Radio Dan Saya Lagi

Yang ada di bayangan saya sampai sekarang ini bekerja di radio itu enak. Suaranya bisa menyebar ke mana-mana. Di darat, sungai, danau, laut, dan udara.

Semangat hidup bisa ditularkan melalui layanan ini. Jauh sampai ke pelosok. Selama sinyal stasiun radionya sampai. Dan pesawat radionya ada.

Menonton pertandingan sepakbola juga bisa dari radio. Lebih tepatnya mendengarkan. Saya pernah mendengarkannya di Malang.

Seru sekali! Waktu itu Arema sedang bertanding. Penyiar bersiaran langsung dari dalam stadion. Suara atmosfer stadion terkirim sampai ke mana-mana. Gang sempit, di pangkalan becak, lorong pasar, samping masjid, dan kamar kos Saya.

Radio tidak tergantikan. Menurut Saya walaupun ada televisi, dan ada streaming via internet. Radio punya kelebihan tersendiri jika dibandingkan keduanya.

Saat menyetir, saya memilih menikmati hiburan dari radio. Penglihatan masih bisa fokus ke arah jalan sementara pendengaran bisa menerima informasi darinya. Televisi membutuhkan lebih banyak indera untuk menikmatinya. Streaming lagu tidak mengandung informasi apapun.

Saat membaca bukupun saya masih bisa menikmati siaran radio. Untuk buku-buku yang isinya santai seperti kumpulan cerpen atau majalah.

Karena masih ada kebiasaan yang lebih memilih mendengarkan radio dibandingkan dengan yang lainnya, saya merasa radio tidak tergantikan. Setidaknya hingga saat ini.

Karena itu juga Saya tetap menjaga asa ingin masuk siaran radio. Dulu sudah pernah sih. Dua kali. Yang pertama di Radio Khusus Pemerintah Daerah (RKPD) saat unjuk suara bernyari bersama kawan-kawan TK.

Yang kedua kali saat menjawab kuis Piala Dunia di Radio Suara Surabaya melalui sambungan telepon. Kebetulan diangkat dan jawabannya benar berkat Google.

Saya belum tahu bisa masuk siaran radio dengan cara apa kedepannya. Yang pasti, suara cempreng saya bukan modal yang menjual.

Sumber gambar : https://unsplash.com/photos/c1ZN57GfDB0

Masih Tentang Radio Dan Saya

Dulu saya sangat ingin pesawat radio yang punya pilihan gelombang banyak. Mulai dari FM, MW, SW1 sampai dengan SW7. Seru rasanya jika bisa mendengarkan siaran dari stasiun yang jauh.

Pesawat radio yang saya temui kebanyakan hanya MW, AM, dan FM. Stasiun pemancar radionya pun lokal, hanya satu kota tempat tinggal saya.

Maka ketika tetangga kos jaman sekolah dulu mendengarkan radio yang selalu dalam bahasa Inggris, saya jadi penasaran. Kok ada stasiun radio yang tidak berbahasa Indonesia ?

Rupa-rupanya memang dia tidak sedang mendengarkan radio lokal. Waktu itu BBC Australia yang sedang diikutinya. Keren sekali pikir saya.

Melanglang buana ke luar negeri walau lewat suara. Saya jadi berfantasi sedang mengunjungi daerahnya. Walau tidak terlalu paham arti siaran radionya. Saya tidak mampu membedakan itu siaran berita, gosip, ataupun iklan.

Pokoknya siaran pakai bahasa Inggris keren lah. Fantasi saya memang yang berlebihan. Seberlebihannya keinginan punya radio banyak band itu.

Karena sampai sekarangpun saya tidak pernah punya radio yang seperti itu. Keinginan tinggal keinginan.

Sumber gambar : https://unsplash.com/photos/-IHrKW6kWfk

Radio Dan Saya

Radio satu-satunya hiburan saya dulu di kampung. Memang ada TV, tapi lebih sering mati. Sesekali menyala. Yaitu saat Ayah menonton Dunia Dalam Berita. Jam 21:00. Itu pun kadang-kadang.

Waktu itu, radio relatif lebih gampang saya operasikan. Pasang catuan listriknya dan pencet tombol ON Off, suaranya langsung terdengar. Dangdut.

Jenis musik itu yang sering di putar di beberapa stasiun radio swasta AM. Seingat saya cuma ada 2 stasiun swasta waktu itu.

Menemani stasiun negeri, Radio Republik Indonesia (RRI) dan Radio Khusus Pemerintah Daerah (RKPD). Sementara stasiun radio FM baru ada belakangan, akhir 80-an.

Tapi saya tidak hafal nama-namanya. Karena memang juga jarang mendengarkan. Ibu melarang anaknya mendengarkan radio ketika belajar. Mengganggu fokus belajar, menurut beliau.

Maka radio berbentuk kotak warna perak lebih sering tak bersuara. Apalgi saat musim ujian sekolah tiba. Tapi tidak sehening TV. Karena ketika ujian selesai, radio boleh menyala kembali.

Tapi tidak terus menerus dari pagi hingga petang. “Bisa panas,” kata Ibu. Apalagi saat menggunakan catuan listrik. Ibu sangat takut dengan yang satu ini.

Saya pernah meraba bagian belakang dekat pangkal kabel listriknya. Memang lebih panas dari yang lain.

Selain panas, radio ini ada tempat pemutar kasetnya. Tapi lebih sering bikin pita kaset kusut. Kombinasi roda karet dan tuas-tuas dimakan usia yang jadi aktornya.

Sekalinya berhasil memutar kaset bolak-balik (side A dan side B) tanpa kusut saat bapak dapat pembagian kaset kampanye Golkar.

Saya yang waktu itu belum tahu apa itu Golkar bergoyang joget mendengarnya. Masa bodoh dengan maksud pembagian kaset itu ke seluruh PNS.

Saya yakin, sekarang sudah tidak musim lagi. Karena sudah tidak ada radio cassete.

Sumber gambar : https://unsplash.com/photos/8e0EHPUx3Mo