Berlomba Mengais Ramadhan

Ramadhan punya segudang daya tarik bagi dunia dan isinya. Keberkahannya untuk semesta alam. Bagi muslim malah melebihi dunia dan isinya. Karena ada pengampunan Allah di dalamnya.

Maka banyak muslim memanfaatkan momentum ini untuk mengejar kelebihan Ramadhan. Shaum, shalat tarawih, tadarus, zakat, sedekah dan lainnya. Non muslim juga tidak mau kalah. Tidak jarang mereka ikut memberikan dukungan seperti membagi takjil, melayani buka bersama, dan sebagainya.

Tapi ternyata tidak hanya orang yang ikut meramaikan Ramadhan. Penyelenggara media sosial dan marketplace belanja daring tak ingin melepas momentum ini sia-sia. Tiga bulan sebelum masuk bulan istimewa mereka sudah bergerak. Memberikan fakta-fakta menarik yang dikumpulkannya dari pengguna. Siapa lagi kalau bukan kita.

Google melalui report dengan judul Winning Ramadhan with digital menyampaikan pada momentum yang sama tahun 2021 lalu aktivitas belanja online melalui marketplace dan aplikasi mobile menjadi pilihan utama untuk kegiatan belanja.

Tiktok yang melejit beberapa tahun belakangan tidak mau ketinggalan momentum. Lewat Igniting Joy mereka memberikan panduan memenangkan Ramadhan bersamanya. Mereka menemukan fakta bahwa penggunanya punya kecenderungan berbelanja jika dibandingkan dengan non pengguna.

Facebook juga tidak mau kalah. Media sosial pemilik 176,5 juta user dari Indonesia (per Juni 2021) ini menyediakan interaktif report multi negara. Salah satu isinya tentang belanja offline dan online lebih dihubungkan dengan preferensi kegiatan pada paruh kedua Ramadhan. Ini mengalahkan preferensi waktu untuk refleksi spiritual dan kegiatan sosial yang berada diperingkat ke 3 dan 4.

Banyaknya pihak yang ikut meramaikan momentum Ramadhan ini makin membuktikan bahwa keberkahan hadir untuk siapa saja. Entah itu muslim, non muslim, bisnis dan teknologi. Maha besar Allah.

Cerdasnya Anak-Anak

Anak-anak di lingkungan tempat tinggal saya sangat antusias untuk ikut shalat tarawih berjamaah. Tiap hari selalu hadir. Jama’ah dewasa belum tentu bisa.

Sebelum adzan Isya’ mereka sudah hadir di selasar. Menanti sejawatnya datang. Setelah itu bermain bersama. Sementara alas shalatnya sudah tergelar di dalam ruang masjid.

Adzan selesai mereka masih bermain. Pun juga saat iqomah. Kehebohan baru mulai terjadi ketika imam sudah mau ruku’. Langkah kakinya serabutan seakan lomba balap lari liar yang akhir-akhir ini heboh di Tik Tok warganet.

Suasana tidak lantas menjadi tenang. Dasar jiwa anak-anak, dunia ini adalah tempat bermain yang luas. Sampai salam selesai ada saja yang bisa dimainkan. Dalam diam maupun cekikikan.

Saya amati pola ini juga berlaku untuk shalat tarawihnya. Selama ceramah tarawih mereka entah kemana, begitu mau ruku’ berlarian ke barisannya.

Akan terulang lagi saat jeda Tarawih. Bedanya mereka tidak meninggalkan tempat shalat. Ngobrol lah, nonjok temannya lah, memberikan koreksi tapi sambil berisik.

Ini akan berhenti sejenak lagi-lagi menjelang imam ruku’ rakaat pertama. Begitulah siklusnya. Begitu juga dari tarawih malam pertama.

Anak-anak ini memang cerdas. Shalatnya tetap sah karena masih mendapatkan ruku’ bersama imam. Walau ada madzab yang tidak membolehkan itu. Insyaallah anak-anak akan mendapatkan pengampunan.

Itu lebih baik dari pada mereka hanya main-main saja tidak shalat. Apalagi mainnya tidak di masjid. Momen-momen itu akan mereka ingat hingga tua nanti.

Saya buktinya!

Kopi, Antara Kebutuhan Atau Keinginan

Saya teringat dengan sebuah quote yang pernah dipasang teman di aplikasi Whatsapp-nya. Saya tidak ada masalah dengan kopi, saya bermasalah jika tanpanya. Begitu bunyinya.

Saya setuju dan agak menggelitik karena tidak sedikit orang yang berpikiran sebaliknya. Ada bilang perut akan mules jika minum kopi. Yang lain merasa tidak dapat tidur meskipun hanya seteguk.

Tapi nyatanya bisnis kopi makin menjamur. Startup Kopi Kenangan sudah berhasil menjadi salah satu Unicorn di Indonesia atau startup dengna valuasi diatas USD 1 Milyar.

Dalam tahun 2021 saja mereka mampu menjual 40 juta gelas dari lebih 600 gerai di 45 kota Indonesia. Kemampuan ini ditunjang oleh 3 ribu orang karyawan. Demikian menurut halaman Tech In Asia.

Dari banyaknya cup itu saya tidak tahu berapa gelas yang dinikmati oleh orang yang mules atau tidak bisa tidur. Namun pastinya beberapa gelas tersebut adalah yang saya minum.

Pilihan favoritnya adalah kopi yang panas, tanpa gula. Nikmat sekali apalagi dalam perjalanan mudik. Walau sudah ada gerai di rest area jalan bebas hambatan, sayangnya mereka belum merambah ke timur Jawa Barat dan timurnya lagi.

Insyaallah mudik akan lebih asik jika mereka ada disana. Walau masih sering saya bertanya-tanya, minum kopi ini kebutuhan atau keinginan ?

Bagaimana menurut Anda ?

Antara Upsize Murah Atau Disangka Murah

Salah satu strategi menarik pembeli dan meningkatkan penjualan adalah lewat promosi penambahan ukuran produk dengan harga sama atau lebih sedikit. Tapi apa benar lebih murah atau hanya dikesankan murah?

Istilah ini saya sering dengar di tempat makan cepat saji. Upsize ukuran minuman ke cup yang lebih besar. Biasanya hanya dengan menambah beberapa ribu rupiah saja.

Gambar cup asal bersebelahan dengan cup yang lebih besar terpampang di display. Disertai keterangan berapa harga asal dan yang harus ditambahkan. Dengan begitu calon pembeli lebih mendapat gambaan mendekati nyata apa yang akan dia dapatkan.

Kenapa mendekati nyata? Ya karena sebenarnya ada informasi yang masih belum disampaikan. Ukuran sebenarnya dari isi gambar itu tidak disampaikan. Misal berapa persen volume kenaikannya.

Jika ini ada, konsumen dapat dengan mudah melakukan analisa benar-benar murah atau penjual hanya ingin produknya di persepsi murah. Tapi eh… ini beli minuman atau kuliah sih? Hehe.

Andai benar-benar murah, konsumen harus tetap waspada. Sebabnya adalah tempat makan cepat saji adalah pihak yang paling tahu bagaimana caranya agar konsumen membelajakan lebih banyak uang kepadanya. Ini menurut Bussiness Insider dalam videonya yang berjudul “Sneaky Ways Fast Food Restaurants Get You To Spend Money“.

Praktek yang pernah saya temui adalah pada menu paket gabungan. Combo istilah yang sering dipakai. Informasi yang tertera biasanya menggunakan ukuran standar. Namun saat saya membeli paket tersebut, produk yang diberikan berukuran yang sudah di upsize. Tanpa ada penawaran terlebih dahulu saat transaksi terjadi.

Maka jika terpaksa harus membeli paket combo, saya biasakan menambahkan pesan jangan dilakukan upsize pada apapun produknya. Ditanya atau tidak ditanya oleh pramusajinya.

Bukan Pawang Hujan

Dia kawan saya, bukan pawang hujan. Walau di foto ini sedang duduk bersila di depan panggung jazz. Dan kebetulan juga waktu itu bukan musim hujan. Saya rasa pihak panitia acara pun tidak perlu menggunakan jasanya.

Kami berdua memang sedang dalam misi jalan-jalan ke panggung Jazz di Jogja tahun 2009 lalu. Sepertinya waktu itu sedang gabut karena Jum’at siang rencana ini baru sekedar obrolan biasa dan sore hari sudah dieksekusi dengan beli tiket kereta.

Memang kadang hal yang tidak direncanakan jauh-jauh hari lebih bisa terlaksana daripada yang disiapkan dengan detil namun yang terjadi hanya perencanaan saja. Tepat 9 jam setelah keberangkatan dadakan itu kami sudah menginjakkan kaki di Stasiun Tugu dengan terkantuk-kantuk. Ayam jantan di Jogja pun belum berkokok.

Singkat cerita sore hari kami berangkat menuju lokasi panggung, saya lupa di desa apa. Waktu itu belum banyak acara musik di gelar di pedesaan. Setidaknya dari yang saya tahu.

Kami naik bis ke arah selatan pusat kota Jogja sekitar 30 menit. Sambil berpikir keras cara kembali ke kota malam nanti. Kami harus mengejar kereta malam itu juga jam 23. Benar-benar gabut.

Pawang hujan eh kawan saya itu berhasil menularkan sifat nekat. Sampai di tujuan pun kami belum dapat jawaban mau naik apa malam nanti ke stasiun. Tapi ada yang membuat senang, karena kami sudah berhasil mendapatkan banyak stok foto.

Kejutan Ketika Tuhan Tertawa

Saya kegerahan begitu keluar dari ruang pengambilan bagasi Bandara Hanandjoeddin siang itu. Untuk kulit saya agak gelap jadi wajah tidak nampak kemerahan seperti kepiting rebus. Ingin sekali rebahan di mobil jemputan karena perjalanan saya dimulai tepat tengah malam dari Bandung.

Tapi itu tidak terjadi karena yang datang menjemput adalah 2 motor yang langsung melaju begitu saya naik ke boncengan. Kawan saya yang sekaligus pemandu juga sudah duduk di motor satunya.

Saya jadi tidak kegerahan lagi karena laju motor tapi tetap kehausan. Dipulau Belitung panasnya dari atas dan bawah. Matahari dari atas dan pantulan tanah berpasir putih dari bawah. Di Bandung tidak begitu, saya pun agak tersiksa.

Untungnya perjalanan sekitar 30 menit ke utara tidak terasa membosankan karena penasaran dengan tempat yang dituju. Kawan saya itu bukan pemandu yang baik. Tidak pernah menjelaskan dengan detil tempat apa yang akan kami datangi. Begitulah cara dia menciptakan kejutan.

Dan memang benar, sampai di pantai Tanjung Tinggi saya kalap karena indahnya. Kamera DSLR langsung keluar dari tas. Pantai pasir putih berhias batu-batu besar yang belum pernah saya lihat di Jawa sajian utamanya.

Jepret arah sana, jepret arah sini yang terekan hanya satu, indah. Mau jepret tanpa melihat viewfinder kamera pun hasilnya tetep tidak buruk. Apakah Tuhan menciptakan pantai ini dengan tersenyum seperti ketika menciptakan Bandung ?

Saya di ajak mengikuti langkah pemandu penuh kejutan itu menyelinap satu batu agak besar. Rupa-rupanya stok kejutan dia belum habis. Dia tunjukkan bagaimana keindahan karya Tuhan ketika tertawa. Lebih indah dari yang saya lihat sebelumnya.

Hiking Yang Sukses

Dalam kegiatan alam bebas seperti hiking, sukses itu berarti kembali ke tempat asal dengan selamat. Bagaimanapun rintangan yang dihadapi diperjalanan selama semua pesertanya sampai ke tempat asal dalam keadaan utuh bisa disebut perjalanan itu berhasil.

Ini selalu saya ingatkan ke teman-teman sebelum memulai perjalanan berombongan. Kelengkapan peralatan yang memadai, kebutuhan logistik yang mencukupi, dan doa yang penuh harap menjadi modal utama.

Meskipun begitu tetap saja kejutan-kejutan perjalanan harus bisa diterima dan dihadapi. Namanya kejutan selalu tidak terduga baik waktu maupun tempat.

Suatu waktu seorang kawan diam-diam mendatangi saya saat kami rehat dikaki sebuah bukit. Dia minta stok air minum dari tas ransel saya. Sedang perjalanan baru 30 menit. Jadi tahulah saya jika dia tidak bawa air sesuai yang disepakati. Jadilah kami harus berhitung ulang bawaan air minum.

Dilain waktu jalan setapak didepan kami tiba-tiba tak terlihat lagi, padahal menurut GPS kami tidak melenceng jalur. Parahnya sinyal data tak lagi bisa di terima, maklum kami di dalam hutan di sebuah punggungan gunung. Perjalanan harus berhenti sejenak, dua orang terpaksa bergerak terlebih dahulu untuk mencari tanda-tanda jalur yang benar.

Pada kesempatan lain kami baru menyadari salah arah setelah 400 meter berjalan dengan elevasi turunan 45 derajat. Sementara rombongan berjumlah 17 orang dengan 6 orang anak kecil. Target jam 2 siang kami sudah bisa bertemu di titik jemput tidak bisa ditepati. Malah kami tidak tahu berada dimana. Jam 20:30 kami baru bisa ditemukan tim pencari yang bisa saya hubungi saat sinyal HP dalam jangkauan.

Syukurlah waktu itu kami bisa pulang kerumah dengan selamat walau terlambat sekitar 7 jam dari jadwal. Perjalanan yang sukses walau dengan bumbu yang cukup pedas.

Saya berharap hiking yang akan datang juga sukses tanpa rintangan berarti. Nanti setelah musim hujan kali ini berganti. Mungkin tinggal sebentar lagi karena bunyi tonggerek sudah makin sering terdengar.

Tradisi Berbagi Makanan Menjelang Lebaran

Dulu menjelang lebaran, saya dan kakak sering ribut. Berebut siapa yang lebih berhak menghabiskan lauk mie goreng dari nasi yang dikirim tetangga-tetangga.

Sudah menjadi kebiasaan ketika menyambut lebaran warga kampung saling mengirim makanan. Terutama pada malam menjelang lebaran.

Ibu menyiapkan masakan di piring. Kemudian dimasukkan kedalam tenong, yaitu wadah dari alumunium yang dapat disusun bertumpuk dan dikunci dengan pegangan logam.

Kakak sering mendapat tugas membawanya ke rumah tujuan. Sekali jalan bisa mencapai tiga rumah karena satu wadah bisa membawa tiga piring sekaligus.

Tugas saya simpel, tapi sangat berat. Tidak mengganggu proses Ibu dan Kakak. Karena mereka selain harus menyiapkan hantaran juga sekaligus menerima jika ada tetangga lain yang datang mengirim masakannya.

Saya yang masih kecil selalu antusias melihat isi kiriman dari tetangga. Mie goreng dan telur bumbu bali selalu favorit. Keduanya adalah kemewahan karena hari-hari kami waktu itu seringnya nasi lauk tahu tempe.

Sayangnya saya tidak sendirian. Kakak adalah satu-satunya pesaing tangguh karena kami dua bersaudara. Dia tidak suka jika saya berhasil menggagalkan usahanya mendapatkan mie goreng dan telur bumbu bali.

Ayah dan Ibu hanya tersenyum melihat tingkah kami. Tidak nampak kelelahan diwajah beliau setelah dari pagi menyiapkan kebiasaan berbagi dengan tetangga ini.

Setelah saya tua seperti sekarang barulah bisa memahami. Kebiasaan itu bukan tanpa dasar. Karena berbagi hadiah dengan tetangga adalah anjuran Nabi.

Barangkali waktu itu Ayah dan Ibu hanya seekedar menjalankan tradisi. Dan itu tradisi yang sangat baik. Juga untuk jaman sekarang.

Berjuta Tanya Tentang Hilangnya Sepasang Sandal

Saya bertanya-tanya adakah seseorang di dunia ini yang sama sekali belum pernah kehilangan sandal. Kalau ada, berapa banyaknya dari 1000 orang ? Apa sajakah yang mereka lakukan agar tidak kehilangan saat harus melepaskan sandal di tempat umum ?

Untuk orang-orang yang sering kehilangan, di tempat apa mereka mengalaminya. Berapa banyak yang disebabkan karena lupa tempat melepasnya ? Berapa banyak yang disebabkan karena dicuri oleh orang yang tidak berhak ?

Apakah ada pengaruh jenis kelamin dengan jumlah kehilangan ini ? Apakah usia mempengaruhinya ? Apakah usia dan jenis kelamin itu memberikan pengaruh secara simultan ?

Kalau di level Indonesia, di kota manakah sering terjadi kehilangan sandal ? Apakah ada korelasinya antara tingkat kepadatan penduduk disuatu kota dengan jumlah kejadian kehilangan ?

Di level dunia apakah fenomenanya mirip dengan yang terjadi di Indonesia ? Ada berapa kelompok negara yang mempunyai rata-rata kehilangan per 1 juta penduduk ? Apakah ada kesamaan budaya antara negara-negara dalam kelompok itu ?

Studi seperti ini saya pikir akan bisa dimanfaatkan untuk inovasi yang bermacam-macam. Dari sisi desain bisa dicari sandal model apa yang tidak banyak hilang di suatu daerah. Fitur apa yang perlu disematkan padanya agar tidak bisa hilang. Kalaupun terpaksa hilang, bagaimana agar lebih mudah mencarinya.

Dari sisi penyedia layanan parkir sandal umum bisa dilakukan perubahan Standar Operational Procedure untuk penitipan sandal yang berkeamanan tinggi. Dukungan digital apa yang bisa diperbuat ?

Dari sisi kebijakan publik, bagaimana aturan yang ada bisa di buat untuk melindungi semua pihak yang terkait seperti pemilik sandal, penyedia tempat, pencuri, aparat penegak hukum.

Kok pencuri harus dilindungi ? Ya, agar mendapatkan jaminan hukuman yang setimpal dan terhindar dari tindakan semena-mena. Misal jika dia mencuri hanya satu buah, apakah tuduhannya dan hukumannya pantas untuk dianggap sebagai perbuatan kepada sepasang.

Dari sisi bisnis media, bisa mencari model bisnis seperti apa yang cocok untuk pemasang informasi kehilangan sandal sebagai syarat untuk mengajukan pelaporan kehilangan di Kepolisian dan pengurusan asuransinya.

Dan masih banyak lagi peluang-peluang pengembangan baru yang bisa ditindaklanjuti dari studi semacam ini. Itupun kalau ada, semoga suatu saat.

Karena kehilangan itu pasti. Dan saya pernah mengalaminya. Kehilangan sepasang di waktu Dhuhur dan sepasang lagi di Ashar. Pada hari yang sama !