Bukan Pawang Hujan

Dia kawan saya, bukan pawang hujan. Walau di foto ini sedang duduk bersila di depan panggung jazz. Dan kebetulan juga waktu itu bukan musim hujan. Saya rasa pihak panitia acara pun tidak perlu menggunakan jasanya.

Kami berdua memang sedang dalam misi jalan-jalan ke panggung Jazz di Jogja tahun 2009 lalu. Sepertinya waktu itu sedang gabut karena Jum’at siang rencana ini baru sekedar obrolan biasa dan sore hari sudah dieksekusi dengan beli tiket kereta.

Memang kadang hal yang tidak direncanakan jauh-jauh hari lebih bisa terlaksana daripada yang disiapkan dengan detil namun yang terjadi hanya perencanaan saja. Tepat 9 jam setelah keberangkatan dadakan itu kami sudah menginjakkan kaki di Stasiun Tugu dengan terkantuk-kantuk. Ayam jantan di Jogja pun belum berkokok.

Singkat cerita sore hari kami berangkat menuju lokasi panggung, saya lupa di desa apa. Waktu itu belum banyak acara musik di gelar di pedesaan. Setidaknya dari yang saya tahu.

Kami naik bis ke arah selatan pusat kota Jogja sekitar 30 menit. Sambil berpikir keras cara kembali ke kota malam nanti. Kami harus mengejar kereta malam itu juga jam 23. Benar-benar gabut.

Pawang hujan eh kawan saya itu berhasil menularkan sifat nekat. Sampai di tujuan pun kami belum dapat jawaban mau naik apa malam nanti ke stasiun. Tapi ada yang membuat senang, karena kami sudah berhasil mendapatkan banyak stok foto.

Kejutan Ketika Tuhan Tertawa

Saya kegerahan begitu keluar dari ruang pengambilan bagasi Bandara Hanandjoeddin siang itu. Untuk kulit saya agak gelap jadi wajah tidak nampak kemerahan seperti kepiting rebus. Ingin sekali rebahan di mobil jemputan karena perjalanan saya dimulai tepat tengah malam dari Bandung.

Tapi itu tidak terjadi karena yang datang menjemput adalah 2 motor yang langsung melaju begitu saya naik ke boncengan. Kawan saya yang sekaligus pemandu juga sudah duduk di motor satunya.

Saya jadi tidak kegerahan lagi karena laju motor tapi tetap kehausan. Dipulau Belitung panasnya dari atas dan bawah. Matahari dari atas dan pantulan tanah berpasir putih dari bawah. Di Bandung tidak begitu, saya pun agak tersiksa.

Untungnya perjalanan sekitar 30 menit ke utara tidak terasa membosankan karena penasaran dengan tempat yang dituju. Kawan saya itu bukan pemandu yang baik. Tidak pernah menjelaskan dengan detil tempat apa yang akan kami datangi. Begitulah cara dia menciptakan kejutan.

Dan memang benar, sampai di pantai Tanjung Tinggi saya kalap karena indahnya. Kamera DSLR langsung keluar dari tas. Pantai pasir putih berhias batu-batu besar yang belum pernah saya lihat di Jawa sajian utamanya.

Jepret arah sana, jepret arah sini yang terekan hanya satu, indah. Mau jepret tanpa melihat viewfinder kamera pun hasilnya tetep tidak buruk. Apakah Tuhan menciptakan pantai ini dengan tersenyum seperti ketika menciptakan Bandung ?

Saya di ajak mengikuti langkah pemandu penuh kejutan itu menyelinap satu batu agak besar. Rupa-rupanya stok kejutan dia belum habis. Dia tunjukkan bagaimana keindahan karya Tuhan ketika tertawa. Lebih indah dari yang saya lihat sebelumnya.

Tirta Empul, Prosesi Interaktif Melibatkan Pengunjung

Sepasang turis asing sedang melangkah menuju bagian dalam Pura Tirta Empul  Kecamatan Tampak Siring kabupaten Gianyar Bali. Saya foto mereka saat kami berpapasan.

Antusiasme turis asing mengunjungi pura ini cukup besar. Waktu saya berkunjung kesana sangat mudah menemukan orang dengan postur tinggi dan berkulit putih.

Menurut data pengelolanya sampai dengan September 2019 kunjungan wisatawan asing sebanyak 674.686 orang dan domestik sebanyak 97.603 orang.

Dominan sekali para bule ini, merekapun antusias mengikuti prosesi melukat dengan membasuh seluruh badan di 26 pancuran satu persatu. Saya dan pengunjung domestik umumnya hanya melihat saja.

Saya belum memahami makna kegiatan itu selain menikmati limpahan air yang sangat bersih di lingkungan yang asri. Nampak benar alam disini terjaga dengan baik karena air memancar sangat deras.

Padahal tujuan melukat sangat mulia yaitu menghilangkan pengaruh-pengaruh buruk dalam diri melalui serangkaian prosesi. Air memang zat yang menyucikan.

Saya lihat bule-bule begitu menikmati. Walau sorot matanya menggambarkan ketidak tahuan tapi mereka mengikuti dengan tertib dan tuntas hingga pancuran terakhir.

Mengalami pengalaman baru, atraksi interaktif yang memberikan kesempatan pengunjung berinteraksi dengan sajian di lokasi yang didatanginya. Tentu ini akan lebih membekas dalam ingatan dan bisa menjadi top of mind.

Tidak seperti saya yang hanya menonton alih-alih berswafoto seperti pengunjung domestik umumnya.

Pantai Kelabu

Maaf, sedang bosan melanjutkan tulisan tentang self development kemarin. Sepertinya saya termasuk orang yang gampang sekali ter-distract. Sebentar-sebentar bosan. Sebagai gantinya, saya tampilkan foto ini.

Saya sampai kesini tahun 2009 yang lalu. Pantai yang sepi. Hanya ada pasir, air laut, awan, sinar matahari sore yang menelusup disela-sela awan. Tak sudi tertutupi eksistensinya.

Continue reading “Pantai Kelabu”

Kanvas Kota

Bandung gudangnya kreatifitas. Anak-anak mudanya terutama. Musik, film, tari, buku, gaya hidup, arsitektur, mode, aplikasi, games, fotografi, lukisan, dan yang lainnya. UNESCO pun mengakui Bandung sebagai kota kreatif.

Sayang rasanya jika tidak menikmatinya. Salah satu yang sering saya lihat di jalan Siliwangi. Karya lukis anak-anak seni rupa ITB. Di dinding beton penahan bukit diatasnya.

Lukisan dinding sudah seperti budaya kota. Ada alirannya sendiri. Grafitti atau mural. Bomber, sebutan pelakunya di Indonesia. Banyak yang tergabung. Hampir ditiap kota. Grafittinya juga.

Setiap ketemu lukisan ini, saya sempatkan melihat. Menebak ‘suara’ apa yang diteriakkan oleh pembuatnya. Persis lukisan, tapi ini kanvasnya tembok atau bahkan publik transport. Kanvasnya kota.

Continue reading “Kanvas Kota”