi dan informasi. Silakan baca Peluang Ditengah Himpitan.

Walaupun dengan kondisi dipaksakan karena pandemi, namun adopsi teknologi saya pikir berhasil. Lalu jika makin banyak kalangan yang sudah memanfaatkan telekomunikasi dan informasi, kira-kira dua atau tiga bulan kedepan apa yang bakal terjadi ?

Continue reading “Ini Yang Akan Terjadi Beberapa Bulan Ke Depan”

Peluang Ditengah Himpitan

Tidak terasa sebulan sudah kita berada dalam kondisi membatasi ruang gerak masing-masing dalam rangka memutus rantai penularan Covid-19. Seperti berada di dunia baru bagi saya yang terbiasa setiap hari ke kantor. Sekarang kantornya cuma di kursi sudut meja makan.

Sekolah anak saya sekarang di kamarnya. Jam 7 pagi sudah duduk di depan laptop. Webcamnya jadi mesin pelapor yang menyatakan bahwa hari itu dia siap untuk mulai belajar. Gurunya pun cukup dari rumah. Membagi tugas dan me-review hasil pekerjaan kiriman anak didiknya.

Benar-benar dunia baru. Bagi semua orang. Dengan sebab larangan pemerintah untuk bepergian. Tepatnya himbauan untuk di rumah saja. Sepertinya masih sulit untuk menjadi sebuah larangan yang berkekuatan hukum. Baik perumusannya maupun pelaksanaan dan kontrolnya. Mengingat begitu banyaknya penduduk, kepentingan, kebutuhan, dan pertimbangan lainnya sebagai negara berkembang.

Continue reading “Peluang Ditengah Himpitan”

Solusi Andai-Andai

Dari tulisan Rest Area kemarin, saya jadi berandai-andai menjadi pemilik tempat itu. Ancaman dari kemunculan jalan tol itu nyata. Pengelola rest area di kawasan Puncak dan Pantura sudah merasakan.

Karena jalan tol tidak bisa jadi dalam semalam maka sudah semestinya dampak negatif yang mengancam juga bisa diantisipasi dari awal.

Menyadari bahwa ada ancaman dan perlu dilakukan antisipasi adalah langkah awal yang akan saya lakukan. Berkawan keadaan istilah saya sambil memperkirakan dampaknya.

Berikutnya membangun alternatif. Orang bisnis pasti lebih paham ini. Peluang sekecil apapun pasti dicari dan dihitung peluang keberhasilannya.

Karena saya sedang berpura-pura jadi pemilik rest area, maka alternatif pertama adalah membuka merk yang sama di rest area jalan tol.

Merk yang sudah dikenal luas adalah keuntungan. Salah satu senjata untuk bersaing. Mie Baso SR sudah dikenal luas orang-orang yang sering melintas di jalur selatan Jawa Barat.

Saya menemui merk Pringsewu di rest area jalan tol Pantura saat mudik lebaran lalu. Merk ini sudah cukup dikenal dan banyak cabangnya.

Alternatif lain adalah menggeser usaha. Memanfaatkan lokasi saat ini untuk usaha lain yang tidak mengandalkan bisnis model yang sama.

Misalnya jadi tempat wisata jika geografis memungkinkan seperti adanya sungai yang indah atau sumber air panas.

Areal pergudangan juga bisa jadi alternatif jika ada daerah industri di dekat situ. Tapi lewat Google Map saya tidak melihatnya di sekitar sana.

Alternatif-alternatif tersebut tentu datang bersama dengan biaya tambahan. Pastinya seorang pengusaha sudah memahaminya sebagai konsekuensi logis.

Ide ini masih jauh dari implementasi karena tentu harus ada hitung-hitungan bussiness plan yang sungguhan. Bukan cuma andai-andai.

Seperti saya sedang berandai-andai jadi pemilik rest area ini.

Rest Area

Weekend kemarin saya mampir di rest area Mie Baso SR di Jl Raya Rajapolah Tasikmalaya. Dua kali. Yang pertama Jumat tengah malam. Kedua kalinya Minggu sore.

Arealnya luas, bisa menampung banyak rombongan bis antar kota maupun pariwisata. Tempat duduknya menyebar. Ada yang indoor, teras, outdoor.

Makanan yang disediakan juga banyak. Pop Mie, sosis bakar, ice cream, prasmanan sunda, dan andalannya adalah Mie Baso SR.

Awalnya ketika tengah malam tiba di sana saya penasaran. Dengan area yang sangat luas itu, apa banyak yang datang dan makan disitu ?

Ternyata memang banyak. Saya dapat jawabnya di Minggu siang. Bus yang parkir lebih dari 10 buah. Ditambah lagi beberapa minibus.

Suasananya sudah mirip pasar. Antrian makanan mengular. Mungkin mereka ini yang ikut paket makan dari bus.

Yang ke toilet juga banyak. Maklum perjalanan panjang rute selatan Jawa Barat.

Yang antri Mie Baso SR juga tidak pernah sepi. Setelah cek di Google, rupanya menu ini favorit pengunjung dan terkenal.

Sebenarnya banyak mie baso yang lebih enak. Tapi kelelahan, kebosanan, dan jalan yang meliuk-liuk mengikuti alur gunung berkongsi membuat badan lelah.

Kondisi ini butuh penyegaran. Makanan berkuah panas cocok sekali. Sedap dan segera tandas.

Tapi apakah kondisi ini akan tetap sama setelah jalan tol selatan Jawa jadi ? Akan terjawab nanti setelah tolnya jadi. Ruas Gede Bage Bandung ke Tasikmalaya ditargetkan siap 2024.

Sebagai perkiraan sepertinya bisa berkaca pada pengaruh tol trans Jawa. Kalau mau yang lebih lama lagi adalah tol Purbaleunyi. Coba baca artikel Kompas ini atau artikel CNN ini.

Dampak Tol bagi pemasukan pedagang sebagian besar negatif. Omset berkurang karena pembelinya makin sedikit.

Sampai saat ini saya belum mendapat kisah sukses mereka yang berhasil survive. Mestinya ada. Mungkin saya saja yang belum tahu.

Jika Anda tahu, tolong tulis di komentar ya … Insyaallah akan jadi studi yang bagus buat kita semua.

Saya masih ingin merasakan Mie Baso SR dan juga tidak mau repot berlama-lama di jalanan jalur selatan itu. Saya pikir Tol akan jadi pilihan menarik.