Pagiku Pagimu

Pagi diciptakan untuk menjadi tanda saatnya orang mulai bergerak kembali setelah istirahat malamnya. Makhluk hidup yang lain pun demikian. Jika kita mau memperhatikan, Ternyata cukup banyak aktivitas menarik yang terjadi di waktu pagi tersebut.

Seperti pagi tadi ketika dalam perjalanan menuju ke kantor. Ada Sekuriti komplek yang dengan sigap membalas senyum saat aku melintas didekatnya. Beberapa ratus meter darinya kulihat seorang ibu sibuk melayani pembeli di meja jualan daging ayam segar. Dengan bersemangat dia memotong dan membungkus serat menyerahkan daging ayam pesanan ke pembeli didepannya. Tak lupa senyum disisipkan disela ucapan terima kasih.

Di ujung gang, sekelompok pria berjaket merah berjajar rapi di sela barisan sepeda motornya. Mereka adalah tukang ojeg pangkalan yang siap mengantar siapa saja kemana saja. Tentu sesuai dengan urutan yang sudah diatur oleh ketua kelompoknya.

Di perjalanan pendek ini saja, aku sudah bertemu banyak orang. Mereka semua sedang melakukan pekerjaan masing-masing dengan semangat. Sungguh Allah menciptakan pagi-pagi yang penuh semangat. Lalu pagi-pagimu bagaimana Kawan ?

Selamat Pagi Tetangga

Masih cerita tentang pagi, saat dimana hidup mulai berjalan. Ada yang pelan sambil menggeliat malas,  ada yang penuh drama, ada pula yang bersemangat. Paginya sama, tapi mungkin tidak sama isinya bagi setiap orang.

Beberapa tetangga saya senang mengisi paginya dengan jalan kaki keliling komplek.  Selepas subuh berjamaah di masjid, jalan pagi dimulai. Kadang berdua, kadang juga hingga berenam. Masih gelap hingga terang. Ada yang berbaju koko, ada yang bersarung, pun juga yang berjaket. Cukup lumayan jarak tempuhnya, sekelilingan bisa sampai 2,5 km dengan rute naik turun. Walau jalan kaki, keringat bisa mengucur.

Ketika pagi makin terang dan jamaah jalan subuh –begitu saya sering menyebut sudah kembali ke rumah masing-masing, satu-dua motor sudah menyusur jalan ke luar komplek. Anak tetangga yang berseragam SMA biasanya sudah berangkat menuntut ilmu. Jarak ke pusat kota memang tidak jauh, tapi lalu lintas padat membuat banyak siswa sekolah harus menembus dingin agar tidak terlambat.

Ini berlaku juga untuk tetangga saya yang anaknya masih di SD tapi sekolahnya di tengah kota sementara kantor ayahnya agak kepinggir. Jadilah setiap pagi, sekitar jam 06.00 Ayah, kakak dan adik sudah siap di atas motor. Karena adik masih kecil, duduk diantara ayah dan kakak. Ibunya mengikatkan kain panjang ke badan ayah dan adik agar tidak jatuh.

Berjarak beberapa rumah dari sana, anak tetangga saya cepat-cepat berlari keluar rumah memanggil penjual roti keliling yang suaranya tidak asing lagi karena setiap pagi berkeliling dengan lagu yang sama dan diwaktu yang sama pula. Pilih-pilih sebentar lalu menyerahkan uang setelah mendapatkan rotinya dan berlari masuk rumah kembali.

Sementara tukang roti melanjutkan berkeliling yang makin lama suaranya makin tidak terdengar karena menjauh, mobil tetangga yang lain pelan berjalan menggelinding untuk membawa penumpangnya menuju tempat kerja. Tetangga yang lainpun susul-menyusul, satu persatu menuju tempat kerja masing-masing. Tersisa suara burung gereja yang mulai bercanda menyambut panas mentari.

Dan saya mulai sarapan setelah capek berkeliling ……

 

Udara pagi

Sudah 2 minggu ini saya mengalami gangguna pernapasan, efek dari flu yang sempat menyerang. Dimulai dengan sakit tenggorokan yang menyebabkan susah menelan makanan disambung rasa panas pada malam hari. Puncaknya yang paling terasa panas ketika bangun tidur. Beruntung ini hanya saya alami 2 malam saja.

Tapi penderitaan bukan kelar, gangguan beralih ke hidung. Lobang kanan mampet! Ambil napas jadi tidak lancar, ngobrol ndak enak. Meler berat, tidur ndak nyaman. Perlu satu jam sebelum bisa tidur pulas karena kelelahan bolak balik badan diatas tempat tidur.

Sudah beberapa tahun ini saya tidak mau mengkonsumsi obat ketika flu menyerang. Alasannya karena memang belum ditemukan obat untuk mengatasinya hingga sekarang. Yang ada hanyalah vitamin untuk meningkatkan daya tahan dan lawan tubuh.  Hingga tubuh mampu melawan penyakit itu dengan kekuatannya sendiri.

Maka saya lebih memilih untuk ‘memaksakan diri’ berolahraga di bawah sinar matahari pagi ketika alarm tubuh sudah menunjukkan ada yang tidak beres. Ketika badan saya fit, sekali  atau dua kali olahraga gejala flu yang terasa akan sudah hilang. Tapi. ketika level fitness menurun, seperti beberapa minggu belakangan ini, maka perlu waktu yang agak panjang untuk menstimulasi tubuh agar mampu melawan.

Dimasa seperti itu, bantuan asupan sehat cukup bermanfaat. Sayur dan buah jadi motor penggerak tubuh untuk menumbuhkan pertahanan yang akan mampu memukul balik penyakit. Selain itu, bantuan udara pagi diperlukan !

Ya, ketika tenggorokan mulai terasa tidak enak atau hidung buntu sebelah, sebisa mungkin ketika bangun tidur saya segera keluar rumah menghirup udara bersih pagi. Sehabis subuh favorit saya, sekitar jam 5-6 pagi. Dengan hanya beberapa tarikan napas, dahak dan ingus bisa dikeluarkan dengan gampang. Tidak perlu pakai obat ataupun ‘kilik-kilik’ hidung hingga bersin.

Murah-meriah dan cespleng …. !