Alam Kaya

Alam ini kaya, segala kebutuhan untuk menunjang hidup tersedia selalu. Otomatis tanpa campur tangan manusia untuk membuatnya ada. Sistem yang mendukung ketersediaannya pun terjaga siap. Ambil contoh rumput –makanan utama sapi dan kambing banyak tumbuh di alam ditunjang dengan sifatnya yang mudah tumbuh dan cepat berkembang. Maka berkembanglah beragam tumbuhan dan hewan serta ilmu-ilmu tentangnya.

Allah sebaik-baiknya pencipta dan pemelihara dalam keseimbangan. Dari yang paling kecil hingga alam raya ini berjalan dalam perjalanannya masing-masing namun dalam keharmonisan tinggi. Dan semua dilakukan tanpa bantuan siapapun. Tidak juga manusia. Maka ketika manusia berusaha menirunya, perlu menyiapkan banyak hal sebelum sistem tiruan alam itu mulai berjalan, dan butuh lebih banyak hal lagi untuk dapat mempertahankan stabilitasnya. Ini bisa berarti biaya yang tinggi.

Contohnya saya pernah memelihara arwana silver Irian yang ditempatkan di sebuah akuarium ukuran 40cm x 60 cm x 50 cm. Untuk suplai udara dan air yang jernih, harus disediakan pompa air listrik yang tidak boleh mati terlalu lama karena akan membuat ikan lemas kekurangan oksigen. Lalu untuk makanan, setiap Rabu dan Sabtu malam saya ke pasar ikan untuk beli ikan pakan hidup dan kadang kelabang. Listrik, ikan pakan, kelabang butuh biaya, biaya untuk kelangsungan hidup seekor arwana.

Diwaktu yang lain, saya mendapat hadiah sepasang kucing hibah dari mertua kawan. Karena sudah berani untuk berniat memelihara, maka menjamin makan, kebersihan kandang, dan kesehatannya jadi tanggung jawab. Tepat sebulan setelahnya  lahir 3 ekor anak kucing lucu-lucu. Dan ini berarti bertambahlah tanggung jawabnya. Yang tadinya hanya menyediakan makanan dan sarana kebersihan untuk yang dewasa saja, sekarang ditambah dengan makanan dan kebersihan bayi. Kadang saya bertanya-tanya, sampai kapan kemampuan saya dalam ‘menanggung’ kehidupan mereka?

Sementara alam ini mampu merawat berjuta-juta kucing ataupun arwana tanpa takut biaya. Sungguh kaya!

 

Cing!

Cukup lama saya mengenal kucing dan 3 tahun belakangan ini dirumah ada 3 ekor, berawal sepasang bapak dan emak pemberian kawan lalu sekarang bertambah 1, betina lucu nan gendut. Masih belia, sekitar 9 bulan. Setiap ada orang mendekat ke kandangnya dia selalu bersemangat untuk bermain. Tipikal usia anak-anak yg penuh energi dan butuh penyaluran.

Perkenalan saya dengan kucing dimulai dari Ibu ketika saya di kelas 1 SMP. Suatu sore tiba-tiba saja datang seekor dalam kondisi sakit tidak mampu berdiri lagi. Tidak ada luka luar yang tampak. Tapi si kucing tidak banyak bergerak, hanya rebahan dan mengedipkan mata hingga berhari-hari. Ibu membuat alas tempat tidur untuknya dari keset sabut kelapa. “Ini supaya dia hangat,” kata Ibu kepada saya.

Hari ke enam si kucing bangkit dari tempat tidurnya. Kami bergembira karenanya. Saya terheran-heran dibuatnya. Enam hari hanya makan seiris daging bakso tanpa minum masih bisa sehat lagi ?! Tapi kegembaraan itu tak lama. Si kucing menghilang tiba-tiba, layaknya kedatangannya dulu. Kami sama sekali tidak punya petunjuk harus mencarinya kemana. Tidak ada asesoris di tubuh si kucing saat datang, membuat kami sepakat bahwa dia mungkin adalah kucing liar dan bukan dipelihara oleh seseorang. Ini didukung dengan lungkungan saya tinggal waktu itu belum sepadat sekarang. Masih banyak lahan kosong bersemak yang merupakan tempat cocock untuk sarang hewan.

Dua hari berselang, kejutan terjadi. Kucing kembali datang! Kali ini tidak sendiri, bersama tiga ekor kucing lain yang masih kecil tapi sudah bisa bermain. Lucu-lucu. Bertambah ramailah rumah kami. Ibu senang, saya senang, Ayah juga. Tapi beliau bertambah kerepotannya karena harus membersihkan lebih banyak kotoran kucing. Ibu paling tidak suka bau kotorannya.

Sama seperti sekarang ini, dirumah, sayadibuat repot karena harus menyediakan waktu khusus setiap pagi untuk memberi makan dan persediaan air minum di ketiga kandang tempat pelihaaraan kami itu. Dan yang paling krusial adalah membersihkan kotoran yang ada di bak pasir mereka. Istri dan anak saya meski senang memelihara namun untuk bagian itu mereka ‘berbaik hati’ memberikan saya peran seluas-luasnya 😀

Oalah Le…

Bertemu dengan orang-orang baru selalu membawa kesan yang bermacam-macam, suka duka jenaka sedih marah dan lain-lain tergantung situasi dan kondisi pada waktu itu. Menggali kembali peristiwa-peristiwa tersebut, dapat membuat  penggalinya terbawa kembali ke masa itu. Dan saya sedang mengalaminya…

Sekitar tahun 2000-an saya dan beberapa kawan mendapatkan kesempatan berkunjung ke sebuah daerah yang cukup jauh dari kota dalam rangka mengenalkan internet lebih tepatnya cara menggunakan komputer untuk mengakses internet. Waktu itu keberadaan mesin pencari informasi menjadi titik awal untuk pengalaman baru menelusur jutaan informasi yang ada. Yahoo masih menjadi satu-satunya. Dengan Yahoo kita bisa mencari apapun. Begitu bahasa gampang kami untuk memudahkan pemahaman pendengarnya.

Mengenalkan Yahoo kepada komunitas pelajar yang bahkan komputer saja hanya tahu nama tanpa sering menggunakannya menjadi tantantang terberat kami. Boro-boro ngomong ngalur ngidul yang muluk-muluk tentang jual beli online lah, instant mesenger lah, pegang mouse aja masih mleset-mleset. Hasilnya… sebelum sampai ke Yahoo kami harus set back jauh kebelakang dengan mengajari memegang mouse yang benar, cara mengakses Windows, mengenalkan bagian-bagian browser. Karena keterbatasan sarana maka materi harus disampaikan ulang dalam beberapa kelas yang berututan. Fiiuuuuuhhh…

Beruntung beberapa anak sudah lebih mengenal komputer dan internet. Mereka sudah mahir buka Windows dan browser serta langsung membuka Yahoo, gerbang ke semua informasi. Karena dengan Yahoo orang bisa mencari apapun. Dan salah satu peserta dengan sigap membukanya lalu mengetikkan sebuah kata…. ISTRI.

Oalah leeee……